Rabu, 21 Mei 2014

Jelajah: Tangkuban Parahu

          Long weekend di akhir bulan Maret menjadi pilihan yang tepat untuk piknik. Yap! Aku diajak serta oleh ibuku untuk mengikuti karya wisata para guru ke Bandung pada tanggal 28-30 Maret 2014 lalu. Tepatnya di kawasan Bandung Utara dengan objek wisata yang dipilih Pemandian Air Panas Ciater, Tangkuban Parahu, Petik Strawberry, dan berbelanja di Cibaduyut. Tapi, yaaa namanya juga long weekend, pastilah Kota Kembang yang satu ini dibanjiri wisatawan dan menjadi macet semacet-macetnya. Jadi jelajah yang paling menarik untuk diceritakan hanyalah waktu mengunjungi tempat wisata Gunung Tangkuban Parahu. 
Begini ceritanya...

          Menjelang tengah hari, rombongan sudah tiba di kawasan Tangkuban Parahu. Kami menunggu shuttle bus yang (katanya) akan mengangkut kami menuju puncak Gunung Tangkuban Parahu. Setelah lama menunggu akhirnya giliran rombongan kami tiba juga. Namun, tiba-tiba petugas mengatakan dengan megaphonenya bahwa jalanan menuju puncak gunung sangatlah padat dan sangat macet. Maka dari itu petugas menyarankan untuk berjalan kaki yang (katanya lagi) hanya sekitar 20 menit. Rombongan kami yang sebagian besar adalah orang tua, sontak merasa kecewa. Aku dan Nina --anak teman ibuku yang menjadi teman perjalananku Wonosari-Bandung-Wonosari-- beserta yang lain (yang sanggup naik) kemudian berjalan menelusuri jalanan aspal yang terus saja menanjak. Napas yang tersenggal-senggal karena tak membawa bekal minum atau apapun tak membuat kami --aku dan Nina-- menyerah. Setelah berjalan cukup lama dan kepayahan, akhirnya kami sampai di puncak Gunung Tangkuban Parahu yang sangat penuh dengan wisatawan-wisatawan. Kemudian kami mencari tempat, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, untuk mencari lokasi yang keci untuk berfoto ria. Dan inilah hasilnya...


Foto kawah Gn. Tangkuban Parahu

Foto bersama Nina di tepi kawah Gn. Tangkuban Perahu

          Perjuangan kami belumlah berakhir. Kami harus menuruni jalanan yang tadi untuk kembali ke bus pariwisata yang menunggu kami di parkiran bawah. Dengan berhujan-hujanan --pada saat turun tiba-tiba turun hujan lebat-- kami menuruni jalanan aspal yang licin, setelah sebelumnya berteduh bin berdesak-desakan sejenak di pos tunggu shuttle bus. Walaupun kelelahan dan kedinginan, namun ini satu-satunya cerita seru saat berwisata ke Bandung Utara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar