Tanggal
5 Mei 2014 lalu, aku bertemu dengan teman lamaku waktu SMA dulu di sebuah
tempat jajan di Jogja. Sebelumnya aku mengetahui bahwa ia dan dua orang teman
SMAku yang lain akan melakukan pendakian di Gunung Merbabu di hari Jumatnya,
tanggal 9 Mei 2014, maka dari itu, aku tanyakan saja tentang hal itu sebagai bahan
pembicaraan. Dan seperti yang sudah kuperkirakan, aku diajak serta. Namun,
karena di akhir pekan minggu tersebut aku ada kegiatan lain, jadi aku menolak.
Oke, kuanggap obrolan itu sudah selesai ketika temanku itu pergi.
***
Tanggal
8 Mei 2014, saat itu sudah dapat dikatakan malam hari. Karena beberapa hari
yang lalu aku baru bertemu teman lamaku, yaa untuk mempererat silaturahmi aku
mem-BBM dia sekedar iseng menanyakan pendakian yang akan dilancarkan besoknya,
dan iya aku diajak lagi dan aku menolak lagi karena alasan terlalu mendadak
jika ikut.
Saat
itu aku memasang display picture
sebuah screen capture lirik lagu
legendaries, yaitu I Don’t Wanna Miss A
Thing yang dinyanyikan oleh Aerosmith. Seorang teman tiba-tiba mengomentari
display pictureku dan kemudian
ngobrol tentang film Armageddon
sejenak. Kemudian tiba-tiba ia bilang, “Tanggal 10 badhe nderek Merbabu?” ini
adalah ajakan kedua, dan lagi-lagi harus kembali kutolak dengan alasan terlalu
mendadak.
Dengan
sangat menyesal aku menyiakan kedua ajakan itu, dan akhirnya aku meng-update status di BBM begini, “Dua ajakan melayang sudah *dadah2 ke puncak
Merbabu :’)*”. Beberapa menit setelah aku update status, teman SMAku –bukan yang aku temui di tempat jajan
tadi— yang ikut mendaki juga pada hari Jumat mengompor-ngompori untuk ikut serta. Kali ini alasan-alasan
penolakanku tak berlaku, dan akhirnya aku diundang ke sebuah group chat yang berisi tiga teman SMAku
yang akan mendaki pada hari Jumat itu –pada waktu itu, hari Jumat adalah besok—
dan semuanya sama saja, membujukku supaya ikut dengan alasan jumlah mereka yang
ganjil lah, biar rame lah, dan lain-lain lah pokoknya sehingga pada akhirnya aku memutuskan untuk ikut.
Keputusan “iya” tentunya aku berikan karena aku langsung meminta izin ke kedua
orang tuaku yang mungkin malam itu sudah tidur dan terbangun karena SMSku yang begitu mendadak itu. Walaupun
pada awalnya tidak mengizinkan, namun dengan sedikit rengekan berhasil membuat
ayahku mengiyakan dengan syarat dan ketentuan berlaku. Yak dan saat itu jam menunjukkan
pergantian hari. Keputusan yang agak gila, bukan? Tak ada persiapan yang jauh,
perempuan berparu-paru lemah dan langka olah raga seperti aku bisa mengiyakan
pendakian yang “nggak main-main”. He he he…
Oke.
Setelah mengiyakan ajakan tadi, aku langsung kelabakan menyiapkan segala
keperluan untuk hari Jumat itu. Beruntung adik-adik rumah sewa baru pada pulang
dan bersedia meminjami beberapa kebutuhan untuk mendaki. Agak tenang dan aku
harus segera tidur.
***
Paginya,
aku masih berusaha mencari kebutuhan yang lain, yang utama adalah alas kaki.
Beruntung lagi dan lagi, seorang teman berbaik hati mengantarkan sandal gunung
dari kampong untuk aku pinjam. Kemudian aku segera menghubungi seorang kakak
yang serumah sewa juga denganku –note: dia sudah berpengalaman naik gunung—
untuk menanyakan list bekal yang
harus dipersiapkan. Dengan panjang dia menjelaskan dari A-Z melalui media chat karena sedang berada di kampung
halaman. Setelah itu langsung kubuat check-list
untuk memastikan nantinya tidak ada yang terlupa. Daaaan…jelang waktu
Dzuhur aku sudah siap. Kemudian tiba-tiba hujan turun, sekejap kemudian aku
berekspektasi macam-macam jika waktu pendakian nanti masih saja hujan. Namun,
syukut Alhamdulillah tak lama kemudian hujan pun reda.
Menjelang
jam 2 siang, aku dijemput salah satu temanku untuk menyewa beberapa peralatan
yang belum tersedia di salah satu tempat persewaan outdoor gear di dekat kampus dan kemudian berkumpul dahulu di rumah
sewa temanku itu bersama teman yang lain. Sesampainya di sana, jengjeeeeng..ternyata nambah dua orang
personel lagi, dan ini benar-benar fix
aku adalah satu-satunya personel perempuan di pendakian ini –awalnya sih sudah
mengajak salah satu teman perempuan lagi, tapi batal karena dia akan menjalani
ujian di hari Senin—. Setelah sekitar setengah jam packing, kami berenam berangkat dari Yogyakarta menuju Boyolali,
Jawa Tengah dengan berbonceng-boncengan menggunakan sepeda motor dengan harapan
hujan tak akan menyiram kami di jalan.
Ada
cerita yang menggelitik ketika kami mampir di salah satu mini market waralaba
di daerah Palagan. Salah satu temanku hendak membayar untuk beberapa botol air
mineral, dua kali uangya –selembar seratus ribuan dan lima puluh ribuan— ditolak
oleh kasir karena lecek dan diduga
palsu. Namun, akhirnya diterima –yang lima puluh ribuan— karena temanku bilang
tidak jadi beli kalau uangnya ditolak lagi.
 |
| Narsis dikit di depan mini market daerah Palagan |
Oke,
kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Boyolali. Setelah sekitar 2/3 jam,
kami memasuki kawasan Selo. Oh iya, memang dari awal kami sudah merencanakan
untuk mendaki Merbabu melalui jalur Selo, Boyolali. Daaaaan, ternyata tidak ada
satupun di antara kami yang pernah ke sini. Bermodalkan tanya sana sini dan
sempat agak berdebat juga, akhirnya sekitar pukul 17.00 kami tiba di basecamp pendakian Merbabu milik Pak
Narto. Kemudian kami melakukan isoma
sebelum melakukan pendakian ke Gunung Merbabu.
 |
| Memasuki kawasan Selo, saat bertanya di salah satu rumah warga. |
Hari
sudah gelap, dan kami memutuskan untuk berangkat naik. Kurang lebih jam 6
petang waktu setempat, kami melakukan briefing
dan pemanasan sedikit sebelum berangkat. Dan tak lupa, kami berfoto dulu
sebelum berangkat.
 |
| Narsis dulu di depan basecamp Pak Narto, sebelum pendakian. |
Oh
iya, biar aku perkenalkan dulu personel pendakian ini. Berdasarkan foto di
atas, yang paling tinggi dan botak adalah Denza, sebelahnya dan yang di
belakang adalah personel tambahan yang di awal aku tidak mengenali namanya
namun setelah diperjalanan aku mengetahui namanya adalah Bobby –sebelah kananku—dan
Bayu –yang di belakang—. Sebelah kiriku Dimas, dan yang jongkok memeluk tas
adalah Apen –kedua tambahan personel tadi adalah temannya—. Kunamai tim kami The Godhong Mlinjo Team. Karena yel-yel tos
kami adalah “Godhong mlinjo arane??
SOOOO!!” he he he…agak garing tapi ya itulah.
Kami
berenam berjalan perlahan memasuki gerbang pendakian. Dan seperti ekspektasiku
di awal, tas yang begitu berat karena 3 liter air membuatku sangat payah
padahal baru berjalan beberapa langkah dari gerbang masuk. Kemudian para
laki-laki strong memutuskan untuk
mengambil air di dalam tasku untuk dipindahkan ke tas mereka dan ada satu yang
ditenteng agar mudah saat kehausan nanti. Perjalanan kami lanjutkan kembali.
Seperti cerita-cerita pendakian yang laln, salah satu temanku yang sudah berpengalaman
mendaki gunung mengatakan agar semuanya tidak ragu untuk mengatakan jika merasa
lelah atau butuh menghela nafas. Dan benar saja, di antara mereka aku yang
paling rewel, he he he… Baru beberapa meter dari transaksi botol air tadi, aku
minta break. Nafas memang terasa
berat karena kabut dan kami berebut oksigen dengan pepohonan di sana. Kemudian
dengan inisiatif, Denza menawarkan diri untuk membawakan tasku –yang menurutku
lumayan berat untuk ukuranku—. Dengan sedikit tak enak hati aku memberikan
tasku padanya. “Wah, lha malah dadi
seimbang ki aku nggendong tas ngarep-mburi,” celetuk Denza saat kami kembali
melanjutkan perjalanan. Kami berjalan kembali sambil mencari ranting-ranting
untuk pegangan dan untuk membuat api unggun saat ngecamp nanti.
Karena
sering berhenti, estimasi waktu menuju Pos 1 yang tadinya sekitar satu jam
menjadi sekitar dua jam kami baru mencapai Pos 1. Di Pos 1 kami bertemu dengan
sekelompok pendaki. Setelah sedikit berkenalan –walaupun tidak memperkenalkan
nama, hanya menyebutkan daerah asal kami masing-masing—salah satu dari mereka
bercerita berbagi pengalaman mendaki dan menunjukkan jalur yang nyaman untuk
menuju pos selanjutnya.
Oh
iya, ada istilah keren dalam perjalanan kami. Jalan yang lurus –bukan tanjakan
maupun turunan—kami menyebutnya sebagai ‘bonus’. Dan ketika kami break dan menemukan tempat istirahat yang nyaman,
salah satu teman menyebut-nyebut “Wah,
sofane empuk tenan,” he he he.. lucu, bukan? Dan sangat menyenangkan jika
kami bertemu dengan pendaki lain. Saling menyapa dan menyemangati, itu salah
satu suntikan energi yang cukup berarti, walaupun tak saling mengenal.
Setelah
berjalan cukup jauh, kami tiba di Pos 2. Aku tak ingat lagi waktu menunjukkan
pukul berapa. Mungkin sudah mendekati pukul Sembilan malam. Kami berhenti untuk
break lagi beberapa menit untuk minum
dan sedikit bercengkerama. Kemudian kami lanjut naik lagi dan bertemu dengan beberapa
pendaki yang sedang menghidupkan api unggun untuk menghangatkan diri sejenak.
Sekedar menyapa dan bertanya, para pendaki itu mengatakan bahwa di situ adalah
Pos 3. Tapi kami tidak melihat adanya papan atau tanda yang menunjukkan bahwa
itu Pos 3. Namun, kami memutuskan untuk istirahat sejenak untuk membuka bekal
kami dan menyedu minuman –mumpung sudah ada api yang menyala—. Setelah cukup
menghangatkan diri, melanjutkan perjalanan kembali karena kami yakin itu
bukanlah Pos 3 yang sesungguhnya. Dimas dan Apen memutuskan untuk jalan
mendahului untuk menemukan Pos 3 agar mereka bisa segera mendirikan tenda dan
menyalakan api unggun untuk ngecamp di
sana.
Beberapa
langkah meninggalkan tempat sebelumnya, tiba-tiba aku terserang kedinginan yang
dahsyat. Sampai-sampai ujung jari tangan dan kakiku tak terasa lagi. Kemudian,
Bobby menyuruhku untuk menggunakan melapisi lagi kaos kakiku dan memakai jaket double. Karena jaket cadangan yang
kubawa sangat ribet untuk dipakai, Bobby meminjamiku jaket miliknya beserta
syal untuk leher agar lebih hangat lagi. Setelah berjalan dengan kepayahan dan
kedinginan, kami akhirnya menemukan lokasi untuk mendirikan tenda. Namun, kami
tidak menemukan adanya tanda-tanda yang menunjukkan bahwa itu adalah Pos 3.
Tapi, karena sudah merasa kelelahan dan kelaparan, kami memutuskan untuk
mendirikan tenda di situ.
Setelah
dua tenda berdiri, kami berenam menghangatkan diri di dekat api unggun sembari
menyedu minuman hangat, memasak mie instan, dan berbagi bekal masing-masing.
Jelang tengah malam, kami memutuskan untuk tidur untuk menimbun energi agar
bisa melanjutkan perjalanan kembali.
Ada
cerita menggelitik lagi. Karena baru ingat kalau melewatkan sholat Maghrib dan
Isya’, sebelum tidur aku melaksanakan sholat jamak takhir terlebih dahulu. Setelah
melakukan tayamum, aku memulai sholat di atas matras yang sudah digelar dan
digunakan sholat terlebih dahulu oleh Dimas. Setelah selesai melakukan sholat
Maghrib, tiba-tiba Dimas menyeletuk bahwa arah sholatku salah. Sontak aku
membalik arah sholatku dan menyelesaikan ibadah dengan agak tidak khusyuk
karena kagol arah sholat dan hawa
dingin yang dahsyat. Nah, baru setelah meninggalkan tempat ngecamp itu aku menyadari bahwa setelah berbalik arah pun, arah
sholatku pada waktu malam harinya masih saja melenceng. Yah, namanya juga
manusia, serba tidak tahu. He he he…
Pukul
03.00, tenda milik Bobby dan Bayu sudah ringkas dan dimasukkan ke dalam tas.
Setelah berunding beberapa saat, daripada menunggu tenda satunya dirapikan,
Bobby dan Bayu memutuskan untuk naik terlebih dahulu dan menunggu kami –sisanya—di
puncak Merbabu. Setelah kepergian Bobby dan Bayu, kami memutuskan untuk menyedu
minuman terlebih dahulu. Namun, aku hanya tiduran di matras sambil menikmati
bintang-bintang yang terlihat lebih dekat dari biasanya. Beberapa kali aku
melihat bintang beralih di sana. Amazing!
Seperti sedang berada di dalam planetarium.
Setelah
mengemasi barang, tepat pukul 05.00 kami memutuskan untuk naik. Namun, beberapa
langkah dari tempat mendirikan tenda tadi, aku merasa sangat payah dan sekejap
kemudian merasa desperate bisa
melanjutkan perjalanan lagi atau tidak. Akhirnya, kami berempat memutuskan
untuk menanti sunrise di situ sembari
memakan bekal karena mereka tahu aku sama sekali belum makan setelah bangun
tidur tadi, makanya tidak kuat naik.
Sunrise pun datang. Kami keranjingan
foto-foto ria bersama sang mentari 10 Mei 2014. Berikut beberapa hasil jepretan
kami. Indah, bukan?
 |
| Matahari 10 Mei 2014 |
Setelah
matahari cukup terang, kami berkemas dan melanjutkan perjalanan naik lagi. Tiga
laki-laki yang bersamaku menyemangatiku tiada henti. Mereka menyuruhku untuk
naik duluan agar bisa istirahat lebih lama jika kami break. Setelah beberapa lama melangkah melalui medan yang makin
sulit, kami tiba di tempat yang kami duga sebelumnya adalah Sabana 1 (Pos 4).
Ternyata tempat itu adalah Pos yang pada rencana awal akan menjadi tempat ngecamp kami, Pos 3! Tapi kami bersyukur
tidak jadi mendirikan tenda di situ, karena tempatnya sangat terbuka dan
anginnya begitu kencang.
Sekejap
kemudian, Dimas menunjukkan jalur menuju Pos 4 yang sebenarnya. Aku hanya bisa
mengangakan mulut. Di depan mata terpampang track
yang amat menanjak dari sebelumnya. Lagi-lagi aku merasa desperate, dan ketiga laki-laki ini
kembali menyemangatiku. Dengan tak henti-hentinya berdoa, aku meyakinkan diri
untuk melaluinya. Dan kami berangkat dengan penuh semangat melalui track tersebut.
Semakin
ke atas, jalan yang dilalui semakin terjal. Bahkan kemiringannya mencapai 450,
mungkin bisa lebih. Takut ketinggian, ya itu aku. Ketiga laki-laki ini
melarangku untuk menoleh ke bawah hingga kami menemukan lokasi yang nyaman
untuk duduk beristirahat dan sedikit bernarsis ria.
 |
| Belum terlalu nanjak nih, jadi bisa narsis berempat dengan modus timer. |
 |
| Dimas (kiri) dan Denza (kanan) |
 |
| Selfie bersama Apen. Gagal paham lah sama senyum kami ini. He he.. |
 |
| Gunung Merapi yang tampak amazing dalam perjalanan menuju Sabana 1. |
 |
| My Heroes! :D |
 |
| Ini kakiku. Lihat, tenda-tenda di Pos 3 itu tampak seperti miniatur hotel monopoli. |
 |
| Cukup miring, bukan? |
Setelah
tanjakan yang terjal, kami menemukan tanah lapang yang agak luas, ada dua tenda
berdiri di situ. Kami beristirahat dan berfoto-foto di lokasi tersebut. Namun,
perjuangan kami belumlah usai. Pos 4 masih berlokasi di setelah-satu-tanjakan-panjang-dan-terjal
lagi.
 |
| Panorama: Gunung Merapi (kiri) dan Gunung Sumbing (tampak kecil di kanan) |
 |
| Timer mode lagi! Pantatnya dekil-dekil, ha ha ha... |
 |
| Ketemu sama Dandelion! Ini hasil memotret dengan very-low-angel dengan posisi tiduran sampai-sampai dikira pingsan. |
 |
| Seorang teman berkomentar pada foto ini: "Dandelion: di mana aku jatuh, di situ aku tumbuh," |
 |
| Bunga Edelweis! Pertama kalinya lihat bunga ini versi seger! |
Di tanjakan terakhir menuju Sabana 1, aku bertemu bule –memang ada banyak
pendaki asing yang melakukan pendakian di gunung Merbabu— yang seolah-olah
berkata “Welcome to Sabana 1!”.
Setelah meletakkan tas dan mengatur napas, aku melihat-lihat pemandangan indah
di sekitar Sabana 1, banyak yang ngecamp
di situ.
Sangat
disayangkan, perjalananku berakhir di Sabana 1. Kenapa? Di situ aku sudah merasakan
paru-paruku yang kembali kambuh infeksinya. Akhirnya, ketiga laki-laki yang
bersamaku memutuskan untuk mendirikan tenda untukku agar aku bisa tidur sembari
menunggu mereka muncak. Dengan berat
hati aku menerima keputusan itu. Yah, daripada aku pingsan di jalan dan
merepotkan yang lainnya.
Setelah
memasak dan makan mie instan serta menyeduh minuman, Dimas, Denza, dan Apen
bersiap untuk berangkat. Mereka meninggalkan carrier-carrier besar mereka di dalam tenda dan membawa perbekalan
secukupnya dengan tas slempang kecil milik Dimas, dan tak lupa kamera untuk
berfoto di puncak nanti. Tepat pukul 09.00 mereka berangkat, dan aku beranjak
ke peraduan di dalam tenda, he he he…
Lima
jam mereka meninggalkan aku sendirian di tenda, dan aku hanya bisa menyimak
cerita-cerita pendaki lain yang ngecamp di
situ juga yang sedang bercerita satu sama lain. Sekitar jam 2 lebih, aku
mendengar suara Denza memanggilku. Mereka sudah kembali dan segera saja
mengatakan bahwa memang seharusnya aku tidak serta mendaki ke puncak. Mereka
yang laki-laki saja sudah hampir pingsan kepayahan, apalagi jika aku ikut.
 |
| Puncak Merbabu, 3145 mdpl. Semoga suatu saat aku mencapaimu. |
Setelah
makan mie instan yang tersisa dan beristirahat sejenak, kami berkemas dan pukul
15.00 tepat kami memutuskan untuk turun. Jalur yang tadinya menanjak terjal,
kiri menjadi turunan yang sangat curam. Aku tak lagi berani menegakkan kakiku
dan memutuskan untuk perosotan menuruni jalur yang curam menuju Pos 3. Kali ini,
tas yang tadinya dibawakan oleh Denza kubawa sendiri karena sudah terasa lebih ringan
saat kami turun. Setelah berperosotan ria –sampai-sampai menghambat pendaki
yang akan naik, he he he..— kami sampai di Pos 3. Kami sudah kehabisan
perbekalan, hanya tinggal air mineral yang tersisa. Kami mengejar waktu agar
sampai di basecamp tidak terlalu
malam, jadi kami tidak terlalu banyak break
pada saat turun.
Saat
turun, kami melihat pemandangan yang berbeda dengan segala kegelapan yang kami
lihat pada saat naik. Lelahnya pun berbeda. Pada saat naik, napaslah yang
membuat kewalahan, namun pada saat turun, betis yang terasa sakitnya karena
menahan beban pada saat melangkah turun.
Memang
benar, estimasi waktu untuk turun gunung diperkirakan hanya setengah waktu
naik. Benar saja, kami tiba kembali di basecamp
Pak Narto pukul 19.30. Bahkan hanya seperempat dari lama waktu naik. Di basecamp kami berkumpul kembali bersama
Bobby dan Bayu yang menunggu kami di basecamp
karena tidak berhasil menemukan tenda di mana aku tidur pada saat di Sabana
1.
 |
| Nasi telur dan teh hangat ala basecamp Pak Narto, yang paling ditunggu saat perjalanan menuruni Gunung Merbabu. |
Kami
beristirahat, makan, bercengkerama, dan tidur sejenak. Ketika terbangun, aku
menyusul Dimas, Bobby, dan Bayu yang ternyata sedang menghangatkan diri di
sekitar tungku di dapur istri Pak Narto. Setelah duduk di dipan dekat tungku, ada kejadian unik di tengah dinginnya hawa Selo.
Aku dan Dimas takjub melihat istri Pak Narto mencuci piring menggunakan air
mendidih di atas tungku yang menyala. “Mboten
panas nopo, Bu?” Celetuk Dimas. “Mboten
mas, anget kok,” Ibu itu menjawab dengan ceria.
Setelah
semuanya terbangun, kami memutuskan untuk pulang setelah sebelumnya Pak Narto
menyarankan kami untuk pulang keesokan harinya saja. Setelah motor dipanaskan,
kami berenam pulang melalui jalur yang kami anggap cepat. Di tengah perjalanan,
masih di kawasan Selo, persediaan bensin kami menipis, sedangkan semua warung
penjual bensin sudah terlelap dalam gelap dan dinginnya Selo. Willy nilly, Bobby dengan inisiatifnya
mengetuk warung-warung, berharap ada yang masih terjaga pada jam itu. Setelah
kurang lebih mengetuk lima warung, akhirnya ada satu warung yang bersedia
membukakan pintu untuk dilarisi bensinnya.
Akhirnya,
kami tiba kembali di rumah sewa Dimas tepat tengah malam. Setelah beristirahat
sejenak sambil menyeduh minuman hangat dan bercengekrama sejenak, kami pulang
ke rumah sewa masing-masing, mengingat semua dari kami masih punya agenda di
hari Minggu terang, walaupun pada akhirnya semuanya batal. He he he…
***
Ternyata cerita 09-10 Mei 2014 menyita cukup banyak tempat di blog ini. He he he... Oke,
setelah sekian lama akhirnya aku merasakan dahsyatnya pendakian gunung yang
sesungguhnya. Tanpa persiapan pula! Namun, kata ketiga teman laki-lakiku itu,
sudah hebat aku yang tanpa persiapan fisik apapun bisa mendaki Gunung Merbabu
walaupun tidak sampai ke puncak.
Kapok?
Tentu saja tidak. Malahan aku menunggu ajakan lain setelah kesakitan di kakiku
ini sudah hilang. Tentunya dengan persiapan yang sungguh-sungguh.