Selasa, 27 Mei 2014

Sewindu

     27 Mei 2014 ini bener-bener hari yang memorial banget. Tiga peristiwa besar diperingati pada tanggal itu. Yang pertama, peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad saw, yang mana pada peristiwa itu Nabi Besar kita mendapatkan perintah untuk menunaikan sholat lima waktu sehari semalam. Yang kedua, tanggal tersebut merupakan peringatan hari kelahiran tanah kelahiranku, Gunungkidul, yang ke-183 yang diperingati dengan serangkaian acara yang bertajuk Green and Great. Yang ketiga, peringatan sewindu gempa Yogyakarta. 
     Nah, kali ini aku ingin menggali sisa-sisa ingatanku tentang peristiwa ketiga, tentang gempa dahsyat yang menimpa Yogyakarta sewindu yang lalu --terhitung mulai hari ini--. Walaupun hitungannya Gunungkidul tidak separah daerah Bantul maupun kabupaten-kabupaten yang lain, gempa 27 Mei 2006 silam tetaplah membekas bagi para warga Gunungkidul. Jadi, begini ceritanya.
***
     Hari Sabtu, 27 Mei 2006, saat itu masih sangat teringat bahwa aku sedang libur usai menjalani UN SMP dan sedang menunggu pengumuman kelulusan. Biasanya, jika sedang libur, aku selalu memanfaatkannya untuk bangun siang dan bermalas-malasan. Tapi hari itu berbeda, karena sedang keranjingan bermain game di laptop baru aku bangun sedikit lebih pagi dari biasanya untuk sekedar bermain dan mengotak-atik laptop baru itu. Seingatku waktu masih menunjukkan pukul 05.30 pagi di hari itu. Saking asyiknya bermain laptop, bapakku yang sedang wira-wiri bersiap untuk ngantor pun terabaikan. 
     Jelang pukul enam pagi, tiba-tiba saja aku mendengar suara gemuruh dan sekejap kemudian getaran yang amat dahsyat terasa mengguncang kursi plastik yang aku duduki. Karena aku tak segera menyadari untuk berlari, bapakku langsung menyeretku keluar kamar sambil berteriak "Gek ayo mlayu!"  Kami berlari menuju pintu depan --karena itu pintu terdekat dari posisi kami-- dan gagal membuka kunci pintu karena guncangan yang sangat kuat. Langsung kemudian bapakku menarikku untuk berlari lewat belakang rumah. Saat itu hampir saja sepotong genteng oranye menjatuhi kepalaku, namun beruntung tidak mengenaiku. 
     Semua tetangga memenuhi jalan setapak di sekitar rumah. Getaran itu adalah yang terlama yang pernah kualami, saat itu belum diketahui seberapa lama dan seberapa kuat getaran itu terjadi. Di luar, langsung aku menangis karena ketakutan sambil memeluk punggung bapakku, namun segera terhenti setelah mendapat cibiran dari anak kos sebelah rumah. Kakakku yang saat itu masih tertidur pulas pun terbangun namun ia keluar rumah setelah gempa berhenti. Entah apa alasannya pada waktu itu, mungkin ingatanku tentang itu masih belum muncul lagi. Kemudian kami sekeluarga kebingungan bagaimana mengeluarkan almh. nenekku --sekarang sudah berada di Rahmatullah-- yang terbaring sakit di tempat tidur. Saat itu nenekku sudah tidak bisa beranjak dari tempat tidur, sekalipun bisa itu dengan bantuan orang lain --dipapah atau digendong--.
     Setelah kejadian itu, keluargaku dan tetangga-tetanggaku bersiaga selalu di pelataran rumah. Ada yang sibuk memindahkan mobil-mobil di tanah lapang, ada yang mendengarkan siaran radio untuk memantau update-update terbaru tentang gempa --saat itu radio tua milik bapakku selalu manjer siaran dari RRI-- yang tak berapa lama setelah kejadian diumumkan bahwa kekuatan gempa mencapai 5,9SR selama 57 detik, ada yang berusaha menghubungi sanak saudara walaupun pada saat itu jaringan benar-benar menjadi kacau, ada pula yang berkumpul di satu titik strategis saling berbagi cerita saat gempa terjadi.
    Beberapa kali gempa susulan datang. Pada saat gempa susulan yang entah ke berapa, teriakan minta tolong dari dalam rumah tetanggaku. Ternyata tetanggaku, sebut saja Pak SS, terjatuh dari atap rumah. Beliau dipapah keluar rumahnya dan terlihat darah-darah menetes dari tubuhnya. Segera saja dengan sigap tetanggaku yang lain menyiapkan mobil dan Pak SS dilarikan ke rumah sakit. Alhamdulillah, beliau terselamatkan dan hingga tulisan ini terbit beliau dalam keadaan InsyaAllah sehat walafiat. 
     Isu-isu tak bertanggung jawab mulai bermunculan, salah satunya adalah isu terjadinya Tsunami. Isu yang tak bertanggung jawab itu pun sedikit banyak sudah membuat warga sekitar rumahku --termasuk keluargaku-- panik dan lebih berwaspada untuk segera beranjak ketika Tsunami itu benar-benar datang. Namun, berita hoax itu tak menunjukkan kebenarannya. 
     Dua malam keluargaku dan tetangga-tetangga yang lain  tidur di teras rumah masing-masing. Kemudian, keluargaku memutuskan untuk kembali ke dalam rumah dengan siaga dan berdoa agar tidak ada gempa susulan lagi. Siaran televisi pun selalu diarahkan ke sumber-sumber update tentang bencana yang terjadi. Dari televisi kami melihat betapa agungnya kekuatan Allah swt untuk memperingatkan umatnya. Getaran 5,9SR dalam waktu 57 detik dapat meluluhlantakkan Yogyakarta.
     Trauma, tentu saja. Sampai-sampai suara tikus yang berlarian di atas langit-langit rumah bisa membuat sekeluargaku sekejap menghambur keluar rumah. Hingga saat ini pun, ketakutan yang amat sangat masih menyelimuti ketika tanah Jogja kembali merasakan guncangan gempa, meskipun tak sehebat saat itu.
     Selepas kejadian itu, banyak sekali bala bantuan tertuju untuk membangkitkan kembali Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai dari bantuan material maupun spiritual. Wilayah kami pun tak luput dari bantuan-bantuan itu. Ada satu yang agak menggelitik dari ini. Ibuku --mungkin juga yang lain-- selalu menamai bantuan makanan yang datang dengan embel-embel gempa, misalnya roti gempa, mie gempa, susu gempa, dan sebagainya, dikarenakan merk-merk yang diberikan agaknya sedikit asing di mata kami.
***
     Mungkin hanya sedikit saja memori yang dapat kuceritakan di laman ini. Tak henti doa untuk para korban jiwa di peristiwa ini, semoga keluarga yang ditinggalkan semakin tabah dan ikhlas, karena ini semua adalah cobaan dari Allah swt. Dari sedikit memori ini, diharapkan pula dapat selalu menjadi pengingat bahwa kekuatan Allah swt adalah mahadahsyat dan tidak ada keraguan di dalamnya. Kita sebagai umat-Nya, haruslah bercermin diri dari peristiwa itu untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan diri kepada Allah swt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar