Sabtu, 08 November 2014

Paragraf Italic

Pemikiran-pemikiran fiktif mulai bergelantungan di ujung jariku yang tak begitu lentik, hingga baris-baris ini pun muncul begitu saja di layar ponsel kecil yang berada di hadapanku malam itu. Yah, memang ketika otak sedang merasa tertekan biasanya muncul imaji-imaji yang semakin mengacau. Mungkin sedikit imaji itu tergambar dalam paragraf-paragraf berhuruf Italic berikut ini.

*
 
Aku tak tahu pasti kapan aku mulai membangun ruang untukmu di kepalaku. Aku pun tak yakin seberapa kuat pondasi itu tertanam di otakku yang sudah penuh liku ini. Yang nyata, semenjak cengkerama singkat waktu itu telah berhasil membuat mesin pengingat di otakku bekerja setiap hari untuk mencitrakan pikiran tentangmu, barang sedetik saja dan akan sekejap memciptakan kejutan kecil di hatiku.

Aku tahu, menulis seperti ini adalah hal yang pasti akan menjadikanmu berubah. Entah itu berubah menjadi searah atau berlawanan arah dengan pikiranku. Hanya saja, saat ini aku hanya ingin kau membacanya, bahwa sudah sangat lama sejak terakhir kali aku merasakan hal seperti ini. Merasakan panasnya api yang kali ini menyala karena percikan pemantik kecil yang ada di tanganmu. Namun aku terlalu takut untuk mendekat, aku tak sanggup, bahkan untuk sekedar menikmati hangatnya. Hujan sudah menggantung di atas sana. Kapan saja rintiknya akan jatuh melenyapkan kehangatan itu dan hanya akan meninggalkanku bersama keresahan tentangmu.