Kamis, 28 Mei 2020

Sabtu.

Siang itu seperti biasa aku berjalan melewati deretan toko bunga dalam perjalanan menuju stasiun komuter. Mataku selalu saja tertuju pada gerombolan favoritku, bunga matahari yang seolah-olah mengatakan ‘selamat siang’ padaku.

Saat itu tiba-tiba dalam benakku muncul satu pertanyaan, kapan ya ada seorang lelaki membeli seikat bunga matahari yang kuning itu kemudian datang memberikannya padaku seraya bertanya ‘maukah kau menikah denganku?’? Hmm.. tak lama kemudian sudut mataku mulai sedikit basah.

Senin, 16 September 2019

Selasa Malam, Hari di Mana Aku Menyadarinya

Mengingatmu itu mudah. Aku hanya perlu memesan segelas kopi dan seketika itu pula kamu akan datang di pikiranku. Ya, kopi memang identik dengan dirimu, dan bagaimana aku mengenalmu.

Mungkin terkadang aku masih merindukanmu. Merindukan saat kau bercerita tentang banyak hal. Namun, takdir tak mengizinkanku mendengarkan ceritamu lebih jauh lagi. 

Oh iya, aku teringat. Sampai detik ini ada satu hal yang kusesalkan, mengapa kau pun tak pernah mengizinkan aku untuk mengenalmu lebih jauh lagi? Bahkan kau memutuskan untuk mengakhiri cerita di saat kita sama-sama terbelit ego. Hal yang seharusnya bisa kita bicarakan secara baik-baik.

Kau tahu? Aku bahkan telah membangun banyak mimpi untuk kita. Mungkin aku memang salah, terlalu berharap, dan oh! aku ingat, aku tidak menyadari ketidakberaturan pikiranmu itu ternyata bisa separah mengacaukan impianku.

Ya, memang manusia bisa berubah pikiran. Tapi tidak seperti ini ketika kita melibatkan hati. Apakah hati yang patah itu bisa berubah menjadi utuh kembali secepat berubahnya pikiranmu? Tentu tidak.

Huft. Dan aku semakin lekat dengan kopi, semakin menikmatinya. Tapi apakah aku akan menikmati ingatan tentangmu yang selalu muncul ketika aku meneguk kopi ini? Aku kira tidak. Aku harus bergegas menghapusnya. Bahkan kini aku berterima kasih, karenamu aku akan menjadi lebih baik lagi.

Sabtu, 11 Mei 2019

Lagu Rindu Satu Minggu


Ada keramaian di sana
Ya, diotakku, ramai ngiang nyanyianmu malam itu.
Malam itu kau nyanyikan lagu rindu
dan aku yakin, gelombang suaramu pasti menujuku.

Sudah enam ratus empat ribu delapan ratus detik kita tak bertatap mata
Seperempat bulan yang lalu, kau janjikan lagu itu untukku
Lagu rindu yang tengah ramai ngiangnya di benakku
kini.                                    

Seratus enam puluh delapan jam ke depan
Kau janjikan lagi lagu rindu yang lain
Dan akan kusiapkan celah di otakku
Untuk ramainya ngiang lagu rindu itu

Come Back Greeting 😊

Halo! Finally I'm back!

Hmmm... sudah 5 tahun lamanya ngga menengok blog usang ini.
Kira-kira, sekarang masih ada yang suka bacain/nulis blog gini ngga ya?

Di waktu yang lumayan gabut dan ngga ngapa-ngapain ini, aku mau ngeposting beberapa tulisan, emm atau mau berpuitis ria di sini.
Mudah-mudahan bisa berlanjut ngebacot lagi di blog alay ini haha.

Thank you 😊

Sabtu, 08 November 2014

Paragraf Italic

Pemikiran-pemikiran fiktif mulai bergelantungan di ujung jariku yang tak begitu lentik, hingga baris-baris ini pun muncul begitu saja di layar ponsel kecil yang berada di hadapanku malam itu. Yah, memang ketika otak sedang merasa tertekan biasanya muncul imaji-imaji yang semakin mengacau. Mungkin sedikit imaji itu tergambar dalam paragraf-paragraf berhuruf Italic berikut ini.

*
 
Aku tak tahu pasti kapan aku mulai membangun ruang untukmu di kepalaku. Aku pun tak yakin seberapa kuat pondasi itu tertanam di otakku yang sudah penuh liku ini. Yang nyata, semenjak cengkerama singkat waktu itu telah berhasil membuat mesin pengingat di otakku bekerja setiap hari untuk mencitrakan pikiran tentangmu, barang sedetik saja dan akan sekejap memciptakan kejutan kecil di hatiku.

Aku tahu, menulis seperti ini adalah hal yang pasti akan menjadikanmu berubah. Entah itu berubah menjadi searah atau berlawanan arah dengan pikiranku. Hanya saja, saat ini aku hanya ingin kau membacanya, bahwa sudah sangat lama sejak terakhir kali aku merasakan hal seperti ini. Merasakan panasnya api yang kali ini menyala karena percikan pemantik kecil yang ada di tanganmu. Namun aku terlalu takut untuk mendekat, aku tak sanggup, bahkan untuk sekedar menikmati hangatnya. Hujan sudah menggantung di atas sana. Kapan saja rintiknya akan jatuh melenyapkan kehangatan itu dan hanya akan meninggalkanku bersama keresahan tentangmu.

Selasa, 15 Juli 2014

Jelajah - Gunung Prau (2565 mdpl)

This is another latepost story ^^
--


Jelajah kali ini adalah pendakian gunung keduaku. Ya, boleh dibilang lebih rendah ketinggiannya, tapi lumayan lah untuk persiapan menuju pendakian-pendakian yang selanjutnya (aamiin). Kali ini tujuannya adalah chasing sunrise di puncak Gunung Prau, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Penasaran dengan kisah perjalannya? Mari, akan saya ceritakan mulai paragraf selanjutnya.
***
Seperti biasa, akan kuceritakan bagaimana awalnya aku bisa ikut serta dalam perjalanan jelajah kali ini. Tanggal (lupa) malam, seperti biasa aku selalu menyimak recent update di sebuah perpesanan instan ponselku. Kulihat tiga teman perjalananku di Merbabu tempo hari, Apen, Denza, dan Dimas, memasang status yang begitu kompak. Ketiganya menuliskan kurang lebih sama seperti ini, “Gunung Prau, 17 Juni 2014, siapa ikut?”. Nah, begitu membaca itu aku langsung bergegas mengomentari status mereka masing-masing. Tanggapan yang berbeda namun seirama, mereka menawariku untuk serta dan kemudian dibuatlah kembali grup percakapan bersama.
Dari percakapan bersama itu, Denza mengusulkan untuk mengajak Adinda. Adinda adalah adik kelas kami sewaktu SMA dulu sekaligus mantan kekasih dari Denza. Wah, ada bau-bau permodusan nih! Hingga akhirnya Apen dan Dimas pun turut mengajak orang lain (lagi) dan sempat terjadi miss communication sana-sini yang sempat juga membuatku ingin batal ikut di malam sebelum hari H jelajah ini. Namun, akhirnya di-fix-kan pesertanya adalah Apen, Denza, Dimas, aku, dan Adinda, dengan meeting point seperti jelajah yang lalu, di kos Dimas.
Keesokan harinya, pukul 9 tepat aku dan Adinda sudah tiba di kos Dimas dan melihat belum ada seorang pun yang tiba di sana, padahal perjanjiannya adalah berkumpul pukul 9 pagi. Dimas pun sedang pergi entah ke mana. Sambil duduk-duduk di teras, aku menghubungi ketiga lelaki itu, sampai akhirnya Dimas datang dengan belum mandi dan bersiap-siap. Seletah menunggu cukup lama, akhirnya semua berkumpul sekitar pukul 11 siang. Apen dan Dimas segera pergi ke persewaan outdoor gear untuk menyewa peralatan yang belum ada. Setelah itu, kami masih bongkar pasang tas dan carier masing-masing.
Kami memutuskan untuk berangkat sekitar pukul 12.30 siang. Meleset jauh dari rencana awal? Memang sudah diperkirakan begitu. Dengan menggunakan kendaraan roda dua, kami berbonceng-boncengan menelusuri jalanan menuju Wonosobo. Kami memilih jalur yang lumayan menantang, bergeronjal, berlubang-lubang, namun itu jalur yang lumayan lebih singkat untuk menjangkau Wonosobo.
Di daerah entah-di-mana kami beristirahat sejenak nyelehke bokong karena terasa pegal sekali setelah menelusuri jalanan tidak begitu baik itu. Kemudian, perjalanan yang tak bengangsur mudah kami lanjutkan hingga kami tiba di Desa Kejajar, Dieng, Wonosobo. Di sana kami terjebak hujan. Seperti perkiraan sebelumnya, karena Wonosobo itu rawan hujan, kami tidak keheranan terkena hujan di sana. Kami berteduh di sebuah teras bangunan (entah itu bangunan apa), sekalian menghangatkan diri dengan teh dan kopi yang kami pesan di warung yang bersebelahan dengan bangunan itu.
Jalan di depan tempat kami berteduh, di Desa Kejajar

Cukup lama kami berteduh, berbincang dengan warga sekitar yang turut berteduh pula di situ, hingga tak terasa hujan sudah reda. Sekitar pukul 15.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Patakbanteng, lokasi di mana basecamp pendakian Prau itu berada. Melihat langit yang kemudian cerah, kami menjadi semakin bersemangat kembali untuk mendaki.
Setibanya di basecamp pendakian Prau, kami mengistirahatkan sejenak badan kami setelah mengurus administrasi pendakian. Tak terasa sudah menginjak waktu Maghrib. Kami memutuskan untuk bersiap naik. Sebelum naik, tak lupa kami makan malam terlebih dahulu di sebuah angkringan yang berada di dekat basecamp Patakbanteng. Setelah itu, kami bersiap naik dan mengawalinya dengan doa bersama dan tos yang sama dengan pendakian  Merbabu, “Godhong mlinjo arane?? SOOOO!!!”

Selfie di dalam basecamp bersama Adinda

Waktu makan di angkringan (makannya di depan rumah orang he he)
Kami berlima melangkah dengan santai sembari bercengkerama. Di awal perjalanan kami melewati jalan cor-coran yang membelah pemukiman warga setempat. Sempat kami salah jalan karena tidak memerhatikan petunjuk arah, dan beruntung kami diingatkan oleh warga setempat yang kebetulan berada di situ. Tak berapa lama kami menelusuri pemukiman warga, kami disuguhi jalanan yang dibuat dari batu-batu yang ditata rapi membentuk sebuah jalan menanjak. Disitulah aku mulai merasa payah. Seperti biasa, beberapa kali aku meminta berhenti untuk mengatur napas. Dan pada akhirnya aku meminta Apen untuk membawakan air mineral milikku dan ditukar dengan gas.
Tak lama kemudian, kami tiba di Pos 1. Di pos 1 terdapat sebuah gubuk yang difungsikan sebagai pos ojek yang menawarkan jasa untuk pengangkutan dari Pos 1 ke basecamp atau sebaliknya. Dari Pos 1, kami tak melihat jalan batu lagi, melainkan kami langsung diperlihatkan tantangan selanjutnya, yaitu tanah menanjak yang berbentuk anak tangga.
Setelah beristirahat sejenak, kami dengan perlahan dan hati-hati menelusuri setapak tanah itu. Ternyata itu adalah jalur yang membelah perkebunan milik warga sekitar. Jalur itu sekaligus jalur perjalanan petani-petani yang hendak berkebun. Sembari menikmati pemandangan perkebunan di malam hari, kami menelusuri setapak demi setapak jalur sempit itu.
Semakin jauh kaki kami melangkah, semakin terjal jalur yang kami lalui. Bahkan kami tidak dapat menemukan bonus yang cukup panjang seperti pendakian Merbabu lalu. Full tracking tanpa bonus, kata seorang teman yang sebelumnya mendaki Prau, memang benar. Kami pun sempat kepayahan menaklukkan tanjakan demi tanjakan yang licin karena basah dan jenis tanah yang liat membuat kami mengalami beberapa kesulitan untuk menapakinnya. Ditambah lagi, kabut yang sangat tebal membuat kami terengah-engah dan kedinginan.
Beberapa kali kami mengistirahatkan diri. Kami duduk enyandarkan diri di pohon atau gundukan tanah, sembari mempersilakan rombongan lain untuk menyalip kami. Dikarenakan jalur yang cukup sempit, kami harus menepi agar pendaki yang akan naik dapat melewati jalur tersebut.
Semakin ke atas semakin terjal, tak jarang Apen dan Dimas mendorong atau menarikku di trek yang sangat terjal, dan Denza sendiri membantu Adinda. Karena kami mendaki bukan di hari weekend, jadi jalur pendakian tidak seramai saat pendakian di hari weekend.
Pukul 23.30 tepat kami menginjakkan kaki di puncak Prau. Pemandangan kabut yang luar biasa mengagumkan menyapa kami disertai hawa dingin yang membuat kami tak bisa diam saja. Para lelaki segera membangun dua buah tenda di tempat yang telah disepakati. Aku dan Adinda menjagai barang-barang lain sebelum tenda itu selesai dibangun. Ternyata lumayan banyak tenda-tenda tetangga di sana, namun tak seramai ketika weekend.
Oke, tenda sudah berdiri semua. Kami bergegas memasukkan semua barang ke tenda. Aku menempati tenda bersama Adinda. Awalnya kami berniat untuk tidur, tapi para laki-laki mengajak untuk sharing-sharing sebentar sebelum tidur. Akhirnya, kami bercengkerama sejenak sambil menikmati mie instan rebus di tengah hembusan kabut dingin puncak Prau.
Malam semakin larut. Hawa yang semakin dingin membuat kami memutuskan untuk tidur agar esok harinya bisa menyambut sunrise yang kami nanti-nanti. Kami pun tidur di dalam sleeping bag masing-masing.
Pukul 4.30 dini hari aku terbangun karena tenda tetangga yang berisik sekali menyalakan radio dengan volume yang cukup keras. Karena sudah terlanjur bangun, yasudah sekalian saja menunggu matahari terbit. Dan ternyata Denza dan Adinda juga tidak bisa tidur dengan nyenyak. Akhirnya kami berbincang-bincang hingga matahari terbit.
Sungguh sangat disayangkan, golden sunrise yang kami nanti-nantikan ternyata muncul tak sesuai harapan. Kabut yang tebal menutupi keindahannya. Namun pemandangan bukit Teletubies dan gunung-gunung lain yang terlihat menjulang seluas mata memandang. Bunga-bunga khas Prau juga memikat hati untuk membidiknya lekat-lekat. Dengan background keindahan-keindahan itu, kami pun berfoto ria di tengah hawa dingin yang sempat membuat Dimas enggan keluar dari sleeping bag hangatnya di dalam tenda.

Sunrise saat kami keluar dari tenda

Sunrise and panorama of Prau Mountain

Foto ini saya beri judul "Grab The Sun", diambil oleh Apen
Suasana sekitar tenda di pagi hari

Waktu sedang asyik berfoto, ternyata ada pendaki lain yang sejak tadi mengamatiku. Tak disangka-sangka dia adalah seorang rekan dari Unit Kegiatan Mahasiswa yang pernah aku ikuti semasa kuliah dulu. Dua orang yang kukenal dari rombongannya, Tejo dan Brian namanya. Dan ternyata letak tenda mereka pun tak jauh dari tenda kami.
Ini dia hasil kami berfoto ria, dari foto selfie sampai minta tolong orang.

Selfie-sukaesih :-P

Ini Dimas

Ini Apen

Ini Adinda

Ini Denza

Ini aku
Di atas bukit teletubies

Ini hasil merayu Tejo untuk menjadi tukang foto :D


Setelah puas berfoto ria, kami lanjut sarapan. Lagi-lagi mie instan, ya hanya itu yang kami bawa, he he he. Kali ini mie goring dan masing-masing membuat minuman hangat. Sembari menunggu matang, kami bercengkerama. Tak ingin melewatkan moment, Apen pun membuat video rekaman gaje untuk dokumentasinya, dari mulai rekaman-rekaman candid sampai video rekaan bakso boraks. Cukup menghibur jika diputar kembali. Sesekali aku berjalan-jalan dengan Adinda untuk melihat-lihat dan memotret bunga-bunga manis yang ada di sana.

Suasana tenda saat memasak

Daisy

Daisy lagi

Daisy juga

Ini kakiku, latar belakangnya Bukit Teletubies

The sky is mine! :D

Sekitar pukul 10 siang kami memutuskan untuk turun. Jalanan yang tadinya terlihat gelap, kini nampak sudah betapa curamnya ketika turun. Tak jarang aku memutuskan untuk perosotan karena takut terpeleset karena tekstur tanahnya memang liat dan licin. Beberapa kali kami juga sedikit terpeleset karena kurang konsentrasi dalam berjalan. Perjalanan turun yang kami perkirakan estimasi waktunya setengah dari perjalanan naik, ternyata sama saja, 4 jam. Kali ini pemandangan terlihat lebih memukau. Telaga Warna, Kawah Sikidang, dan perkebunan warga yang terpetak-petak rapi menjadikan perjalanan turun menjadi semakin menyenangkan.

Karena kaki sakit, Apen memutuskan untuk nyeker

Dimas dan kantong sampahnya

Adinda dan Denza di belakangnya

Pemandangan pada saat turun gunung
Kami tiba kembali di basecamp sekitar pukul 2 siang. Ternyata tempatnya sangat penuh hingga kami kehabisan tempat untuk duduk. Kami hanya bisa nyempil di dekat pintu masuk untuk sekedar menyandarkan badan hingga pada akhirnya mendapat tempat yang agak luas setelah beberapa orang pergi. Setelah kiranya cukup melepas lelah, kami memutuskan untuk pulang. Atas kesepakatan sebelumnya, dalam perjalanan pulang kami berhenti sejenak di gerbang masuk kawasan Dieng Plateau untuk berfoto di depannya. Oh iya, beberapa dari kami juga membeli Carica untuk oleh-oleh.


Mengingat perjalana yang kami tempuh akan cukup jauh, kami memutuskan untuk makan dulu di warung dekat tempat kami berteduh di hari sebelumnya. Setibanya di sana, ternyata hujan pun turun kembali dengan cukup deras. Karena tak ingin membuang-buang waktu dan mengejar waktu agar dapat mengembalikan peralatan tepat waktu, kami memutuskan untuk menerjang hujan dengan menggunakan jas hujan.
 Singkat cerita, kami tiba kembali di Jogja nyaris pukul 9 malam. Kami bergegas menuju tempat persewaan outdoor gear dan berharap masih buka untuk pengembalian barang. Dengan tampang jutek dan nada yang tak enak, kami sedikit lega penjaga persewaan mau menerima pengembalian barang-barang yang kami itu. Setelah beristirahat sejenak di kos Dimas, kami kembali ke kos masing-masing. Seingatku, aku tiba di kos sekitar pukul 11 malam dan langsung memutuskan untuk tidur setelah bersih-bersih badan.
***
Kisah jelajah di atas banyak sekali yang rumpang, karena jika kuceritakan nanti bisa-bisa menghabiskan kertas satu rim, he he he. Walaupun memang perjalanan ini lebih singkat dari sebelumnya, kali ini aku bisa membawa sendiri tas punggungku, walaupun air minum masih diungsikan, sih, hehehe.
Sekian cerita Jelajah Gunung Prau kali ini. Tunggu saja kisah jelajah-jelajah selanjutnya! Dengan kesan yang berbeda, pastinya! :D


 

Selasa, 03 Juni 2014

Willy Nilly

"Isn't anyone try to find me?"
  
Mendengar kalimat introgatif itu terlantun dari speaker mini komputer lipat di depanku saat ini, sekejap aku menyadari ada cerita yang amat menyedihkan yang sudah dan sedang terjadi padaku. Jika aku jabarkan mungkin akan menjadi salah satu elegi yang amat menyedihkan di dunia ini. 
Aku baru saja tersadar akan pikiran-pikiran yang mungkin sebelumnya selalu aku ingkari. Sebuah keadaan di mana aku berada dalam keramaian namun tak satu pun orang yang dapat kusentuh, bahkan kusapa sekalipun. Bahkan lagi aku seperti tertutupi oleh gumpalan kabut yang mengaburkan dan membuat keramaian orang itu seolah mengabaikanku.
Saat ini aku merasakan situasi yang menempatkanku dalam keadaan kesepian di tengah keramaian. Sesuatu yang sudah kujalani selama kurang dari setengah dekade ini kurasa amatlah menyedihkan. Berakhir dengan hilangnya ruangan-ruangan yang dulu pernah membuatku merasa tidak sendiri. Dan itu semua membuatku berpikir bahwa ruang-ruang itu tidak permanen. Hanya terbuat dari kata willy nilly untuk menyeragamkan pikiran-pikiran yang ada di dalamnya.
Bahkan saat ini aku menemukan willy nilly yang lain  melalui ruang-ruang baru yang lain. Entah saat ini aku sedang dipermainkan (lagi) oleh pikiranku ataukah memang seperti ini adanya. Dan sebelum makin banyak kesedihan keburukan yang kucoretkan di laman ini, akan kuakhiri saja pelampiasan hati ini. Mungkin segera kabut ini tersingkap dan menajamkan kembali pandanganku untuk melihat kebersamaan yang nyata dan tidak terkurung oleh sekat-sekat ruang willy nilly yang begitu menyakitkan.

Selasa, 27 Mei 2014

Sewindu

     27 Mei 2014 ini bener-bener hari yang memorial banget. Tiga peristiwa besar diperingati pada tanggal itu. Yang pertama, peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad saw, yang mana pada peristiwa itu Nabi Besar kita mendapatkan perintah untuk menunaikan sholat lima waktu sehari semalam. Yang kedua, tanggal tersebut merupakan peringatan hari kelahiran tanah kelahiranku, Gunungkidul, yang ke-183 yang diperingati dengan serangkaian acara yang bertajuk Green and Great. Yang ketiga, peringatan sewindu gempa Yogyakarta. 
     Nah, kali ini aku ingin menggali sisa-sisa ingatanku tentang peristiwa ketiga, tentang gempa dahsyat yang menimpa Yogyakarta sewindu yang lalu --terhitung mulai hari ini--. Walaupun hitungannya Gunungkidul tidak separah daerah Bantul maupun kabupaten-kabupaten yang lain, gempa 27 Mei 2006 silam tetaplah membekas bagi para warga Gunungkidul. Jadi, begini ceritanya.
***
     Hari Sabtu, 27 Mei 2006, saat itu masih sangat teringat bahwa aku sedang libur usai menjalani UN SMP dan sedang menunggu pengumuman kelulusan. Biasanya, jika sedang libur, aku selalu memanfaatkannya untuk bangun siang dan bermalas-malasan. Tapi hari itu berbeda, karena sedang keranjingan bermain game di laptop baru aku bangun sedikit lebih pagi dari biasanya untuk sekedar bermain dan mengotak-atik laptop baru itu. Seingatku waktu masih menunjukkan pukul 05.30 pagi di hari itu. Saking asyiknya bermain laptop, bapakku yang sedang wira-wiri bersiap untuk ngantor pun terabaikan. 
     Jelang pukul enam pagi, tiba-tiba saja aku mendengar suara gemuruh dan sekejap kemudian getaran yang amat dahsyat terasa mengguncang kursi plastik yang aku duduki. Karena aku tak segera menyadari untuk berlari, bapakku langsung menyeretku keluar kamar sambil berteriak "Gek ayo mlayu!"  Kami berlari menuju pintu depan --karena itu pintu terdekat dari posisi kami-- dan gagal membuka kunci pintu karena guncangan yang sangat kuat. Langsung kemudian bapakku menarikku untuk berlari lewat belakang rumah. Saat itu hampir saja sepotong genteng oranye menjatuhi kepalaku, namun beruntung tidak mengenaiku. 
     Semua tetangga memenuhi jalan setapak di sekitar rumah. Getaran itu adalah yang terlama yang pernah kualami, saat itu belum diketahui seberapa lama dan seberapa kuat getaran itu terjadi. Di luar, langsung aku menangis karena ketakutan sambil memeluk punggung bapakku, namun segera terhenti setelah mendapat cibiran dari anak kos sebelah rumah. Kakakku yang saat itu masih tertidur pulas pun terbangun namun ia keluar rumah setelah gempa berhenti. Entah apa alasannya pada waktu itu, mungkin ingatanku tentang itu masih belum muncul lagi. Kemudian kami sekeluarga kebingungan bagaimana mengeluarkan almh. nenekku --sekarang sudah berada di Rahmatullah-- yang terbaring sakit di tempat tidur. Saat itu nenekku sudah tidak bisa beranjak dari tempat tidur, sekalipun bisa itu dengan bantuan orang lain --dipapah atau digendong--.
     Setelah kejadian itu, keluargaku dan tetangga-tetanggaku bersiaga selalu di pelataran rumah. Ada yang sibuk memindahkan mobil-mobil di tanah lapang, ada yang mendengarkan siaran radio untuk memantau update-update terbaru tentang gempa --saat itu radio tua milik bapakku selalu manjer siaran dari RRI-- yang tak berapa lama setelah kejadian diumumkan bahwa kekuatan gempa mencapai 5,9SR selama 57 detik, ada yang berusaha menghubungi sanak saudara walaupun pada saat itu jaringan benar-benar menjadi kacau, ada pula yang berkumpul di satu titik strategis saling berbagi cerita saat gempa terjadi.
    Beberapa kali gempa susulan datang. Pada saat gempa susulan yang entah ke berapa, teriakan minta tolong dari dalam rumah tetanggaku. Ternyata tetanggaku, sebut saja Pak SS, terjatuh dari atap rumah. Beliau dipapah keluar rumahnya dan terlihat darah-darah menetes dari tubuhnya. Segera saja dengan sigap tetanggaku yang lain menyiapkan mobil dan Pak SS dilarikan ke rumah sakit. Alhamdulillah, beliau terselamatkan dan hingga tulisan ini terbit beliau dalam keadaan InsyaAllah sehat walafiat. 
     Isu-isu tak bertanggung jawab mulai bermunculan, salah satunya adalah isu terjadinya Tsunami. Isu yang tak bertanggung jawab itu pun sedikit banyak sudah membuat warga sekitar rumahku --termasuk keluargaku-- panik dan lebih berwaspada untuk segera beranjak ketika Tsunami itu benar-benar datang. Namun, berita hoax itu tak menunjukkan kebenarannya. 
     Dua malam keluargaku dan tetangga-tetangga yang lain  tidur di teras rumah masing-masing. Kemudian, keluargaku memutuskan untuk kembali ke dalam rumah dengan siaga dan berdoa agar tidak ada gempa susulan lagi. Siaran televisi pun selalu diarahkan ke sumber-sumber update tentang bencana yang terjadi. Dari televisi kami melihat betapa agungnya kekuatan Allah swt untuk memperingatkan umatnya. Getaran 5,9SR dalam waktu 57 detik dapat meluluhlantakkan Yogyakarta.
     Trauma, tentu saja. Sampai-sampai suara tikus yang berlarian di atas langit-langit rumah bisa membuat sekeluargaku sekejap menghambur keluar rumah. Hingga saat ini pun, ketakutan yang amat sangat masih menyelimuti ketika tanah Jogja kembali merasakan guncangan gempa, meskipun tak sehebat saat itu.
     Selepas kejadian itu, banyak sekali bala bantuan tertuju untuk membangkitkan kembali Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai dari bantuan material maupun spiritual. Wilayah kami pun tak luput dari bantuan-bantuan itu. Ada satu yang agak menggelitik dari ini. Ibuku --mungkin juga yang lain-- selalu menamai bantuan makanan yang datang dengan embel-embel gempa, misalnya roti gempa, mie gempa, susu gempa, dan sebagainya, dikarenakan merk-merk yang diberikan agaknya sedikit asing di mata kami.
***
     Mungkin hanya sedikit saja memori yang dapat kuceritakan di laman ini. Tak henti doa untuk para korban jiwa di peristiwa ini, semoga keluarga yang ditinggalkan semakin tabah dan ikhlas, karena ini semua adalah cobaan dari Allah swt. Dari sedikit memori ini, diharapkan pula dapat selalu menjadi pengingat bahwa kekuatan Allah swt adalah mahadahsyat dan tidak ada keraguan di dalamnya. Kita sebagai umat-Nya, haruslah bercermin diri dari peristiwa itu untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan diri kepada Allah swt.

Jumat, 23 Mei 2014

Bolehkah?


Bolehkah kau kusebut mimpi? Aku sudah mempersiapkan jawaban jika nanti kau mengucapkan kata tanya "mengapa". 
Jawabannya ada pada kehadiranmu yang aku pun tak bisa menyadari apakah aku sedang terjaga ataukah sedang terbuai dalam pelukan mimpi. Di antara keduanya, mungkin aku lebih memilih jika kau hadir hanya dalam mimpi saja, karena aku akan segera diselamatkan oleh hadirnya pagi dan akan segera melupakanmu sebelum kau hadir kembali dalam mimpi-mimpi selanjutnya.
Aku tak pernah mempertanyakan soal kehadiranmu itu. Aku selalu menganggapnya sebagai salah satu permainan yang dilancarkan oleh pikiranku sendiri. Ya, seperti biasa, karena aku memang suka bermain-main dengan pikiranku sendiri. Aku bisa bahagia bahkan menangis miris karenanya. Jadi akan kubiarkan saja, sampai nanti kau sendiri yang memilih, untuk tinggal atau pergi.

Rabu, 21 Mei 2014

Jelajah: Gunung Merbabu (3145 mdpl)



Tanggal 5 Mei 2014 lalu, aku bertemu dengan teman lamaku waktu SMA dulu di sebuah tempat jajan di Jogja. Sebelumnya aku mengetahui bahwa ia dan dua orang teman SMAku yang lain akan melakukan pendakian di Gunung Merbabu di hari Jumatnya, tanggal 9 Mei 2014, maka dari itu, aku tanyakan saja tentang hal itu sebagai bahan pembicaraan. Dan seperti yang sudah kuperkirakan, aku diajak serta. Namun, karena di akhir pekan minggu tersebut aku ada kegiatan lain, jadi aku menolak. Oke, kuanggap obrolan itu sudah selesai ketika temanku itu pergi.
***

 Tanggal 8 Mei 2014, saat itu sudah dapat dikatakan malam hari. Karena beberapa hari yang lalu aku baru bertemu teman lamaku, yaa untuk mempererat silaturahmi aku mem-BBM dia sekedar iseng menanyakan pendakian yang akan dilancarkan besoknya, dan iya aku diajak lagi dan aku menolak lagi karena alasan terlalu mendadak jika ikut.
Saat itu aku memasang display picture sebuah screen capture lirik lagu legendaries, yaitu I Don’t Wanna Miss A Thing yang dinyanyikan oleh Aerosmith. Seorang teman tiba-tiba mengomentari display pictureku dan kemudian ngobrol tentang film Armageddon sejenak. Kemudian tiba-tiba ia bilang, “Tanggal 10 badhe nderek Merbabu?” ini adalah ajakan kedua, dan lagi-lagi harus kembali kutolak dengan alasan terlalu mendadak.
Dengan sangat menyesal aku menyiakan kedua ajakan itu, dan akhirnya aku meng-update status di BBM begini, “Dua ajakan melayang sudah *dadah2 ke puncak Merbabu :’)*”. Beberapa menit setelah aku update status, teman SMAku –bukan yang aku temui di tempat jajan tadi— yang ikut mendaki juga pada hari Jumat mengompor-ngompori untuk ikut serta. Kali ini alasan-alasan penolakanku tak berlaku, dan akhirnya aku diundang ke sebuah group chat yang berisi tiga teman SMAku yang akan mendaki pada hari Jumat itu –pada waktu itu, hari Jumat adalah besok— dan semuanya sama saja, membujukku supaya ikut dengan alasan jumlah mereka yang ganjil lah, biar rame lah, dan lain-lain lah pokoknya sehingga pada akhirnya aku memutuskan untuk ikut. Keputusan “iya” tentunya aku berikan karena aku langsung meminta izin ke kedua orang tuaku yang mungkin malam itu sudah tidur dan terbangun karena SMSku yang begitu mendadak itu. Walaupun pada awalnya tidak mengizinkan, namun dengan sedikit rengekan berhasil membuat ayahku mengiyakan dengan syarat dan ketentuan berlaku. Yak dan saat itu jam menunjukkan pergantian hari. Keputusan yang agak gila, bukan? Tak ada persiapan yang jauh, perempuan berparu-paru lemah dan langka olah raga seperti aku bisa mengiyakan pendakian yang “nggak main-main”. He he he…
Oke. Setelah mengiyakan ajakan tadi, aku langsung kelabakan menyiapkan segala keperluan untuk hari Jumat itu. Beruntung adik-adik rumah sewa baru pada pulang dan bersedia meminjami beberapa kebutuhan untuk mendaki. Agak tenang dan aku harus segera tidur.
***
Paginya, aku masih berusaha mencari kebutuhan yang lain, yang utama adalah alas kaki. Beruntung lagi dan lagi, seorang teman berbaik hati mengantarkan sandal gunung dari kampong untuk aku pinjam. Kemudian aku segera menghubungi seorang kakak yang serumah sewa juga denganku –note: dia sudah berpengalaman naik gunung— untuk menanyakan list bekal yang harus dipersiapkan. Dengan panjang dia menjelaskan dari A-Z melalui media chat karena sedang berada di kampung halaman. Setelah itu langsung kubuat check-list untuk memastikan nantinya tidak ada yang terlupa. Daaaan…jelang waktu Dzuhur aku sudah siap. Kemudian tiba-tiba hujan turun, sekejap kemudian aku berekspektasi macam-macam jika waktu pendakian nanti masih saja hujan. Namun, syukut Alhamdulillah tak lama kemudian hujan pun reda.
Menjelang jam 2 siang, aku dijemput salah satu temanku untuk menyewa beberapa peralatan yang belum tersedia di salah satu tempat persewaan outdoor gear di dekat kampus dan kemudian berkumpul dahulu di rumah sewa temanku itu bersama teman yang lain. Sesampainya di sana, jengjeeeeng..ternyata nambah dua orang personel lagi, dan ini benar-benar fix aku adalah satu-satunya personel perempuan di pendakian ini –awalnya sih sudah mengajak salah satu teman perempuan lagi, tapi batal karena dia akan menjalani ujian di hari Senin—. Setelah sekitar setengah jam packing, kami berenam berangkat dari Yogyakarta menuju Boyolali, Jawa Tengah dengan berbonceng-boncengan menggunakan sepeda motor dengan harapan hujan tak akan menyiram kami di jalan.
Ada cerita yang menggelitik ketika kami mampir di salah satu mini market waralaba di daerah Palagan. Salah satu temanku hendak membayar untuk beberapa botol air mineral, dua kali uangya –selembar seratus ribuan dan lima puluh ribuan— ditolak oleh kasir karena lecek dan diduga palsu. Namun, akhirnya diterima –yang lima puluh ribuan— karena temanku bilang tidak jadi beli kalau uangnya ditolak lagi. 


Narsis dikit di depan mini market daerah Palagan

Oke, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Boyolali. Setelah sekitar 2/3 jam, kami memasuki kawasan Selo. Oh iya, memang dari awal kami sudah merencanakan untuk mendaki Merbabu melalui jalur Selo, Boyolali. Daaaaan, ternyata tidak ada satupun di antara kami yang pernah ke sini. Bermodalkan tanya sana sini dan sempat agak berdebat juga, akhirnya sekitar pukul 17.00 kami tiba di basecamp pendakian Merbabu milik Pak Narto. Kemudian kami melakukan isoma sebelum melakukan pendakian ke Gunung Merbabu. 
Memasuki kawasan Selo, saat bertanya di salah satu rumah warga.

Hari sudah gelap, dan kami memutuskan untuk berangkat naik. Kurang lebih jam 6 petang waktu setempat, kami melakukan briefing dan pemanasan sedikit sebelum berangkat. Dan tak lupa, kami berfoto dulu sebelum berangkat.

Narsis dulu di depan basecamp Pak Narto, sebelum pendakian.

Oh iya, biar aku perkenalkan dulu personel pendakian ini. Berdasarkan foto di atas, yang paling tinggi dan botak adalah Denza, sebelahnya dan yang di belakang adalah personel tambahan yang di awal aku tidak mengenali namanya namun setelah diperjalanan aku mengetahui namanya adalah Bobby –sebelah kananku—dan Bayu –yang di belakang—. Sebelah kiriku Dimas, dan yang jongkok memeluk tas adalah Apen –kedua tambahan personel tadi adalah temannya—. Kunamai tim kami The Godhong Mlinjo Team. Karena yel-yel tos kami adalah “Godhong mlinjo arane?? SOOOO!!” he he he…agak garing tapi ya itulah.
Kami berenam berjalan perlahan memasuki gerbang pendakian. Dan seperti ekspektasiku di awal, tas yang begitu berat karena 3 liter air membuatku sangat payah padahal baru berjalan beberapa langkah dari gerbang masuk. Kemudian para laki-laki strong memutuskan untuk mengambil air di dalam tasku untuk dipindahkan ke tas mereka dan ada satu yang ditenteng agar mudah saat kehausan nanti. Perjalanan kami lanjutkan kembali. Seperti cerita-cerita pendakian yang laln, salah satu temanku yang sudah berpengalaman mendaki gunung mengatakan agar semuanya tidak ragu untuk mengatakan jika merasa lelah atau butuh menghela nafas. Dan benar saja, di antara mereka aku yang paling rewel, he he he… Baru beberapa meter dari transaksi botol air tadi, aku minta break. Nafas memang terasa berat karena kabut dan kami berebut oksigen dengan pepohonan di sana. Kemudian dengan inisiatif, Denza menawarkan diri untuk membawakan tasku –yang menurutku lumayan berat untuk ukuranku—. Dengan sedikit tak enak hati aku memberikan tasku padanya. “Wah, lha malah dadi seimbang ki aku nggendong tas ngarep-mburi,” celetuk Denza saat kami kembali melanjutkan perjalanan. Kami berjalan kembali sambil mencari ranting-ranting untuk pegangan dan untuk membuat api unggun saat ngecamp nanti.
Karena sering berhenti, estimasi waktu menuju Pos 1 yang tadinya sekitar satu jam menjadi sekitar dua jam kami baru mencapai Pos 1. Di Pos 1 kami bertemu dengan sekelompok pendaki. Setelah sedikit berkenalan –walaupun tidak memperkenalkan nama, hanya menyebutkan daerah asal kami masing-masing—salah satu dari mereka bercerita berbagi pengalaman mendaki dan menunjukkan jalur yang nyaman untuk menuju pos selanjutnya.
Oh iya, ada istilah keren dalam perjalanan kami. Jalan yang lurus –bukan tanjakan maupun turunan—kami menyebutnya sebagai ‘bonus’. Dan ketika kami break  dan menemukan tempat istirahat yang nyaman, salah satu teman menyebut-nyebut “Wah, sofane empuk tenan,” he he he.. lucu, bukan? Dan sangat menyenangkan jika kami bertemu dengan pendaki lain. Saling menyapa dan menyemangati, itu salah satu suntikan energi yang cukup berarti, walaupun tak saling mengenal.
Setelah berjalan cukup jauh, kami tiba di Pos 2. Aku tak ingat lagi waktu menunjukkan pukul berapa. Mungkin sudah mendekati pukul Sembilan malam. Kami berhenti untuk break lagi beberapa menit untuk minum dan sedikit bercengkerama. Kemudian kami lanjut naik lagi dan bertemu dengan beberapa pendaki yang sedang menghidupkan api unggun untuk menghangatkan diri sejenak. Sekedar menyapa dan bertanya, para pendaki itu mengatakan bahwa di situ adalah Pos 3. Tapi kami tidak melihat adanya papan atau tanda yang menunjukkan bahwa itu Pos 3. Namun, kami memutuskan untuk istirahat sejenak untuk membuka bekal kami dan menyedu minuman –mumpung sudah ada api yang menyala—. Setelah cukup menghangatkan diri, melanjutkan perjalanan kembali karena kami yakin itu bukanlah Pos 3 yang sesungguhnya. Dimas dan Apen memutuskan untuk jalan mendahului untuk menemukan Pos 3 agar mereka bisa segera mendirikan tenda dan menyalakan api unggun untuk ngecamp di sana.
Beberapa langkah meninggalkan tempat sebelumnya, tiba-tiba aku terserang kedinginan yang dahsyat. Sampai-sampai ujung jari tangan dan kakiku tak terasa lagi. Kemudian, Bobby menyuruhku untuk menggunakan melapisi lagi kaos kakiku dan memakai jaket double. Karena jaket cadangan yang kubawa sangat ribet untuk dipakai, Bobby meminjamiku jaket miliknya beserta syal untuk leher agar lebih hangat lagi. Setelah berjalan dengan kepayahan dan kedinginan, kami akhirnya menemukan lokasi untuk mendirikan tenda. Namun, kami tidak menemukan adanya tanda-tanda yang menunjukkan bahwa itu adalah Pos 3. Tapi, karena sudah merasa kelelahan dan kelaparan, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di situ.
Setelah dua tenda berdiri, kami berenam menghangatkan diri di dekat api unggun sembari menyedu minuman hangat, memasak mie instan, dan berbagi bekal masing-masing. Jelang tengah malam, kami memutuskan untuk tidur untuk menimbun energi agar bisa melanjutkan perjalanan kembali.
Ada cerita menggelitik lagi. Karena baru ingat kalau melewatkan sholat Maghrib dan Isya’, sebelum tidur aku melaksanakan sholat jamak takhir terlebih dahulu. Setelah melakukan tayamum, aku memulai sholat di atas matras yang sudah digelar dan digunakan sholat terlebih dahulu oleh Dimas. Setelah selesai melakukan sholat Maghrib, tiba-tiba Dimas menyeletuk bahwa arah sholatku salah. Sontak aku membalik arah sholatku dan menyelesaikan ibadah dengan agak tidak khusyuk karena kagol arah sholat dan hawa dingin yang dahsyat. Nah, baru setelah meninggalkan tempat ngecamp itu aku menyadari bahwa setelah berbalik arah pun, arah sholatku pada waktu malam harinya masih saja melenceng. Yah, namanya juga manusia, serba tidak tahu. He he he…
Pukul 03.00, tenda milik Bobby dan Bayu sudah ringkas dan dimasukkan ke dalam tas. Setelah berunding beberapa saat, daripada menunggu tenda satunya dirapikan, Bobby dan Bayu memutuskan untuk naik terlebih dahulu dan menunggu kami –sisanya—di puncak Merbabu. Setelah kepergian Bobby dan Bayu, kami memutuskan untuk menyedu minuman terlebih dahulu. Namun, aku hanya tiduran di matras sambil menikmati bintang-bintang yang terlihat lebih dekat dari biasanya. Beberapa kali aku melihat bintang beralih di sana. Amazing! Seperti sedang berada di dalam planetarium.
Setelah mengemasi barang, tepat pukul 05.00 kami memutuskan untuk naik. Namun, beberapa langkah dari tempat mendirikan tenda tadi, aku merasa sangat payah dan sekejap kemudian merasa desperate bisa melanjutkan perjalanan lagi atau tidak. Akhirnya, kami berempat memutuskan untuk menanti sunrise di situ sembari memakan bekal karena mereka tahu aku sama sekali belum makan setelah bangun tidur tadi, makanya tidak kuat naik.
Sunrise pun datang. Kami keranjingan foto-foto ria bersama sang mentari 10 Mei 2014. Berikut beberapa hasil jepretan kami. Indah, bukan?

Matahari 10 Mei 2014



Setelah matahari cukup terang, kami berkemas dan melanjutkan perjalanan naik lagi. Tiga laki-laki yang bersamaku menyemangatiku tiada henti. Mereka menyuruhku untuk naik duluan agar bisa istirahat lebih lama jika kami break. Setelah beberapa lama melangkah melalui medan yang makin sulit, kami tiba di tempat yang kami duga sebelumnya adalah Sabana 1 (Pos 4). Ternyata tempat itu adalah Pos yang pada rencana awal akan menjadi tempat ngecamp kami, Pos 3! Tapi kami bersyukur tidak jadi mendirikan tenda di situ, karena tempatnya sangat terbuka dan anginnya begitu kencang.
Sekejap kemudian, Dimas menunjukkan jalur menuju Pos 4 yang sebenarnya. Aku hanya bisa mengangakan mulut. Di depan mata terpampang track yang amat menanjak dari sebelumnya. Lagi-lagi aku merasa desperate, dan ketiga laki-laki ini kembali menyemangatiku. Dengan tak henti-hentinya berdoa, aku meyakinkan diri untuk melaluinya. Dan kami berangkat dengan penuh semangat melalui track tersebut.
Semakin ke atas, jalan yang dilalui semakin terjal. Bahkan kemiringannya mencapai 450, mungkin bisa lebih. Takut ketinggian, ya itu aku. Ketiga laki-laki ini melarangku untuk menoleh ke bawah hingga kami menemukan lokasi yang nyaman untuk duduk beristirahat dan sedikit bernarsis ria. 

Belum terlalu nanjak nih, jadi bisa narsis berempat dengan modus timer.

Dimas (kiri) dan Denza (kanan)

Selfie bersama Apen. Gagal paham lah sama senyum kami ini. He he..

Gunung Merapi yang tampak amazing dalam perjalanan menuju Sabana 1.

My Heroes! :D

Ini kakiku. Lihat, tenda-tenda di Pos 3 itu tampak seperti miniatur hotel monopoli.

Cukup miring, bukan?

Setelah tanjakan yang terjal, kami menemukan tanah lapang yang agak luas, ada dua tenda berdiri di situ. Kami beristirahat dan berfoto-foto di lokasi tersebut. Namun, perjuangan kami belumlah usai. Pos 4 masih berlokasi di setelah-satu-tanjakan-panjang-dan-terjal lagi. 

Panorama: Gunung Merapi (kiri) dan Gunung Sumbing (tampak kecil di kanan)

Timer mode lagi! Pantatnya dekil-dekil, ha ha ha...


Ketemu sama Dandelion! Ini hasil memotret dengan very-low-angel dengan posisi tiduran sampai-sampai dikira pingsan.

Seorang teman berkomentar pada foto ini: "Dandelion: di mana aku jatuh, di situ aku tumbuh,"

Bunga Edelweis! Pertama kalinya lihat bunga ini versi seger!

Di tanjakan terakhir menuju Sabana 1, aku bertemu bule –memang ada banyak pendaki asing yang melakukan pendakian di gunung Merbabu— yang seolah-olah berkata “Welcome to Sabana 1!”. Setelah meletakkan tas dan mengatur napas, aku melihat-lihat pemandangan indah di sekitar Sabana 1, banyak yang ngecamp di situ.
Sangat disayangkan, perjalananku berakhir di Sabana 1. Kenapa? Di situ aku sudah merasakan paru-paruku yang kembali kambuh infeksinya. Akhirnya, ketiga laki-laki yang bersamaku memutuskan untuk mendirikan tenda untukku agar aku bisa tidur sembari menunggu mereka muncak. Dengan berat hati aku menerima keputusan itu. Yah, daripada aku pingsan di jalan dan merepotkan yang lainnya.
Setelah memasak dan makan mie instan serta menyeduh minuman, Dimas, Denza, dan Apen bersiap untuk berangkat. Mereka meninggalkan carrier-carrier besar mereka di dalam tenda dan membawa perbekalan secukupnya dengan tas slempang kecil milik Dimas, dan tak lupa kamera untuk berfoto di puncak nanti. Tepat pukul 09.00 mereka berangkat, dan aku beranjak ke peraduan di dalam tenda, he he he…
Lima jam mereka meninggalkan aku sendirian di tenda, dan aku hanya bisa menyimak cerita-cerita pendaki lain yang ngecamp di situ juga yang sedang bercerita satu sama lain. Sekitar jam 2 lebih, aku mendengar suara Denza memanggilku. Mereka sudah kembali dan segera saja mengatakan bahwa memang seharusnya aku tidak serta mendaki ke puncak. Mereka yang laki-laki saja sudah hampir pingsan kepayahan, apalagi jika aku ikut. 

Puncak Merbabu, 3145 mdpl. Semoga suatu saat aku mencapaimu.

Setelah makan mie instan yang tersisa dan beristirahat sejenak, kami berkemas dan pukul 15.00 tepat kami memutuskan untuk turun. Jalur yang tadinya menanjak terjal, kiri menjadi turunan yang sangat curam. Aku tak lagi berani menegakkan kakiku dan memutuskan untuk perosotan menuruni jalur yang curam menuju Pos 3. Kali ini, tas yang tadinya dibawakan oleh Denza kubawa sendiri karena sudah terasa lebih ringan saat kami turun. Setelah berperosotan ria –sampai-sampai menghambat pendaki yang akan naik, he he he..— kami sampai di Pos 3. Kami sudah kehabisan perbekalan, hanya tinggal air mineral yang tersisa. Kami mengejar waktu agar sampai di basecamp tidak terlalu malam, jadi kami tidak terlalu banyak break pada saat turun.
Saat turun, kami melihat pemandangan yang berbeda dengan segala kegelapan yang kami lihat pada saat naik. Lelahnya pun berbeda. Pada saat naik, napaslah yang membuat kewalahan, namun pada saat turun, betis yang terasa sakitnya karena menahan beban pada saat melangkah turun.
Memang benar, estimasi waktu untuk turun gunung diperkirakan hanya setengah waktu naik. Benar saja, kami tiba kembali di basecamp Pak Narto pukul 19.30. Bahkan hanya seperempat dari lama waktu naik. Di basecamp kami berkumpul kembali bersama Bobby dan Bayu yang menunggu kami di basecamp karena tidak berhasil menemukan tenda di mana aku tidur pada saat di Sabana 1. 

Nasi telur dan teh hangat ala basecamp Pak Narto, yang paling ditunggu saat perjalanan menuruni Gunung Merbabu.

Kami beristirahat, makan, bercengkerama, dan tidur sejenak. Ketika terbangun, aku menyusul Dimas, Bobby, dan Bayu yang ternyata sedang menghangatkan diri di sekitar tungku di dapur istri Pak Narto. Setelah duduk di dipan dekat tungku, ada kejadian unik di tengah dinginnya hawa Selo. Aku dan Dimas takjub melihat istri Pak Narto mencuci piring menggunakan air mendidih di atas tungku yang menyala. “Mboten panas nopo, Bu?” Celetuk Dimas. “Mboten mas, anget kok,” Ibu itu menjawab dengan ceria.
Setelah semuanya terbangun, kami memutuskan untuk pulang setelah sebelumnya Pak Narto menyarankan kami untuk pulang keesokan harinya saja. Setelah motor dipanaskan, kami berenam pulang melalui jalur yang kami anggap cepat. Di tengah perjalanan, masih di kawasan Selo, persediaan bensin kami menipis, sedangkan semua warung penjual bensin sudah terlelap dalam gelap dan dinginnya Selo. Willy nilly, Bobby dengan inisiatifnya mengetuk warung-warung, berharap ada yang masih terjaga pada jam itu. Setelah kurang lebih mengetuk lima warung, akhirnya ada satu warung yang bersedia membukakan pintu untuk dilarisi bensinnya.
Akhirnya, kami tiba kembali di rumah sewa Dimas tepat tengah malam. Setelah beristirahat sejenak sambil menyeduh minuman hangat dan bercengekrama sejenak, kami pulang ke rumah sewa masing-masing, mengingat semua dari kami masih punya agenda di hari Minggu terang, walaupun pada akhirnya semuanya batal. He he he…
***

Ternyata cerita 09-10 Mei 2014 menyita cukup banyak tempat di blog ini. He he he... Oke, setelah sekian lama akhirnya aku merasakan dahsyatnya pendakian gunung yang sesungguhnya. Tanpa persiapan pula! Namun, kata ketiga teman laki-lakiku itu, sudah hebat aku yang tanpa persiapan fisik apapun bisa mendaki Gunung Merbabu walaupun tidak sampai ke puncak.
Kapok? Tentu saja tidak. Malahan aku menunggu ajakan lain setelah kesakitan di kakiku ini sudah hilang. Tentunya dengan persiapan yang sungguh-sungguh.