Rabu, 21 Mei 2014

Jelajah: Gunung Merbabu (3145 mdpl)



Tanggal 5 Mei 2014 lalu, aku bertemu dengan teman lamaku waktu SMA dulu di sebuah tempat jajan di Jogja. Sebelumnya aku mengetahui bahwa ia dan dua orang teman SMAku yang lain akan melakukan pendakian di Gunung Merbabu di hari Jumatnya, tanggal 9 Mei 2014, maka dari itu, aku tanyakan saja tentang hal itu sebagai bahan pembicaraan. Dan seperti yang sudah kuperkirakan, aku diajak serta. Namun, karena di akhir pekan minggu tersebut aku ada kegiatan lain, jadi aku menolak. Oke, kuanggap obrolan itu sudah selesai ketika temanku itu pergi.
***

 Tanggal 8 Mei 2014, saat itu sudah dapat dikatakan malam hari. Karena beberapa hari yang lalu aku baru bertemu teman lamaku, yaa untuk mempererat silaturahmi aku mem-BBM dia sekedar iseng menanyakan pendakian yang akan dilancarkan besoknya, dan iya aku diajak lagi dan aku menolak lagi karena alasan terlalu mendadak jika ikut.
Saat itu aku memasang display picture sebuah screen capture lirik lagu legendaries, yaitu I Don’t Wanna Miss A Thing yang dinyanyikan oleh Aerosmith. Seorang teman tiba-tiba mengomentari display pictureku dan kemudian ngobrol tentang film Armageddon sejenak. Kemudian tiba-tiba ia bilang, “Tanggal 10 badhe nderek Merbabu?” ini adalah ajakan kedua, dan lagi-lagi harus kembali kutolak dengan alasan terlalu mendadak.
Dengan sangat menyesal aku menyiakan kedua ajakan itu, dan akhirnya aku meng-update status di BBM begini, “Dua ajakan melayang sudah *dadah2 ke puncak Merbabu :’)*”. Beberapa menit setelah aku update status, teman SMAku –bukan yang aku temui di tempat jajan tadi— yang ikut mendaki juga pada hari Jumat mengompor-ngompori untuk ikut serta. Kali ini alasan-alasan penolakanku tak berlaku, dan akhirnya aku diundang ke sebuah group chat yang berisi tiga teman SMAku yang akan mendaki pada hari Jumat itu –pada waktu itu, hari Jumat adalah besok— dan semuanya sama saja, membujukku supaya ikut dengan alasan jumlah mereka yang ganjil lah, biar rame lah, dan lain-lain lah pokoknya sehingga pada akhirnya aku memutuskan untuk ikut. Keputusan “iya” tentunya aku berikan karena aku langsung meminta izin ke kedua orang tuaku yang mungkin malam itu sudah tidur dan terbangun karena SMSku yang begitu mendadak itu. Walaupun pada awalnya tidak mengizinkan, namun dengan sedikit rengekan berhasil membuat ayahku mengiyakan dengan syarat dan ketentuan berlaku. Yak dan saat itu jam menunjukkan pergantian hari. Keputusan yang agak gila, bukan? Tak ada persiapan yang jauh, perempuan berparu-paru lemah dan langka olah raga seperti aku bisa mengiyakan pendakian yang “nggak main-main”. He he he…
Oke. Setelah mengiyakan ajakan tadi, aku langsung kelabakan menyiapkan segala keperluan untuk hari Jumat itu. Beruntung adik-adik rumah sewa baru pada pulang dan bersedia meminjami beberapa kebutuhan untuk mendaki. Agak tenang dan aku harus segera tidur.
***
Paginya, aku masih berusaha mencari kebutuhan yang lain, yang utama adalah alas kaki. Beruntung lagi dan lagi, seorang teman berbaik hati mengantarkan sandal gunung dari kampong untuk aku pinjam. Kemudian aku segera menghubungi seorang kakak yang serumah sewa juga denganku –note: dia sudah berpengalaman naik gunung— untuk menanyakan list bekal yang harus dipersiapkan. Dengan panjang dia menjelaskan dari A-Z melalui media chat karena sedang berada di kampung halaman. Setelah itu langsung kubuat check-list untuk memastikan nantinya tidak ada yang terlupa. Daaaan…jelang waktu Dzuhur aku sudah siap. Kemudian tiba-tiba hujan turun, sekejap kemudian aku berekspektasi macam-macam jika waktu pendakian nanti masih saja hujan. Namun, syukut Alhamdulillah tak lama kemudian hujan pun reda.
Menjelang jam 2 siang, aku dijemput salah satu temanku untuk menyewa beberapa peralatan yang belum tersedia di salah satu tempat persewaan outdoor gear di dekat kampus dan kemudian berkumpul dahulu di rumah sewa temanku itu bersama teman yang lain. Sesampainya di sana, jengjeeeeng..ternyata nambah dua orang personel lagi, dan ini benar-benar fix aku adalah satu-satunya personel perempuan di pendakian ini –awalnya sih sudah mengajak salah satu teman perempuan lagi, tapi batal karena dia akan menjalani ujian di hari Senin—. Setelah sekitar setengah jam packing, kami berenam berangkat dari Yogyakarta menuju Boyolali, Jawa Tengah dengan berbonceng-boncengan menggunakan sepeda motor dengan harapan hujan tak akan menyiram kami di jalan.
Ada cerita yang menggelitik ketika kami mampir di salah satu mini market waralaba di daerah Palagan. Salah satu temanku hendak membayar untuk beberapa botol air mineral, dua kali uangya –selembar seratus ribuan dan lima puluh ribuan— ditolak oleh kasir karena lecek dan diduga palsu. Namun, akhirnya diterima –yang lima puluh ribuan— karena temanku bilang tidak jadi beli kalau uangnya ditolak lagi. 


Narsis dikit di depan mini market daerah Palagan

Oke, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Boyolali. Setelah sekitar 2/3 jam, kami memasuki kawasan Selo. Oh iya, memang dari awal kami sudah merencanakan untuk mendaki Merbabu melalui jalur Selo, Boyolali. Daaaaan, ternyata tidak ada satupun di antara kami yang pernah ke sini. Bermodalkan tanya sana sini dan sempat agak berdebat juga, akhirnya sekitar pukul 17.00 kami tiba di basecamp pendakian Merbabu milik Pak Narto. Kemudian kami melakukan isoma sebelum melakukan pendakian ke Gunung Merbabu. 
Memasuki kawasan Selo, saat bertanya di salah satu rumah warga.

Hari sudah gelap, dan kami memutuskan untuk berangkat naik. Kurang lebih jam 6 petang waktu setempat, kami melakukan briefing dan pemanasan sedikit sebelum berangkat. Dan tak lupa, kami berfoto dulu sebelum berangkat.

Narsis dulu di depan basecamp Pak Narto, sebelum pendakian.

Oh iya, biar aku perkenalkan dulu personel pendakian ini. Berdasarkan foto di atas, yang paling tinggi dan botak adalah Denza, sebelahnya dan yang di belakang adalah personel tambahan yang di awal aku tidak mengenali namanya namun setelah diperjalanan aku mengetahui namanya adalah Bobby –sebelah kananku—dan Bayu –yang di belakang—. Sebelah kiriku Dimas, dan yang jongkok memeluk tas adalah Apen –kedua tambahan personel tadi adalah temannya—. Kunamai tim kami The Godhong Mlinjo Team. Karena yel-yel tos kami adalah “Godhong mlinjo arane?? SOOOO!!” he he he…agak garing tapi ya itulah.
Kami berenam berjalan perlahan memasuki gerbang pendakian. Dan seperti ekspektasiku di awal, tas yang begitu berat karena 3 liter air membuatku sangat payah padahal baru berjalan beberapa langkah dari gerbang masuk. Kemudian para laki-laki strong memutuskan untuk mengambil air di dalam tasku untuk dipindahkan ke tas mereka dan ada satu yang ditenteng agar mudah saat kehausan nanti. Perjalanan kami lanjutkan kembali. Seperti cerita-cerita pendakian yang laln, salah satu temanku yang sudah berpengalaman mendaki gunung mengatakan agar semuanya tidak ragu untuk mengatakan jika merasa lelah atau butuh menghela nafas. Dan benar saja, di antara mereka aku yang paling rewel, he he he… Baru beberapa meter dari transaksi botol air tadi, aku minta break. Nafas memang terasa berat karena kabut dan kami berebut oksigen dengan pepohonan di sana. Kemudian dengan inisiatif, Denza menawarkan diri untuk membawakan tasku –yang menurutku lumayan berat untuk ukuranku—. Dengan sedikit tak enak hati aku memberikan tasku padanya. “Wah, lha malah dadi seimbang ki aku nggendong tas ngarep-mburi,” celetuk Denza saat kami kembali melanjutkan perjalanan. Kami berjalan kembali sambil mencari ranting-ranting untuk pegangan dan untuk membuat api unggun saat ngecamp nanti.
Karena sering berhenti, estimasi waktu menuju Pos 1 yang tadinya sekitar satu jam menjadi sekitar dua jam kami baru mencapai Pos 1. Di Pos 1 kami bertemu dengan sekelompok pendaki. Setelah sedikit berkenalan –walaupun tidak memperkenalkan nama, hanya menyebutkan daerah asal kami masing-masing—salah satu dari mereka bercerita berbagi pengalaman mendaki dan menunjukkan jalur yang nyaman untuk menuju pos selanjutnya.
Oh iya, ada istilah keren dalam perjalanan kami. Jalan yang lurus –bukan tanjakan maupun turunan—kami menyebutnya sebagai ‘bonus’. Dan ketika kami break  dan menemukan tempat istirahat yang nyaman, salah satu teman menyebut-nyebut “Wah, sofane empuk tenan,” he he he.. lucu, bukan? Dan sangat menyenangkan jika kami bertemu dengan pendaki lain. Saling menyapa dan menyemangati, itu salah satu suntikan energi yang cukup berarti, walaupun tak saling mengenal.
Setelah berjalan cukup jauh, kami tiba di Pos 2. Aku tak ingat lagi waktu menunjukkan pukul berapa. Mungkin sudah mendekati pukul Sembilan malam. Kami berhenti untuk break lagi beberapa menit untuk minum dan sedikit bercengkerama. Kemudian kami lanjut naik lagi dan bertemu dengan beberapa pendaki yang sedang menghidupkan api unggun untuk menghangatkan diri sejenak. Sekedar menyapa dan bertanya, para pendaki itu mengatakan bahwa di situ adalah Pos 3. Tapi kami tidak melihat adanya papan atau tanda yang menunjukkan bahwa itu Pos 3. Namun, kami memutuskan untuk istirahat sejenak untuk membuka bekal kami dan menyedu minuman –mumpung sudah ada api yang menyala—. Setelah cukup menghangatkan diri, melanjutkan perjalanan kembali karena kami yakin itu bukanlah Pos 3 yang sesungguhnya. Dimas dan Apen memutuskan untuk jalan mendahului untuk menemukan Pos 3 agar mereka bisa segera mendirikan tenda dan menyalakan api unggun untuk ngecamp di sana.
Beberapa langkah meninggalkan tempat sebelumnya, tiba-tiba aku terserang kedinginan yang dahsyat. Sampai-sampai ujung jari tangan dan kakiku tak terasa lagi. Kemudian, Bobby menyuruhku untuk menggunakan melapisi lagi kaos kakiku dan memakai jaket double. Karena jaket cadangan yang kubawa sangat ribet untuk dipakai, Bobby meminjamiku jaket miliknya beserta syal untuk leher agar lebih hangat lagi. Setelah berjalan dengan kepayahan dan kedinginan, kami akhirnya menemukan lokasi untuk mendirikan tenda. Namun, kami tidak menemukan adanya tanda-tanda yang menunjukkan bahwa itu adalah Pos 3. Tapi, karena sudah merasa kelelahan dan kelaparan, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di situ.
Setelah dua tenda berdiri, kami berenam menghangatkan diri di dekat api unggun sembari menyedu minuman hangat, memasak mie instan, dan berbagi bekal masing-masing. Jelang tengah malam, kami memutuskan untuk tidur untuk menimbun energi agar bisa melanjutkan perjalanan kembali.
Ada cerita menggelitik lagi. Karena baru ingat kalau melewatkan sholat Maghrib dan Isya’, sebelum tidur aku melaksanakan sholat jamak takhir terlebih dahulu. Setelah melakukan tayamum, aku memulai sholat di atas matras yang sudah digelar dan digunakan sholat terlebih dahulu oleh Dimas. Setelah selesai melakukan sholat Maghrib, tiba-tiba Dimas menyeletuk bahwa arah sholatku salah. Sontak aku membalik arah sholatku dan menyelesaikan ibadah dengan agak tidak khusyuk karena kagol arah sholat dan hawa dingin yang dahsyat. Nah, baru setelah meninggalkan tempat ngecamp itu aku menyadari bahwa setelah berbalik arah pun, arah sholatku pada waktu malam harinya masih saja melenceng. Yah, namanya juga manusia, serba tidak tahu. He he he…
Pukul 03.00, tenda milik Bobby dan Bayu sudah ringkas dan dimasukkan ke dalam tas. Setelah berunding beberapa saat, daripada menunggu tenda satunya dirapikan, Bobby dan Bayu memutuskan untuk naik terlebih dahulu dan menunggu kami –sisanya—di puncak Merbabu. Setelah kepergian Bobby dan Bayu, kami memutuskan untuk menyedu minuman terlebih dahulu. Namun, aku hanya tiduran di matras sambil menikmati bintang-bintang yang terlihat lebih dekat dari biasanya. Beberapa kali aku melihat bintang beralih di sana. Amazing! Seperti sedang berada di dalam planetarium.
Setelah mengemasi barang, tepat pukul 05.00 kami memutuskan untuk naik. Namun, beberapa langkah dari tempat mendirikan tenda tadi, aku merasa sangat payah dan sekejap kemudian merasa desperate bisa melanjutkan perjalanan lagi atau tidak. Akhirnya, kami berempat memutuskan untuk menanti sunrise di situ sembari memakan bekal karena mereka tahu aku sama sekali belum makan setelah bangun tidur tadi, makanya tidak kuat naik.
Sunrise pun datang. Kami keranjingan foto-foto ria bersama sang mentari 10 Mei 2014. Berikut beberapa hasil jepretan kami. Indah, bukan?

Matahari 10 Mei 2014



Setelah matahari cukup terang, kami berkemas dan melanjutkan perjalanan naik lagi. Tiga laki-laki yang bersamaku menyemangatiku tiada henti. Mereka menyuruhku untuk naik duluan agar bisa istirahat lebih lama jika kami break. Setelah beberapa lama melangkah melalui medan yang makin sulit, kami tiba di tempat yang kami duga sebelumnya adalah Sabana 1 (Pos 4). Ternyata tempat itu adalah Pos yang pada rencana awal akan menjadi tempat ngecamp kami, Pos 3! Tapi kami bersyukur tidak jadi mendirikan tenda di situ, karena tempatnya sangat terbuka dan anginnya begitu kencang.
Sekejap kemudian, Dimas menunjukkan jalur menuju Pos 4 yang sebenarnya. Aku hanya bisa mengangakan mulut. Di depan mata terpampang track yang amat menanjak dari sebelumnya. Lagi-lagi aku merasa desperate, dan ketiga laki-laki ini kembali menyemangatiku. Dengan tak henti-hentinya berdoa, aku meyakinkan diri untuk melaluinya. Dan kami berangkat dengan penuh semangat melalui track tersebut.
Semakin ke atas, jalan yang dilalui semakin terjal. Bahkan kemiringannya mencapai 450, mungkin bisa lebih. Takut ketinggian, ya itu aku. Ketiga laki-laki ini melarangku untuk menoleh ke bawah hingga kami menemukan lokasi yang nyaman untuk duduk beristirahat dan sedikit bernarsis ria. 

Belum terlalu nanjak nih, jadi bisa narsis berempat dengan modus timer.

Dimas (kiri) dan Denza (kanan)

Selfie bersama Apen. Gagal paham lah sama senyum kami ini. He he..

Gunung Merapi yang tampak amazing dalam perjalanan menuju Sabana 1.

My Heroes! :D

Ini kakiku. Lihat, tenda-tenda di Pos 3 itu tampak seperti miniatur hotel monopoli.

Cukup miring, bukan?

Setelah tanjakan yang terjal, kami menemukan tanah lapang yang agak luas, ada dua tenda berdiri di situ. Kami beristirahat dan berfoto-foto di lokasi tersebut. Namun, perjuangan kami belumlah usai. Pos 4 masih berlokasi di setelah-satu-tanjakan-panjang-dan-terjal lagi. 

Panorama: Gunung Merapi (kiri) dan Gunung Sumbing (tampak kecil di kanan)

Timer mode lagi! Pantatnya dekil-dekil, ha ha ha...


Ketemu sama Dandelion! Ini hasil memotret dengan very-low-angel dengan posisi tiduran sampai-sampai dikira pingsan.

Seorang teman berkomentar pada foto ini: "Dandelion: di mana aku jatuh, di situ aku tumbuh,"

Bunga Edelweis! Pertama kalinya lihat bunga ini versi seger!

Di tanjakan terakhir menuju Sabana 1, aku bertemu bule –memang ada banyak pendaki asing yang melakukan pendakian di gunung Merbabu— yang seolah-olah berkata “Welcome to Sabana 1!”. Setelah meletakkan tas dan mengatur napas, aku melihat-lihat pemandangan indah di sekitar Sabana 1, banyak yang ngecamp di situ.
Sangat disayangkan, perjalananku berakhir di Sabana 1. Kenapa? Di situ aku sudah merasakan paru-paruku yang kembali kambuh infeksinya. Akhirnya, ketiga laki-laki yang bersamaku memutuskan untuk mendirikan tenda untukku agar aku bisa tidur sembari menunggu mereka muncak. Dengan berat hati aku menerima keputusan itu. Yah, daripada aku pingsan di jalan dan merepotkan yang lainnya.
Setelah memasak dan makan mie instan serta menyeduh minuman, Dimas, Denza, dan Apen bersiap untuk berangkat. Mereka meninggalkan carrier-carrier besar mereka di dalam tenda dan membawa perbekalan secukupnya dengan tas slempang kecil milik Dimas, dan tak lupa kamera untuk berfoto di puncak nanti. Tepat pukul 09.00 mereka berangkat, dan aku beranjak ke peraduan di dalam tenda, he he he…
Lima jam mereka meninggalkan aku sendirian di tenda, dan aku hanya bisa menyimak cerita-cerita pendaki lain yang ngecamp di situ juga yang sedang bercerita satu sama lain. Sekitar jam 2 lebih, aku mendengar suara Denza memanggilku. Mereka sudah kembali dan segera saja mengatakan bahwa memang seharusnya aku tidak serta mendaki ke puncak. Mereka yang laki-laki saja sudah hampir pingsan kepayahan, apalagi jika aku ikut. 

Puncak Merbabu, 3145 mdpl. Semoga suatu saat aku mencapaimu.

Setelah makan mie instan yang tersisa dan beristirahat sejenak, kami berkemas dan pukul 15.00 tepat kami memutuskan untuk turun. Jalur yang tadinya menanjak terjal, kiri menjadi turunan yang sangat curam. Aku tak lagi berani menegakkan kakiku dan memutuskan untuk perosotan menuruni jalur yang curam menuju Pos 3. Kali ini, tas yang tadinya dibawakan oleh Denza kubawa sendiri karena sudah terasa lebih ringan saat kami turun. Setelah berperosotan ria –sampai-sampai menghambat pendaki yang akan naik, he he he..— kami sampai di Pos 3. Kami sudah kehabisan perbekalan, hanya tinggal air mineral yang tersisa. Kami mengejar waktu agar sampai di basecamp tidak terlalu malam, jadi kami tidak terlalu banyak break pada saat turun.
Saat turun, kami melihat pemandangan yang berbeda dengan segala kegelapan yang kami lihat pada saat naik. Lelahnya pun berbeda. Pada saat naik, napaslah yang membuat kewalahan, namun pada saat turun, betis yang terasa sakitnya karena menahan beban pada saat melangkah turun.
Memang benar, estimasi waktu untuk turun gunung diperkirakan hanya setengah waktu naik. Benar saja, kami tiba kembali di basecamp Pak Narto pukul 19.30. Bahkan hanya seperempat dari lama waktu naik. Di basecamp kami berkumpul kembali bersama Bobby dan Bayu yang menunggu kami di basecamp karena tidak berhasil menemukan tenda di mana aku tidur pada saat di Sabana 1. 

Nasi telur dan teh hangat ala basecamp Pak Narto, yang paling ditunggu saat perjalanan menuruni Gunung Merbabu.

Kami beristirahat, makan, bercengkerama, dan tidur sejenak. Ketika terbangun, aku menyusul Dimas, Bobby, dan Bayu yang ternyata sedang menghangatkan diri di sekitar tungku di dapur istri Pak Narto. Setelah duduk di dipan dekat tungku, ada kejadian unik di tengah dinginnya hawa Selo. Aku dan Dimas takjub melihat istri Pak Narto mencuci piring menggunakan air mendidih di atas tungku yang menyala. “Mboten panas nopo, Bu?” Celetuk Dimas. “Mboten mas, anget kok,” Ibu itu menjawab dengan ceria.
Setelah semuanya terbangun, kami memutuskan untuk pulang setelah sebelumnya Pak Narto menyarankan kami untuk pulang keesokan harinya saja. Setelah motor dipanaskan, kami berenam pulang melalui jalur yang kami anggap cepat. Di tengah perjalanan, masih di kawasan Selo, persediaan bensin kami menipis, sedangkan semua warung penjual bensin sudah terlelap dalam gelap dan dinginnya Selo. Willy nilly, Bobby dengan inisiatifnya mengetuk warung-warung, berharap ada yang masih terjaga pada jam itu. Setelah kurang lebih mengetuk lima warung, akhirnya ada satu warung yang bersedia membukakan pintu untuk dilarisi bensinnya.
Akhirnya, kami tiba kembali di rumah sewa Dimas tepat tengah malam. Setelah beristirahat sejenak sambil menyeduh minuman hangat dan bercengekrama sejenak, kami pulang ke rumah sewa masing-masing, mengingat semua dari kami masih punya agenda di hari Minggu terang, walaupun pada akhirnya semuanya batal. He he he…
***

Ternyata cerita 09-10 Mei 2014 menyita cukup banyak tempat di blog ini. He he he... Oke, setelah sekian lama akhirnya aku merasakan dahsyatnya pendakian gunung yang sesungguhnya. Tanpa persiapan pula! Namun, kata ketiga teman laki-lakiku itu, sudah hebat aku yang tanpa persiapan fisik apapun bisa mendaki Gunung Merbabu walaupun tidak sampai ke puncak.
Kapok? Tentu saja tidak. Malahan aku menunggu ajakan lain setelah kesakitan di kakiku ini sudah hilang. Tentunya dengan persiapan yang sungguh-sungguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar