Selasa, 27 Mei 2014

Sewindu

     27 Mei 2014 ini bener-bener hari yang memorial banget. Tiga peristiwa besar diperingati pada tanggal itu. Yang pertama, peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad saw, yang mana pada peristiwa itu Nabi Besar kita mendapatkan perintah untuk menunaikan sholat lima waktu sehari semalam. Yang kedua, tanggal tersebut merupakan peringatan hari kelahiran tanah kelahiranku, Gunungkidul, yang ke-183 yang diperingati dengan serangkaian acara yang bertajuk Green and Great. Yang ketiga, peringatan sewindu gempa Yogyakarta. 
     Nah, kali ini aku ingin menggali sisa-sisa ingatanku tentang peristiwa ketiga, tentang gempa dahsyat yang menimpa Yogyakarta sewindu yang lalu --terhitung mulai hari ini--. Walaupun hitungannya Gunungkidul tidak separah daerah Bantul maupun kabupaten-kabupaten yang lain, gempa 27 Mei 2006 silam tetaplah membekas bagi para warga Gunungkidul. Jadi, begini ceritanya.
***
     Hari Sabtu, 27 Mei 2006, saat itu masih sangat teringat bahwa aku sedang libur usai menjalani UN SMP dan sedang menunggu pengumuman kelulusan. Biasanya, jika sedang libur, aku selalu memanfaatkannya untuk bangun siang dan bermalas-malasan. Tapi hari itu berbeda, karena sedang keranjingan bermain game di laptop baru aku bangun sedikit lebih pagi dari biasanya untuk sekedar bermain dan mengotak-atik laptop baru itu. Seingatku waktu masih menunjukkan pukul 05.30 pagi di hari itu. Saking asyiknya bermain laptop, bapakku yang sedang wira-wiri bersiap untuk ngantor pun terabaikan. 
     Jelang pukul enam pagi, tiba-tiba saja aku mendengar suara gemuruh dan sekejap kemudian getaran yang amat dahsyat terasa mengguncang kursi plastik yang aku duduki. Karena aku tak segera menyadari untuk berlari, bapakku langsung menyeretku keluar kamar sambil berteriak "Gek ayo mlayu!"  Kami berlari menuju pintu depan --karena itu pintu terdekat dari posisi kami-- dan gagal membuka kunci pintu karena guncangan yang sangat kuat. Langsung kemudian bapakku menarikku untuk berlari lewat belakang rumah. Saat itu hampir saja sepotong genteng oranye menjatuhi kepalaku, namun beruntung tidak mengenaiku. 
     Semua tetangga memenuhi jalan setapak di sekitar rumah. Getaran itu adalah yang terlama yang pernah kualami, saat itu belum diketahui seberapa lama dan seberapa kuat getaran itu terjadi. Di luar, langsung aku menangis karena ketakutan sambil memeluk punggung bapakku, namun segera terhenti setelah mendapat cibiran dari anak kos sebelah rumah. Kakakku yang saat itu masih tertidur pulas pun terbangun namun ia keluar rumah setelah gempa berhenti. Entah apa alasannya pada waktu itu, mungkin ingatanku tentang itu masih belum muncul lagi. Kemudian kami sekeluarga kebingungan bagaimana mengeluarkan almh. nenekku --sekarang sudah berada di Rahmatullah-- yang terbaring sakit di tempat tidur. Saat itu nenekku sudah tidak bisa beranjak dari tempat tidur, sekalipun bisa itu dengan bantuan orang lain --dipapah atau digendong--.
     Setelah kejadian itu, keluargaku dan tetangga-tetanggaku bersiaga selalu di pelataran rumah. Ada yang sibuk memindahkan mobil-mobil di tanah lapang, ada yang mendengarkan siaran radio untuk memantau update-update terbaru tentang gempa --saat itu radio tua milik bapakku selalu manjer siaran dari RRI-- yang tak berapa lama setelah kejadian diumumkan bahwa kekuatan gempa mencapai 5,9SR selama 57 detik, ada yang berusaha menghubungi sanak saudara walaupun pada saat itu jaringan benar-benar menjadi kacau, ada pula yang berkumpul di satu titik strategis saling berbagi cerita saat gempa terjadi.
    Beberapa kali gempa susulan datang. Pada saat gempa susulan yang entah ke berapa, teriakan minta tolong dari dalam rumah tetanggaku. Ternyata tetanggaku, sebut saja Pak SS, terjatuh dari atap rumah. Beliau dipapah keluar rumahnya dan terlihat darah-darah menetes dari tubuhnya. Segera saja dengan sigap tetanggaku yang lain menyiapkan mobil dan Pak SS dilarikan ke rumah sakit. Alhamdulillah, beliau terselamatkan dan hingga tulisan ini terbit beliau dalam keadaan InsyaAllah sehat walafiat. 
     Isu-isu tak bertanggung jawab mulai bermunculan, salah satunya adalah isu terjadinya Tsunami. Isu yang tak bertanggung jawab itu pun sedikit banyak sudah membuat warga sekitar rumahku --termasuk keluargaku-- panik dan lebih berwaspada untuk segera beranjak ketika Tsunami itu benar-benar datang. Namun, berita hoax itu tak menunjukkan kebenarannya. 
     Dua malam keluargaku dan tetangga-tetangga yang lain  tidur di teras rumah masing-masing. Kemudian, keluargaku memutuskan untuk kembali ke dalam rumah dengan siaga dan berdoa agar tidak ada gempa susulan lagi. Siaran televisi pun selalu diarahkan ke sumber-sumber update tentang bencana yang terjadi. Dari televisi kami melihat betapa agungnya kekuatan Allah swt untuk memperingatkan umatnya. Getaran 5,9SR dalam waktu 57 detik dapat meluluhlantakkan Yogyakarta.
     Trauma, tentu saja. Sampai-sampai suara tikus yang berlarian di atas langit-langit rumah bisa membuat sekeluargaku sekejap menghambur keluar rumah. Hingga saat ini pun, ketakutan yang amat sangat masih menyelimuti ketika tanah Jogja kembali merasakan guncangan gempa, meskipun tak sehebat saat itu.
     Selepas kejadian itu, banyak sekali bala bantuan tertuju untuk membangkitkan kembali Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai dari bantuan material maupun spiritual. Wilayah kami pun tak luput dari bantuan-bantuan itu. Ada satu yang agak menggelitik dari ini. Ibuku --mungkin juga yang lain-- selalu menamai bantuan makanan yang datang dengan embel-embel gempa, misalnya roti gempa, mie gempa, susu gempa, dan sebagainya, dikarenakan merk-merk yang diberikan agaknya sedikit asing di mata kami.
***
     Mungkin hanya sedikit saja memori yang dapat kuceritakan di laman ini. Tak henti doa untuk para korban jiwa di peristiwa ini, semoga keluarga yang ditinggalkan semakin tabah dan ikhlas, karena ini semua adalah cobaan dari Allah swt. Dari sedikit memori ini, diharapkan pula dapat selalu menjadi pengingat bahwa kekuatan Allah swt adalah mahadahsyat dan tidak ada keraguan di dalamnya. Kita sebagai umat-Nya, haruslah bercermin diri dari peristiwa itu untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan diri kepada Allah swt.

Jumat, 23 Mei 2014

Bolehkah?


Bolehkah kau kusebut mimpi? Aku sudah mempersiapkan jawaban jika nanti kau mengucapkan kata tanya "mengapa". 
Jawabannya ada pada kehadiranmu yang aku pun tak bisa menyadari apakah aku sedang terjaga ataukah sedang terbuai dalam pelukan mimpi. Di antara keduanya, mungkin aku lebih memilih jika kau hadir hanya dalam mimpi saja, karena aku akan segera diselamatkan oleh hadirnya pagi dan akan segera melupakanmu sebelum kau hadir kembali dalam mimpi-mimpi selanjutnya.
Aku tak pernah mempertanyakan soal kehadiranmu itu. Aku selalu menganggapnya sebagai salah satu permainan yang dilancarkan oleh pikiranku sendiri. Ya, seperti biasa, karena aku memang suka bermain-main dengan pikiranku sendiri. Aku bisa bahagia bahkan menangis miris karenanya. Jadi akan kubiarkan saja, sampai nanti kau sendiri yang memilih, untuk tinggal atau pergi.

Rabu, 21 Mei 2014

Jelajah: Gunung Merbabu (3145 mdpl)



Tanggal 5 Mei 2014 lalu, aku bertemu dengan teman lamaku waktu SMA dulu di sebuah tempat jajan di Jogja. Sebelumnya aku mengetahui bahwa ia dan dua orang teman SMAku yang lain akan melakukan pendakian di Gunung Merbabu di hari Jumatnya, tanggal 9 Mei 2014, maka dari itu, aku tanyakan saja tentang hal itu sebagai bahan pembicaraan. Dan seperti yang sudah kuperkirakan, aku diajak serta. Namun, karena di akhir pekan minggu tersebut aku ada kegiatan lain, jadi aku menolak. Oke, kuanggap obrolan itu sudah selesai ketika temanku itu pergi.
***

 Tanggal 8 Mei 2014, saat itu sudah dapat dikatakan malam hari. Karena beberapa hari yang lalu aku baru bertemu teman lamaku, yaa untuk mempererat silaturahmi aku mem-BBM dia sekedar iseng menanyakan pendakian yang akan dilancarkan besoknya, dan iya aku diajak lagi dan aku menolak lagi karena alasan terlalu mendadak jika ikut.
Saat itu aku memasang display picture sebuah screen capture lirik lagu legendaries, yaitu I Don’t Wanna Miss A Thing yang dinyanyikan oleh Aerosmith. Seorang teman tiba-tiba mengomentari display pictureku dan kemudian ngobrol tentang film Armageddon sejenak. Kemudian tiba-tiba ia bilang, “Tanggal 10 badhe nderek Merbabu?” ini adalah ajakan kedua, dan lagi-lagi harus kembali kutolak dengan alasan terlalu mendadak.
Dengan sangat menyesal aku menyiakan kedua ajakan itu, dan akhirnya aku meng-update status di BBM begini, “Dua ajakan melayang sudah *dadah2 ke puncak Merbabu :’)*”. Beberapa menit setelah aku update status, teman SMAku –bukan yang aku temui di tempat jajan tadi— yang ikut mendaki juga pada hari Jumat mengompor-ngompori untuk ikut serta. Kali ini alasan-alasan penolakanku tak berlaku, dan akhirnya aku diundang ke sebuah group chat yang berisi tiga teman SMAku yang akan mendaki pada hari Jumat itu –pada waktu itu, hari Jumat adalah besok— dan semuanya sama saja, membujukku supaya ikut dengan alasan jumlah mereka yang ganjil lah, biar rame lah, dan lain-lain lah pokoknya sehingga pada akhirnya aku memutuskan untuk ikut. Keputusan “iya” tentunya aku berikan karena aku langsung meminta izin ke kedua orang tuaku yang mungkin malam itu sudah tidur dan terbangun karena SMSku yang begitu mendadak itu. Walaupun pada awalnya tidak mengizinkan, namun dengan sedikit rengekan berhasil membuat ayahku mengiyakan dengan syarat dan ketentuan berlaku. Yak dan saat itu jam menunjukkan pergantian hari. Keputusan yang agak gila, bukan? Tak ada persiapan yang jauh, perempuan berparu-paru lemah dan langka olah raga seperti aku bisa mengiyakan pendakian yang “nggak main-main”. He he he…
Oke. Setelah mengiyakan ajakan tadi, aku langsung kelabakan menyiapkan segala keperluan untuk hari Jumat itu. Beruntung adik-adik rumah sewa baru pada pulang dan bersedia meminjami beberapa kebutuhan untuk mendaki. Agak tenang dan aku harus segera tidur.
***
Paginya, aku masih berusaha mencari kebutuhan yang lain, yang utama adalah alas kaki. Beruntung lagi dan lagi, seorang teman berbaik hati mengantarkan sandal gunung dari kampong untuk aku pinjam. Kemudian aku segera menghubungi seorang kakak yang serumah sewa juga denganku –note: dia sudah berpengalaman naik gunung— untuk menanyakan list bekal yang harus dipersiapkan. Dengan panjang dia menjelaskan dari A-Z melalui media chat karena sedang berada di kampung halaman. Setelah itu langsung kubuat check-list untuk memastikan nantinya tidak ada yang terlupa. Daaaan…jelang waktu Dzuhur aku sudah siap. Kemudian tiba-tiba hujan turun, sekejap kemudian aku berekspektasi macam-macam jika waktu pendakian nanti masih saja hujan. Namun, syukut Alhamdulillah tak lama kemudian hujan pun reda.
Menjelang jam 2 siang, aku dijemput salah satu temanku untuk menyewa beberapa peralatan yang belum tersedia di salah satu tempat persewaan outdoor gear di dekat kampus dan kemudian berkumpul dahulu di rumah sewa temanku itu bersama teman yang lain. Sesampainya di sana, jengjeeeeng..ternyata nambah dua orang personel lagi, dan ini benar-benar fix aku adalah satu-satunya personel perempuan di pendakian ini –awalnya sih sudah mengajak salah satu teman perempuan lagi, tapi batal karena dia akan menjalani ujian di hari Senin—. Setelah sekitar setengah jam packing, kami berenam berangkat dari Yogyakarta menuju Boyolali, Jawa Tengah dengan berbonceng-boncengan menggunakan sepeda motor dengan harapan hujan tak akan menyiram kami di jalan.
Ada cerita yang menggelitik ketika kami mampir di salah satu mini market waralaba di daerah Palagan. Salah satu temanku hendak membayar untuk beberapa botol air mineral, dua kali uangya –selembar seratus ribuan dan lima puluh ribuan— ditolak oleh kasir karena lecek dan diduga palsu. Namun, akhirnya diterima –yang lima puluh ribuan— karena temanku bilang tidak jadi beli kalau uangnya ditolak lagi. 


Narsis dikit di depan mini market daerah Palagan

Oke, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Boyolali. Setelah sekitar 2/3 jam, kami memasuki kawasan Selo. Oh iya, memang dari awal kami sudah merencanakan untuk mendaki Merbabu melalui jalur Selo, Boyolali. Daaaaan, ternyata tidak ada satupun di antara kami yang pernah ke sini. Bermodalkan tanya sana sini dan sempat agak berdebat juga, akhirnya sekitar pukul 17.00 kami tiba di basecamp pendakian Merbabu milik Pak Narto. Kemudian kami melakukan isoma sebelum melakukan pendakian ke Gunung Merbabu. 
Memasuki kawasan Selo, saat bertanya di salah satu rumah warga.

Hari sudah gelap, dan kami memutuskan untuk berangkat naik. Kurang lebih jam 6 petang waktu setempat, kami melakukan briefing dan pemanasan sedikit sebelum berangkat. Dan tak lupa, kami berfoto dulu sebelum berangkat.

Narsis dulu di depan basecamp Pak Narto, sebelum pendakian.

Oh iya, biar aku perkenalkan dulu personel pendakian ini. Berdasarkan foto di atas, yang paling tinggi dan botak adalah Denza, sebelahnya dan yang di belakang adalah personel tambahan yang di awal aku tidak mengenali namanya namun setelah diperjalanan aku mengetahui namanya adalah Bobby –sebelah kananku—dan Bayu –yang di belakang—. Sebelah kiriku Dimas, dan yang jongkok memeluk tas adalah Apen –kedua tambahan personel tadi adalah temannya—. Kunamai tim kami The Godhong Mlinjo Team. Karena yel-yel tos kami adalah “Godhong mlinjo arane?? SOOOO!!” he he he…agak garing tapi ya itulah.
Kami berenam berjalan perlahan memasuki gerbang pendakian. Dan seperti ekspektasiku di awal, tas yang begitu berat karena 3 liter air membuatku sangat payah padahal baru berjalan beberapa langkah dari gerbang masuk. Kemudian para laki-laki strong memutuskan untuk mengambil air di dalam tasku untuk dipindahkan ke tas mereka dan ada satu yang ditenteng agar mudah saat kehausan nanti. Perjalanan kami lanjutkan kembali. Seperti cerita-cerita pendakian yang laln, salah satu temanku yang sudah berpengalaman mendaki gunung mengatakan agar semuanya tidak ragu untuk mengatakan jika merasa lelah atau butuh menghela nafas. Dan benar saja, di antara mereka aku yang paling rewel, he he he… Baru beberapa meter dari transaksi botol air tadi, aku minta break. Nafas memang terasa berat karena kabut dan kami berebut oksigen dengan pepohonan di sana. Kemudian dengan inisiatif, Denza menawarkan diri untuk membawakan tasku –yang menurutku lumayan berat untuk ukuranku—. Dengan sedikit tak enak hati aku memberikan tasku padanya. “Wah, lha malah dadi seimbang ki aku nggendong tas ngarep-mburi,” celetuk Denza saat kami kembali melanjutkan perjalanan. Kami berjalan kembali sambil mencari ranting-ranting untuk pegangan dan untuk membuat api unggun saat ngecamp nanti.
Karena sering berhenti, estimasi waktu menuju Pos 1 yang tadinya sekitar satu jam menjadi sekitar dua jam kami baru mencapai Pos 1. Di Pos 1 kami bertemu dengan sekelompok pendaki. Setelah sedikit berkenalan –walaupun tidak memperkenalkan nama, hanya menyebutkan daerah asal kami masing-masing—salah satu dari mereka bercerita berbagi pengalaman mendaki dan menunjukkan jalur yang nyaman untuk menuju pos selanjutnya.
Oh iya, ada istilah keren dalam perjalanan kami. Jalan yang lurus –bukan tanjakan maupun turunan—kami menyebutnya sebagai ‘bonus’. Dan ketika kami break  dan menemukan tempat istirahat yang nyaman, salah satu teman menyebut-nyebut “Wah, sofane empuk tenan,” he he he.. lucu, bukan? Dan sangat menyenangkan jika kami bertemu dengan pendaki lain. Saling menyapa dan menyemangati, itu salah satu suntikan energi yang cukup berarti, walaupun tak saling mengenal.
Setelah berjalan cukup jauh, kami tiba di Pos 2. Aku tak ingat lagi waktu menunjukkan pukul berapa. Mungkin sudah mendekati pukul Sembilan malam. Kami berhenti untuk break lagi beberapa menit untuk minum dan sedikit bercengkerama. Kemudian kami lanjut naik lagi dan bertemu dengan beberapa pendaki yang sedang menghidupkan api unggun untuk menghangatkan diri sejenak. Sekedar menyapa dan bertanya, para pendaki itu mengatakan bahwa di situ adalah Pos 3. Tapi kami tidak melihat adanya papan atau tanda yang menunjukkan bahwa itu Pos 3. Namun, kami memutuskan untuk istirahat sejenak untuk membuka bekal kami dan menyedu minuman –mumpung sudah ada api yang menyala—. Setelah cukup menghangatkan diri, melanjutkan perjalanan kembali karena kami yakin itu bukanlah Pos 3 yang sesungguhnya. Dimas dan Apen memutuskan untuk jalan mendahului untuk menemukan Pos 3 agar mereka bisa segera mendirikan tenda dan menyalakan api unggun untuk ngecamp di sana.
Beberapa langkah meninggalkan tempat sebelumnya, tiba-tiba aku terserang kedinginan yang dahsyat. Sampai-sampai ujung jari tangan dan kakiku tak terasa lagi. Kemudian, Bobby menyuruhku untuk menggunakan melapisi lagi kaos kakiku dan memakai jaket double. Karena jaket cadangan yang kubawa sangat ribet untuk dipakai, Bobby meminjamiku jaket miliknya beserta syal untuk leher agar lebih hangat lagi. Setelah berjalan dengan kepayahan dan kedinginan, kami akhirnya menemukan lokasi untuk mendirikan tenda. Namun, kami tidak menemukan adanya tanda-tanda yang menunjukkan bahwa itu adalah Pos 3. Tapi, karena sudah merasa kelelahan dan kelaparan, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di situ.
Setelah dua tenda berdiri, kami berenam menghangatkan diri di dekat api unggun sembari menyedu minuman hangat, memasak mie instan, dan berbagi bekal masing-masing. Jelang tengah malam, kami memutuskan untuk tidur untuk menimbun energi agar bisa melanjutkan perjalanan kembali.
Ada cerita menggelitik lagi. Karena baru ingat kalau melewatkan sholat Maghrib dan Isya’, sebelum tidur aku melaksanakan sholat jamak takhir terlebih dahulu. Setelah melakukan tayamum, aku memulai sholat di atas matras yang sudah digelar dan digunakan sholat terlebih dahulu oleh Dimas. Setelah selesai melakukan sholat Maghrib, tiba-tiba Dimas menyeletuk bahwa arah sholatku salah. Sontak aku membalik arah sholatku dan menyelesaikan ibadah dengan agak tidak khusyuk karena kagol arah sholat dan hawa dingin yang dahsyat. Nah, baru setelah meninggalkan tempat ngecamp itu aku menyadari bahwa setelah berbalik arah pun, arah sholatku pada waktu malam harinya masih saja melenceng. Yah, namanya juga manusia, serba tidak tahu. He he he…
Pukul 03.00, tenda milik Bobby dan Bayu sudah ringkas dan dimasukkan ke dalam tas. Setelah berunding beberapa saat, daripada menunggu tenda satunya dirapikan, Bobby dan Bayu memutuskan untuk naik terlebih dahulu dan menunggu kami –sisanya—di puncak Merbabu. Setelah kepergian Bobby dan Bayu, kami memutuskan untuk menyedu minuman terlebih dahulu. Namun, aku hanya tiduran di matras sambil menikmati bintang-bintang yang terlihat lebih dekat dari biasanya. Beberapa kali aku melihat bintang beralih di sana. Amazing! Seperti sedang berada di dalam planetarium.
Setelah mengemasi barang, tepat pukul 05.00 kami memutuskan untuk naik. Namun, beberapa langkah dari tempat mendirikan tenda tadi, aku merasa sangat payah dan sekejap kemudian merasa desperate bisa melanjutkan perjalanan lagi atau tidak. Akhirnya, kami berempat memutuskan untuk menanti sunrise di situ sembari memakan bekal karena mereka tahu aku sama sekali belum makan setelah bangun tidur tadi, makanya tidak kuat naik.
Sunrise pun datang. Kami keranjingan foto-foto ria bersama sang mentari 10 Mei 2014. Berikut beberapa hasil jepretan kami. Indah, bukan?

Matahari 10 Mei 2014



Setelah matahari cukup terang, kami berkemas dan melanjutkan perjalanan naik lagi. Tiga laki-laki yang bersamaku menyemangatiku tiada henti. Mereka menyuruhku untuk naik duluan agar bisa istirahat lebih lama jika kami break. Setelah beberapa lama melangkah melalui medan yang makin sulit, kami tiba di tempat yang kami duga sebelumnya adalah Sabana 1 (Pos 4). Ternyata tempat itu adalah Pos yang pada rencana awal akan menjadi tempat ngecamp kami, Pos 3! Tapi kami bersyukur tidak jadi mendirikan tenda di situ, karena tempatnya sangat terbuka dan anginnya begitu kencang.
Sekejap kemudian, Dimas menunjukkan jalur menuju Pos 4 yang sebenarnya. Aku hanya bisa mengangakan mulut. Di depan mata terpampang track yang amat menanjak dari sebelumnya. Lagi-lagi aku merasa desperate, dan ketiga laki-laki ini kembali menyemangatiku. Dengan tak henti-hentinya berdoa, aku meyakinkan diri untuk melaluinya. Dan kami berangkat dengan penuh semangat melalui track tersebut.
Semakin ke atas, jalan yang dilalui semakin terjal. Bahkan kemiringannya mencapai 450, mungkin bisa lebih. Takut ketinggian, ya itu aku. Ketiga laki-laki ini melarangku untuk menoleh ke bawah hingga kami menemukan lokasi yang nyaman untuk duduk beristirahat dan sedikit bernarsis ria. 

Belum terlalu nanjak nih, jadi bisa narsis berempat dengan modus timer.

Dimas (kiri) dan Denza (kanan)

Selfie bersama Apen. Gagal paham lah sama senyum kami ini. He he..

Gunung Merapi yang tampak amazing dalam perjalanan menuju Sabana 1.

My Heroes! :D

Ini kakiku. Lihat, tenda-tenda di Pos 3 itu tampak seperti miniatur hotel monopoli.

Cukup miring, bukan?

Setelah tanjakan yang terjal, kami menemukan tanah lapang yang agak luas, ada dua tenda berdiri di situ. Kami beristirahat dan berfoto-foto di lokasi tersebut. Namun, perjuangan kami belumlah usai. Pos 4 masih berlokasi di setelah-satu-tanjakan-panjang-dan-terjal lagi. 

Panorama: Gunung Merapi (kiri) dan Gunung Sumbing (tampak kecil di kanan)

Timer mode lagi! Pantatnya dekil-dekil, ha ha ha...


Ketemu sama Dandelion! Ini hasil memotret dengan very-low-angel dengan posisi tiduran sampai-sampai dikira pingsan.

Seorang teman berkomentar pada foto ini: "Dandelion: di mana aku jatuh, di situ aku tumbuh,"

Bunga Edelweis! Pertama kalinya lihat bunga ini versi seger!

Di tanjakan terakhir menuju Sabana 1, aku bertemu bule –memang ada banyak pendaki asing yang melakukan pendakian di gunung Merbabu— yang seolah-olah berkata “Welcome to Sabana 1!”. Setelah meletakkan tas dan mengatur napas, aku melihat-lihat pemandangan indah di sekitar Sabana 1, banyak yang ngecamp di situ.
Sangat disayangkan, perjalananku berakhir di Sabana 1. Kenapa? Di situ aku sudah merasakan paru-paruku yang kembali kambuh infeksinya. Akhirnya, ketiga laki-laki yang bersamaku memutuskan untuk mendirikan tenda untukku agar aku bisa tidur sembari menunggu mereka muncak. Dengan berat hati aku menerima keputusan itu. Yah, daripada aku pingsan di jalan dan merepotkan yang lainnya.
Setelah memasak dan makan mie instan serta menyeduh minuman, Dimas, Denza, dan Apen bersiap untuk berangkat. Mereka meninggalkan carrier-carrier besar mereka di dalam tenda dan membawa perbekalan secukupnya dengan tas slempang kecil milik Dimas, dan tak lupa kamera untuk berfoto di puncak nanti. Tepat pukul 09.00 mereka berangkat, dan aku beranjak ke peraduan di dalam tenda, he he he…
Lima jam mereka meninggalkan aku sendirian di tenda, dan aku hanya bisa menyimak cerita-cerita pendaki lain yang ngecamp di situ juga yang sedang bercerita satu sama lain. Sekitar jam 2 lebih, aku mendengar suara Denza memanggilku. Mereka sudah kembali dan segera saja mengatakan bahwa memang seharusnya aku tidak serta mendaki ke puncak. Mereka yang laki-laki saja sudah hampir pingsan kepayahan, apalagi jika aku ikut. 

Puncak Merbabu, 3145 mdpl. Semoga suatu saat aku mencapaimu.

Setelah makan mie instan yang tersisa dan beristirahat sejenak, kami berkemas dan pukul 15.00 tepat kami memutuskan untuk turun. Jalur yang tadinya menanjak terjal, kiri menjadi turunan yang sangat curam. Aku tak lagi berani menegakkan kakiku dan memutuskan untuk perosotan menuruni jalur yang curam menuju Pos 3. Kali ini, tas yang tadinya dibawakan oleh Denza kubawa sendiri karena sudah terasa lebih ringan saat kami turun. Setelah berperosotan ria –sampai-sampai menghambat pendaki yang akan naik, he he he..— kami sampai di Pos 3. Kami sudah kehabisan perbekalan, hanya tinggal air mineral yang tersisa. Kami mengejar waktu agar sampai di basecamp tidak terlalu malam, jadi kami tidak terlalu banyak break pada saat turun.
Saat turun, kami melihat pemandangan yang berbeda dengan segala kegelapan yang kami lihat pada saat naik. Lelahnya pun berbeda. Pada saat naik, napaslah yang membuat kewalahan, namun pada saat turun, betis yang terasa sakitnya karena menahan beban pada saat melangkah turun.
Memang benar, estimasi waktu untuk turun gunung diperkirakan hanya setengah waktu naik. Benar saja, kami tiba kembali di basecamp Pak Narto pukul 19.30. Bahkan hanya seperempat dari lama waktu naik. Di basecamp kami berkumpul kembali bersama Bobby dan Bayu yang menunggu kami di basecamp karena tidak berhasil menemukan tenda di mana aku tidur pada saat di Sabana 1. 

Nasi telur dan teh hangat ala basecamp Pak Narto, yang paling ditunggu saat perjalanan menuruni Gunung Merbabu.

Kami beristirahat, makan, bercengkerama, dan tidur sejenak. Ketika terbangun, aku menyusul Dimas, Bobby, dan Bayu yang ternyata sedang menghangatkan diri di sekitar tungku di dapur istri Pak Narto. Setelah duduk di dipan dekat tungku, ada kejadian unik di tengah dinginnya hawa Selo. Aku dan Dimas takjub melihat istri Pak Narto mencuci piring menggunakan air mendidih di atas tungku yang menyala. “Mboten panas nopo, Bu?” Celetuk Dimas. “Mboten mas, anget kok,” Ibu itu menjawab dengan ceria.
Setelah semuanya terbangun, kami memutuskan untuk pulang setelah sebelumnya Pak Narto menyarankan kami untuk pulang keesokan harinya saja. Setelah motor dipanaskan, kami berenam pulang melalui jalur yang kami anggap cepat. Di tengah perjalanan, masih di kawasan Selo, persediaan bensin kami menipis, sedangkan semua warung penjual bensin sudah terlelap dalam gelap dan dinginnya Selo. Willy nilly, Bobby dengan inisiatifnya mengetuk warung-warung, berharap ada yang masih terjaga pada jam itu. Setelah kurang lebih mengetuk lima warung, akhirnya ada satu warung yang bersedia membukakan pintu untuk dilarisi bensinnya.
Akhirnya, kami tiba kembali di rumah sewa Dimas tepat tengah malam. Setelah beristirahat sejenak sambil menyeduh minuman hangat dan bercengekrama sejenak, kami pulang ke rumah sewa masing-masing, mengingat semua dari kami masih punya agenda di hari Minggu terang, walaupun pada akhirnya semuanya batal. He he he…
***

Ternyata cerita 09-10 Mei 2014 menyita cukup banyak tempat di blog ini. He he he... Oke, setelah sekian lama akhirnya aku merasakan dahsyatnya pendakian gunung yang sesungguhnya. Tanpa persiapan pula! Namun, kata ketiga teman laki-lakiku itu, sudah hebat aku yang tanpa persiapan fisik apapun bisa mendaki Gunung Merbabu walaupun tidak sampai ke puncak.
Kapok? Tentu saja tidak. Malahan aku menunggu ajakan lain setelah kesakitan di kakiku ini sudah hilang. Tentunya dengan persiapan yang sungguh-sungguh.

Jelajah: Tangkuban Parahu

          Long weekend di akhir bulan Maret menjadi pilihan yang tepat untuk piknik. Yap! Aku diajak serta oleh ibuku untuk mengikuti karya wisata para guru ke Bandung pada tanggal 28-30 Maret 2014 lalu. Tepatnya di kawasan Bandung Utara dengan objek wisata yang dipilih Pemandian Air Panas Ciater, Tangkuban Parahu, Petik Strawberry, dan berbelanja di Cibaduyut. Tapi, yaaa namanya juga long weekend, pastilah Kota Kembang yang satu ini dibanjiri wisatawan dan menjadi macet semacet-macetnya. Jadi jelajah yang paling menarik untuk diceritakan hanyalah waktu mengunjungi tempat wisata Gunung Tangkuban Parahu. 
Begini ceritanya...

          Menjelang tengah hari, rombongan sudah tiba di kawasan Tangkuban Parahu. Kami menunggu shuttle bus yang (katanya) akan mengangkut kami menuju puncak Gunung Tangkuban Parahu. Setelah lama menunggu akhirnya giliran rombongan kami tiba juga. Namun, tiba-tiba petugas mengatakan dengan megaphonenya bahwa jalanan menuju puncak gunung sangatlah padat dan sangat macet. Maka dari itu petugas menyarankan untuk berjalan kaki yang (katanya lagi) hanya sekitar 20 menit. Rombongan kami yang sebagian besar adalah orang tua, sontak merasa kecewa. Aku dan Nina --anak teman ibuku yang menjadi teman perjalananku Wonosari-Bandung-Wonosari-- beserta yang lain (yang sanggup naik) kemudian berjalan menelusuri jalanan aspal yang terus saja menanjak. Napas yang tersenggal-senggal karena tak membawa bekal minum atau apapun tak membuat kami --aku dan Nina-- menyerah. Setelah berjalan cukup lama dan kepayahan, akhirnya kami sampai di puncak Gunung Tangkuban Parahu yang sangat penuh dengan wisatawan-wisatawan. Kemudian kami mencari tempat, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, untuk mencari lokasi yang keci untuk berfoto ria. Dan inilah hasilnya...


Foto kawah Gn. Tangkuban Parahu

Foto bersama Nina di tepi kawah Gn. Tangkuban Perahu

          Perjuangan kami belumlah berakhir. Kami harus menuruni jalanan yang tadi untuk kembali ke bus pariwisata yang menunggu kami di parkiran bawah. Dengan berhujan-hujanan --pada saat turun tiba-tiba turun hujan lebat-- kami menuruni jalanan aspal yang licin, setelah sebelumnya berteduh bin berdesak-desakan sejenak di pos tunggu shuttle bus. Walaupun kelelahan dan kedinginan, namun ini satu-satunya cerita seru saat berwisata ke Bandung Utara.

Sabtu, 17 Mei 2014

Cerita Basi


Aku sudah melewatkan tulisan mengenai ulang tahunku yang ke-23 pada 15 Februari 2014 lalu, bukan? Sangat berkesan! Dua kue ulang tahun kudapat dari rekan-rekan kursus (NTC), satu kue dari saudara-saudara di rumah sewaku (KA21), satu kue lagi dari teman memotret (REL), dan satu kue kemudian dari sahabat-sahabatku tercinta. Tak lupa juga aku mendapatkan dua buah bingkisan manis dari teman seperjuangan di kampus dulu, Kaka dan Wari, sebuah souvenir dan bingkai foto. Sungguh-sungguh for the first time in forever kalau kata Anna di film Frozen. Oh iya! Terlupa satu hal. Semua kue-kue dan kado-kado itu diberikan tidak bertepatan pada tanggal hari jadiku, melainkan pada tanggal lain yang bahkan bisa melampaui sepekan kemudian. Namun, tak berarti semua itu tidak berkesan, malah sangat mengejutkan! 
Dan inilah rekapan fotonya, he he he ^^

Editannya alay ya? He he he... Biarlah. Yang paling atas dan tengah sisi kiri adalah persembahan dari rekan-rekan dan tentor tempat aku menempuh kursus Bahasa Inggris, yang tengah sisi tengah adalah roti-roti dari partner fotografiku (jayus sih roti isi coklat berjumlah sepuluh yang dibungkus pakai kardus bergambar lucu ^^), kemudian yang tengah sisi kanan adalah kue tart dari adik-adik dan mbak kos tercinta, dan yang paling bawah adalah pemberian para sahabat spesialku. Dan kue-kue itu kuberi nama The Late Birthday Cakes, kenapa? Karena semua kue ini diberikan sudah lewat dari tanggal ulang tahunku. Hihi ^^

Jumat, 16 Mei 2014

Jelajah: Pantai Klayar

Mulai dari postingan ini, semua postinganku yang bertema jalan-jalan dan piknik-piknik akan kuberi main tittle "Jelajah". Jelajah pertama di tahun 2014 adalah ke Pantai Klayar yang berlokasi di Pacitan, Jawa Timur, Indonesia.
***

Pada awalnya aku menolak ajakan Jelajah ini, namun beberapa hari sebelum hari H aku memutuskan untuk ikut, karena kupikir ajakan-ajakan seru itu sangat jarang terjadi. Rencana piknik ke Pantai Klayar dilancarkan pada hari Kamis, 23 Januari 2014. Dan karena itu adalah weekday maka willy nilly aku merelakan satu hari kursusku untuk Jelajah ini.
Pukul 10.00 semua sudah komplit berkumpul di halaman Student Center UNY, setelah molor dari jam perjanjian sebelumnya yakni pukul 07.00. Kami berangkat dari Yogya bersembilan melewati Wonosari karena harus menjemput satu orang teman lagi.
Perjalanan yang cukup melelahkan karena jalan yang dilalui itu seperti jalurnya Ninja Hatori, hingga kami tiba di Pantai Klayar sekitar pukul 13.00 dan segera menunaikan Sholat Dzuhur terlebih dahulu. Setelah itu, kami berjalan menelusuri bibir pantai menuju tebing sebelah Timur yang mana terdapat "Seruling Samudera". Namun karena masih pasang, kami memutuskan untuk menunggu sambil berfoto ria di bibir pantai.
Tak lama kemudian, hujan datang. Cukup deras dan kami langsung menghambur mencari tempat berteduh. Agak lama hujan itu mengguyur wilayah Pantai Klayar.
Setelah hujan mereda, kami memutuskan untuk naik tebing menuju "Seruling Samudera" setelah bertanya kepada guide terlebih dahulu. Dengan membayar beberapa ribu rupiah, kami dikawal menuju "Seruling Samudera".
Sebentar-sebentar, akan kujelaskan dulu apa itu "Seruling Samudera". Jadi, di balik sebuah tebing di sisi Timur Pantai Klayar ada sebuah hamparan karang yang lumayan luas. Nah, pada karang tersebut terdapat lubang yang mana jika ombak datang masuk di bawahnya, maka air akan menyembur kuat ke atas melalui lubang itu. Jika belum jelas, bisa googling. he he he.
Puas berfoto ria di "Seruling Samudera", kami pun turun karena cuaca juga sudah memburuk. Hujan kembali turun. Setelah menunaikan Sholat Ashar, kami pulang menuju Yogya bersama hujan dan tiba di Yogya sekitar pukul 22.00. Pas, bukan? Jelajah 12 jam. He he he...

***
Documentation





Cast:
Men: Tedjo, Sapar, Dimas, Pacarnya Lala, Unknown (lupa namanya haha)
Women: Aku, Niken, Nobita, Leila, Lala