Siang itu seperti biasa aku berjalan melewati deretan toko bunga dalam perjalanan menuju stasiun komuter. Mataku selalu saja tertuju pada gerombolan favoritku, bunga matahari yang seolah-olah mengatakan ‘selamat siang’ padaku.
Saat itu tiba-tiba dalam benakku muncul satu pertanyaan, kapan ya ada seorang lelaki membeli seikat bunga matahari yang kuning itu kemudian datang memberikannya padaku seraya bertanya ‘maukah kau menikah denganku?’? Hmm.. tak lama kemudian sudut mataku mulai sedikit basah.
a heavy rotation
see my little life here
Kamis, 28 Mei 2020
Senin, 16 September 2019
Selasa Malam, Hari di Mana Aku Menyadarinya
Mengingatmu itu mudah. Aku hanya perlu memesan segelas kopi dan seketika itu pula kamu akan datang di pikiranku. Ya, kopi memang identik dengan dirimu, dan bagaimana aku mengenalmu.
Mungkin terkadang aku masih merindukanmu. Merindukan saat kau bercerita tentang banyak hal. Namun, takdir tak mengizinkanku mendengarkan ceritamu lebih jauh lagi.
Oh iya, aku teringat. Sampai detik ini ada satu hal yang kusesalkan, mengapa kau pun tak pernah mengizinkan aku untuk mengenalmu lebih jauh lagi? Bahkan kau memutuskan untuk mengakhiri cerita di saat kita sama-sama terbelit ego. Hal yang seharusnya bisa kita bicarakan secara baik-baik.
Kau tahu? Aku bahkan telah membangun banyak mimpi untuk kita. Mungkin aku memang salah, terlalu berharap, dan oh! aku ingat, aku tidak menyadari ketidakberaturan pikiranmu itu ternyata bisa separah mengacaukan impianku.
Ya, memang manusia bisa berubah pikiran. Tapi tidak seperti ini ketika kita melibatkan hati. Apakah hati yang patah itu bisa berubah menjadi utuh kembali secepat berubahnya pikiranmu? Tentu tidak.
Huft. Dan aku semakin lekat dengan kopi, semakin menikmatinya. Tapi apakah aku akan menikmati ingatan tentangmu yang selalu muncul ketika aku meneguk kopi ini? Aku kira tidak. Aku harus bergegas menghapusnya. Bahkan kini aku berterima kasih, karenamu aku akan menjadi lebih baik lagi.
Mungkin terkadang aku masih merindukanmu. Merindukan saat kau bercerita tentang banyak hal. Namun, takdir tak mengizinkanku mendengarkan ceritamu lebih jauh lagi.
Oh iya, aku teringat. Sampai detik ini ada satu hal yang kusesalkan, mengapa kau pun tak pernah mengizinkan aku untuk mengenalmu lebih jauh lagi? Bahkan kau memutuskan untuk mengakhiri cerita di saat kita sama-sama terbelit ego. Hal yang seharusnya bisa kita bicarakan secara baik-baik.
Kau tahu? Aku bahkan telah membangun banyak mimpi untuk kita. Mungkin aku memang salah, terlalu berharap, dan oh! aku ingat, aku tidak menyadari ketidakberaturan pikiranmu itu ternyata bisa separah mengacaukan impianku.
Ya, memang manusia bisa berubah pikiran. Tapi tidak seperti ini ketika kita melibatkan hati. Apakah hati yang patah itu bisa berubah menjadi utuh kembali secepat berubahnya pikiranmu? Tentu tidak.
Huft. Dan aku semakin lekat dengan kopi, semakin menikmatinya. Tapi apakah aku akan menikmati ingatan tentangmu yang selalu muncul ketika aku meneguk kopi ini? Aku kira tidak. Aku harus bergegas menghapusnya. Bahkan kini aku berterima kasih, karenamu aku akan menjadi lebih baik lagi.
Sabtu, 11 Mei 2019
Lagu Rindu Satu Minggu
Ada keramaian di sana
Ya, diotakku, ramai ngiang nyanyianmu
malam itu.
Malam itu kau nyanyikan lagu rindu
dan aku yakin, gelombang suaramu pasti
menujuku.
Sudah enam ratus empat ribu delapan
ratus detik kita tak bertatap mata
Seperempat bulan yang lalu, kau janjikan
lagu itu untukku
Lagu rindu yang tengah ramai ngiangnya
di benakku
kini.
Seratus enam puluh delapan jam ke depan
Kau janjikan lagi lagu rindu yang lain
Dan akan kusiapkan celah di otakku
Untuk ramainya ngiang lagu rindu itu
Come Back Greeting 😊
Halo! Finally I'm back!
Hmmm... sudah 5 tahun lamanya ngga menengok blog usang ini.
Kira-kira, sekarang masih ada yang suka bacain/nulis blog gini ngga ya?
Di waktu yang lumayan gabut dan ngga ngapa-ngapain ini, aku mau ngeposting beberapa tulisan, emm atau mau berpuitis ria di sini.
Mudah-mudahan bisa berlanjut ngebacot lagi di blog alay ini haha.
Thank you 😊
Hmmm... sudah 5 tahun lamanya ngga menengok blog usang ini.
Kira-kira, sekarang masih ada yang suka bacain/nulis blog gini ngga ya?
Di waktu yang lumayan gabut dan ngga ngapa-ngapain ini, aku mau ngeposting beberapa tulisan, emm atau mau berpuitis ria di sini.
Mudah-mudahan bisa berlanjut ngebacot lagi di blog alay ini haha.
Thank you 😊
Sabtu, 08 November 2014
Paragraf Italic
Pemikiran-pemikiran fiktif mulai bergelantungan di ujung jariku yang tak begitu lentik, hingga baris-baris ini pun muncul begitu saja di layar ponsel kecil yang berada di hadapanku malam itu. Yah, memang ketika otak sedang merasa tertekan biasanya muncul imaji-imaji yang semakin mengacau. Mungkin sedikit imaji itu tergambar dalam paragraf-paragraf berhuruf Italic berikut ini.
*
Aku tak tahu pasti kapan aku mulai membangun ruang untukmu di kepalaku.
Aku pun tak yakin seberapa kuat pondasi itu tertanam di otakku yang
sudah penuh liku ini. Yang nyata, semenjak cengkerama singkat waktu itu
telah berhasil membuat mesin pengingat di otakku bekerja setiap hari
untuk mencitrakan pikiran tentangmu, barang sedetik saja dan akan
sekejap memciptakan kejutan kecil di hatiku.
Aku tahu, menulis seperti ini adalah hal yang pasti akan menjadikanmu berubah. Entah itu berubah menjadi searah atau berlawanan arah dengan pikiranku. Hanya saja, saat ini aku hanya ingin kau membacanya, bahwa sudah sangat lama sejak terakhir kali aku merasakan hal seperti ini. Merasakan panasnya api yang kali ini menyala karena percikan pemantik kecil yang ada di tanganmu. Namun aku terlalu takut untuk mendekat, aku tak sanggup, bahkan untuk sekedar menikmati hangatnya. Hujan sudah menggantung di atas sana. Kapan saja rintiknya akan jatuh melenyapkan kehangatan itu dan hanya akan meninggalkanku bersama keresahan tentangmu.
Selasa, 15 Juli 2014
Jelajah - Gunung Prau (2565 mdpl)
This is another latepost story ^^
--
Jelajah kali
ini adalah pendakian gunung keduaku. Ya, boleh dibilang lebih rendah
ketinggiannya, tapi lumayan lah untuk persiapan menuju pendakian-pendakian yang
selanjutnya (aamiin). Kali ini tujuannya adalah chasing sunrise di puncak Gunung Prau, Dieng, Wonosobo, Jawa
Tengah. Penasaran dengan kisah perjalannya? Mari, akan saya ceritakan mulai
paragraf selanjutnya.
***
Seperti biasa,
akan kuceritakan bagaimana awalnya aku bisa ikut serta dalam perjalanan jelajah
kali ini. Tanggal (lupa) malam, seperti biasa aku selalu menyimak recent update di sebuah perpesanan
instan ponselku. Kulihat tiga teman perjalananku di Merbabu tempo hari, Apen,
Denza, dan Dimas, memasang status yang begitu kompak. Ketiganya menuliskan
kurang lebih sama seperti ini, “Gunung Prau, 17 Juni 2014, siapa ikut?”. Nah,
begitu membaca itu aku langsung bergegas mengomentari status mereka
masing-masing. Tanggapan yang berbeda namun seirama, mereka menawariku untuk
serta dan kemudian dibuatlah kembali grup percakapan bersama.
Dari
percakapan bersama itu, Denza mengusulkan untuk mengajak Adinda. Adinda adalah
adik kelas kami sewaktu SMA dulu sekaligus mantan kekasih dari Denza. Wah, ada
bau-bau permodusan nih! Hingga akhirnya Apen dan Dimas pun turut mengajak orang
lain (lagi) dan sempat terjadi miss
communication sana-sini yang sempat juga membuatku ingin batal ikut di
malam sebelum hari H jelajah ini. Namun, akhirnya di-fix-kan pesertanya adalah Apen, Denza, Dimas, aku, dan Adinda,
dengan meeting point seperti jelajah
yang lalu, di kos Dimas.
Keesokan
harinya, pukul 9 tepat aku dan Adinda sudah tiba di kos Dimas dan melihat belum
ada seorang pun yang tiba di sana, padahal perjanjiannya adalah berkumpul pukul
9 pagi. Dimas pun sedang pergi entah ke mana. Sambil duduk-duduk di teras, aku
menghubungi ketiga lelaki itu, sampai akhirnya Dimas datang dengan belum mandi
dan bersiap-siap. Seletah menunggu cukup lama, akhirnya semua berkumpul sekitar
pukul 11 siang. Apen dan Dimas segera pergi ke persewaan outdoor gear untuk menyewa peralatan yang belum ada. Setelah itu,
kami masih bongkar pasang tas dan carier masing-masing.
Kami
memutuskan untuk berangkat sekitar pukul 12.30 siang. Meleset jauh dari rencana
awal? Memang sudah diperkirakan begitu. Dengan menggunakan kendaraan roda dua,
kami berbonceng-boncengan menelusuri jalanan menuju Wonosobo. Kami memilih
jalur yang lumayan menantang, bergeronjal, berlubang-lubang, namun itu jalur
yang lumayan lebih singkat untuk menjangkau Wonosobo.
Di daerah
entah-di-mana kami beristirahat sejenak nyelehke
bokong karena terasa pegal sekali setelah menelusuri jalanan tidak begitu
baik itu. Kemudian, perjalanan yang tak bengangsur mudah kami lanjutkan hingga
kami tiba di Desa Kejajar, Dieng, Wonosobo. Di sana kami terjebak hujan.
Seperti perkiraan sebelumnya, karena Wonosobo itu rawan hujan, kami tidak
keheranan terkena hujan di sana. Kami berteduh di sebuah teras bangunan (entah
itu bangunan apa), sekalian menghangatkan diri dengan teh dan kopi yang kami
pesan di warung yang bersebelahan dengan bangunan itu.
| Jalan di depan tempat kami berteduh, di Desa Kejajar |
Cukup lama kami berteduh, berbincang dengan warga sekitar yang turut berteduh pula di situ, hingga tak terasa hujan sudah reda. Sekitar pukul 15.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Patakbanteng, lokasi di mana basecamp pendakian Prau itu berada. Melihat langit yang kemudian cerah, kami menjadi semakin bersemangat kembali untuk mendaki.
Setibanya di basecamp pendakian Prau, kami
mengistirahatkan sejenak badan kami setelah mengurus administrasi pendakian.
Tak terasa sudah menginjak waktu Maghrib. Kami memutuskan untuk bersiap naik.
Sebelum naik, tak lupa kami makan malam terlebih dahulu di sebuah angkringan
yang berada di dekat basecamp
Patakbanteng. Setelah itu, kami bersiap naik dan mengawalinya dengan doa
bersama dan tos yang sama dengan pendakian
Merbabu, “Godhong mlinjo arane?? SOOOO!!!”
| Selfie di dalam basecamp bersama Adinda |
| Waktu makan di angkringan (makannya di depan rumah orang he he) |
Kami berlima
melangkah dengan santai sembari bercengkerama. Di awal perjalanan kami melewati
jalan cor-coran yang membelah
pemukiman warga setempat. Sempat kami salah jalan karena tidak memerhatikan petunjuk
arah, dan beruntung kami diingatkan oleh warga setempat yang kebetulan berada
di situ. Tak berapa lama kami menelusuri pemukiman warga, kami disuguhi jalanan
yang dibuat dari batu-batu yang ditata rapi membentuk sebuah jalan menanjak.
Disitulah aku mulai merasa payah. Seperti biasa, beberapa kali aku meminta
berhenti untuk mengatur napas. Dan pada akhirnya aku meminta Apen untuk
membawakan air mineral milikku dan ditukar dengan gas.
Tak lama
kemudian, kami tiba di Pos 1. Di pos 1 terdapat sebuah gubuk yang difungsikan
sebagai pos ojek yang menawarkan jasa untuk pengangkutan dari Pos 1 ke basecamp atau sebaliknya. Dari Pos 1,
kami tak melihat jalan batu lagi, melainkan kami langsung diperlihatkan
tantangan selanjutnya, yaitu tanah menanjak yang berbentuk anak tangga.
Setelah
beristirahat sejenak, kami dengan perlahan dan hati-hati menelusuri setapak
tanah itu. Ternyata itu adalah jalur yang membelah perkebunan milik warga
sekitar. Jalur itu sekaligus jalur perjalanan petani-petani yang hendak berkebun.
Sembari menikmati pemandangan perkebunan di malam hari, kami menelusuri setapak
demi setapak jalur sempit itu.
Semakin jauh
kaki kami melangkah, semakin terjal jalur yang kami lalui. Bahkan kami tidak
dapat menemukan bonus yang cukup panjang seperti pendakian Merbabu lalu. Full tracking tanpa bonus, kata seorang
teman yang sebelumnya mendaki Prau, memang benar. Kami pun sempat kepayahan
menaklukkan tanjakan demi tanjakan yang licin karena basah dan jenis tanah yang
liat membuat kami mengalami beberapa kesulitan untuk menapakinnya. Ditambah
lagi, kabut yang sangat tebal membuat kami terengah-engah dan kedinginan.
Beberapa kali
kami mengistirahatkan diri. Kami duduk enyandarkan diri di pohon atau gundukan
tanah, sembari mempersilakan rombongan lain untuk menyalip kami. Dikarenakan
jalur yang cukup sempit, kami harus menepi agar pendaki yang akan naik dapat
melewati jalur tersebut.
Semakin ke
atas semakin terjal, tak jarang Apen dan Dimas mendorong atau menarikku di trek
yang sangat terjal, dan Denza sendiri membantu Adinda. Karena kami mendaki
bukan di hari weekend, jadi jalur
pendakian tidak seramai saat pendakian di hari weekend.
Pukul 23.30
tepat kami menginjakkan kaki di puncak Prau. Pemandangan kabut yang luar biasa
mengagumkan menyapa kami disertai hawa dingin yang membuat kami tak bisa diam
saja. Para lelaki segera membangun dua buah tenda di tempat yang telah
disepakati. Aku dan Adinda menjagai barang-barang lain sebelum tenda itu
selesai dibangun. Ternyata lumayan banyak tenda-tenda tetangga di sana, namun
tak seramai ketika weekend.
Oke, tenda
sudah berdiri semua. Kami bergegas memasukkan semua barang ke tenda. Aku
menempati tenda bersama Adinda. Awalnya kami berniat untuk tidur, tapi para
laki-laki mengajak untuk sharing-sharing sebentar
sebelum tidur. Akhirnya, kami bercengkerama sejenak sambil menikmati mie instan
rebus di tengah hembusan kabut dingin puncak Prau.
Malam semakin
larut. Hawa yang semakin dingin membuat kami memutuskan untuk tidur agar esok
harinya bisa menyambut sunrise yang
kami nanti-nanti. Kami pun tidur di dalam sleeping
bag masing-masing.
Pukul 4.30
dini hari aku terbangun karena tenda tetangga yang berisik sekali menyalakan
radio dengan volume yang cukup keras. Karena sudah terlanjur bangun, yasudah
sekalian saja menunggu matahari terbit. Dan ternyata Denza dan Adinda juga
tidak bisa tidur dengan nyenyak. Akhirnya kami berbincang-bincang hingga
matahari terbit.
Sungguh sangat
disayangkan, golden sunrise yang kami
nanti-nantikan ternyata muncul tak sesuai harapan. Kabut yang tebal menutupi
keindahannya. Namun pemandangan bukit Teletubies dan gunung-gunung lain yang
terlihat menjulang seluas mata memandang. Bunga-bunga khas Prau juga memikat
hati untuk membidiknya lekat-lekat. Dengan background
keindahan-keindahan itu, kami pun berfoto ria di tengah hawa dingin yang
sempat membuat Dimas enggan keluar dari sleeping
bag hangatnya di dalam tenda.
| Sunrise saat kami keluar dari tenda |
| Sunrise and panorama of Prau Mountain |
| Foto ini saya beri judul "Grab The Sun", diambil oleh Apen |
| Suasana sekitar tenda di pagi hari |
Waktu sedang
asyik berfoto, ternyata ada pendaki lain yang sejak tadi mengamatiku. Tak
disangka-sangka dia adalah seorang rekan dari Unit Kegiatan Mahasiswa yang
pernah aku ikuti semasa kuliah dulu. Dua orang yang kukenal dari rombongannya,
Tejo dan Brian namanya. Dan ternyata letak tenda mereka pun tak jauh dari tenda
kami.
Ini dia hasil kami berfoto ria, dari foto selfie sampai minta tolong orang.
Ini dia hasil kami berfoto ria, dari foto selfie sampai minta tolong orang.
| Selfie-sukaesih :-P |
| Ini Dimas |
| Ini Apen |
| Ini Adinda |
| Ini Denza |
| Ini aku |
| Di atas bukit teletubies |
| Ini hasil merayu Tejo untuk menjadi tukang foto :D |
Setelah puas
berfoto ria, kami lanjut sarapan. Lagi-lagi mie instan, ya hanya itu yang kami
bawa, he he he. Kali ini mie goring dan masing-masing membuat minuman hangat.
Sembari menunggu matang, kami bercengkerama. Tak ingin melewatkan moment, Apen pun membuat video rekaman gaje untuk dokumentasinya, dari mulai
rekaman-rekaman candid sampai video rekaan bakso boraks. Cukup menghibur jika
diputar kembali. Sesekali aku berjalan-jalan dengan Adinda untuk melihat-lihat dan memotret bunga-bunga manis yang ada di sana.
| Suasana tenda saat memasak |
| Daisy |
| Daisy lagi |
| Daisy juga |
| Ini kakiku, latar belakangnya Bukit Teletubies |
| The sky is mine! :D |
Sekitar pukul
10 siang kami memutuskan untuk turun. Jalanan yang tadinya terlihat gelap, kini
nampak sudah betapa curamnya ketika turun. Tak jarang aku memutuskan untuk
perosotan karena takut terpeleset karena tekstur tanahnya memang liat dan
licin. Beberapa kali kami juga sedikit terpeleset karena kurang konsentrasi
dalam berjalan. Perjalanan turun yang kami perkirakan estimasi waktunya
setengah dari perjalanan naik, ternyata sama saja, 4 jam. Kali ini pemandangan
terlihat lebih memukau. Telaga Warna, Kawah Sikidang, dan perkebunan warga yang
terpetak-petak rapi menjadikan perjalanan turun menjadi semakin menyenangkan.
| Karena kaki sakit, Apen memutuskan untuk nyeker |
| Dimas dan kantong sampahnya |
| Adinda dan Denza di belakangnya |
| Pemandangan pada saat turun gunung |
Kami tiba
kembali di basecamp sekitar pukul 2
siang. Ternyata tempatnya sangat penuh hingga kami kehabisan tempat untuk
duduk. Kami hanya bisa nyempil di
dekat pintu masuk untuk sekedar menyandarkan badan hingga pada akhirnya
mendapat tempat yang agak luas setelah beberapa orang pergi. Setelah kiranya
cukup melepas lelah, kami memutuskan untuk pulang. Atas kesepakatan sebelumnya,
dalam perjalanan pulang kami berhenti sejenak di gerbang masuk kawasan Dieng
Plateau untuk berfoto di depannya. Oh iya, beberapa dari kami juga membeli
Carica untuk oleh-oleh.
Mengingat
perjalana yang kami tempuh akan cukup jauh, kami memutuskan untuk makan dulu di
warung dekat tempat kami berteduh di hari sebelumnya. Setibanya di sana,
ternyata hujan pun turun kembali dengan cukup deras. Karena tak ingin
membuang-buang waktu dan mengejar waktu agar dapat mengembalikan peralatan
tepat waktu, kami memutuskan untuk menerjang hujan dengan menggunakan jas
hujan.
Singkat cerita, kami tiba kembali di Jogja
nyaris pukul 9 malam. Kami bergegas menuju tempat persewaan outdoor gear dan berharap masih buka
untuk pengembalian barang. Dengan tampang jutek dan nada yang tak enak, kami
sedikit lega penjaga persewaan mau menerima pengembalian barang-barang yang
kami itu. Setelah beristirahat sejenak di kos Dimas, kami kembali ke kos
masing-masing. Seingatku, aku tiba di kos sekitar pukul 11 malam dan langsung
memutuskan untuk tidur setelah bersih-bersih badan.
***
Kisah jelajah
di atas banyak sekali yang rumpang, karena jika kuceritakan nanti bisa-bisa
menghabiskan kertas satu rim, he he he. Walaupun memang perjalanan ini lebih
singkat dari sebelumnya, kali ini aku bisa membawa sendiri tas punggungku,
walaupun air minum masih diungsikan, sih, hehehe.
Sekian cerita
Jelajah Gunung Prau kali ini. Tunggu saja kisah jelajah-jelajah selanjutnya! Dengan
kesan yang berbeda, pastinya! :D
Selasa, 03 Juni 2014
Willy Nilly
"Isn't anyone try to find me?"
Mendengar kalimat introgatif itu terlantun dari speaker mini komputer
lipat di depanku saat ini, sekejap aku menyadari ada cerita yang amat
menyedihkan yang sudah dan sedang terjadi padaku. Jika aku jabarkan mungkin
akan menjadi salah satu elegi yang amat menyedihkan di dunia ini.
Aku baru saja tersadar akan pikiran-pikiran yang mungkin sebelumnya selalu
aku ingkari. Sebuah keadaan di mana aku berada dalam keramaian namun tak satu
pun orang yang dapat kusentuh, bahkan kusapa sekalipun. Bahkan lagi aku seperti
tertutupi oleh gumpalan kabut yang mengaburkan dan membuat keramaian orang itu
seolah mengabaikanku.
Saat ini aku merasakan situasi yang menempatkanku dalam keadaan kesepian di
tengah keramaian. Sesuatu yang sudah kujalani selama kurang dari setengah dekade
ini kurasa amatlah menyedihkan. Berakhir dengan hilangnya ruangan-ruangan yang
dulu pernah membuatku merasa tidak sendiri. Dan itu semua membuatku berpikir
bahwa ruang-ruang itu tidak permanen. Hanya terbuat dari kata willy nilly untuk menyeragamkan
pikiran-pikiran yang ada di dalamnya.
Bahkan saat ini aku menemukan willy
nilly yang lain melalui ruang-ruang
baru yang lain. Entah saat ini aku sedang dipermainkan (lagi) oleh pikiranku
ataukah memang seperti ini adanya. Dan sebelum makin banyak kesedihan keburukan
yang kucoretkan di laman ini, akan kuakhiri saja pelampiasan hati ini. Mungkin
segera kabut ini tersingkap dan menajamkan kembali pandanganku untuk melihat
kebersamaan yang nyata dan tidak terkurung oleh sekat-sekat ruang willy nilly yang begitu menyakitkan.
Selasa, 27 Mei 2014
Sewindu
27 Mei 2014 ini bener-bener hari yang memorial banget. Tiga peristiwa besar diperingati pada tanggal itu. Yang pertama, peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad saw, yang mana pada peristiwa itu Nabi Besar kita mendapatkan perintah untuk menunaikan sholat lima waktu sehari semalam. Yang kedua, tanggal tersebut merupakan peringatan hari kelahiran tanah kelahiranku, Gunungkidul, yang ke-183 yang diperingati dengan serangkaian acara yang bertajuk Green and Great. Yang ketiga, peringatan sewindu gempa Yogyakarta.
Nah, kali ini aku ingin menggali sisa-sisa ingatanku tentang peristiwa ketiga, tentang gempa dahsyat yang menimpa Yogyakarta sewindu yang lalu --terhitung mulai hari ini--. Walaupun hitungannya Gunungkidul tidak separah daerah Bantul maupun kabupaten-kabupaten yang lain, gempa 27 Mei 2006 silam tetaplah membekas bagi para warga Gunungkidul. Jadi, begini ceritanya.
***
Hari Sabtu, 27 Mei 2006, saat itu masih sangat teringat bahwa aku sedang libur usai menjalani UN SMP dan sedang menunggu pengumuman kelulusan. Biasanya, jika sedang libur, aku selalu memanfaatkannya untuk bangun siang dan bermalas-malasan. Tapi hari itu berbeda, karena sedang keranjingan bermain game di laptop baru aku bangun sedikit lebih pagi dari biasanya untuk sekedar bermain dan mengotak-atik laptop baru itu. Seingatku waktu masih menunjukkan pukul 05.30 pagi di hari itu. Saking asyiknya bermain laptop, bapakku yang sedang wira-wiri bersiap untuk ngantor pun terabaikan.
Jelang pukul enam pagi, tiba-tiba saja aku mendengar suara gemuruh dan sekejap kemudian getaran yang amat dahsyat terasa mengguncang kursi plastik yang aku duduki. Karena aku tak segera menyadari untuk berlari, bapakku langsung menyeretku keluar kamar sambil berteriak "Gek ayo mlayu!" Kami berlari menuju pintu depan --karena itu pintu terdekat dari posisi kami-- dan gagal membuka kunci pintu karena guncangan yang sangat kuat. Langsung kemudian bapakku menarikku untuk berlari lewat belakang rumah. Saat itu hampir saja sepotong genteng oranye menjatuhi kepalaku, namun beruntung tidak mengenaiku.
Semua tetangga memenuhi jalan setapak di sekitar rumah. Getaran itu adalah yang terlama yang pernah kualami, saat itu belum diketahui seberapa lama dan seberapa kuat getaran itu terjadi. Di luar, langsung aku menangis karena ketakutan sambil memeluk punggung bapakku, namun segera terhenti setelah mendapat cibiran dari anak kos sebelah rumah. Kakakku yang saat itu masih tertidur pulas pun terbangun namun ia keluar rumah setelah gempa berhenti. Entah apa alasannya pada waktu itu, mungkin ingatanku tentang itu masih belum muncul lagi. Kemudian kami sekeluarga kebingungan bagaimana mengeluarkan almh. nenekku --sekarang sudah berada di Rahmatullah-- yang terbaring sakit di tempat tidur. Saat itu nenekku sudah tidak bisa beranjak dari tempat tidur, sekalipun bisa itu dengan bantuan orang lain --dipapah atau digendong--.
Setelah kejadian itu, keluargaku dan tetangga-tetanggaku bersiaga selalu di pelataran rumah. Ada yang sibuk memindahkan mobil-mobil di tanah lapang, ada yang mendengarkan siaran radio untuk memantau update-update terbaru tentang gempa --saat itu radio tua milik bapakku selalu manjer siaran dari RRI-- yang tak berapa lama setelah kejadian diumumkan bahwa kekuatan gempa mencapai 5,9SR selama 57 detik, ada yang berusaha menghubungi sanak saudara walaupun pada saat itu jaringan benar-benar menjadi kacau, ada pula yang berkumpul di satu titik strategis saling berbagi cerita saat gempa terjadi.
Beberapa kali gempa susulan datang. Pada saat gempa susulan yang entah ke berapa, teriakan minta tolong dari dalam rumah tetanggaku. Ternyata tetanggaku, sebut saja Pak SS, terjatuh dari atap rumah. Beliau dipapah keluar rumahnya dan terlihat darah-darah menetes dari tubuhnya. Segera saja dengan sigap tetanggaku yang lain menyiapkan mobil dan Pak SS dilarikan ke rumah sakit. Alhamdulillah, beliau terselamatkan dan hingga tulisan ini terbit beliau dalam keadaan InsyaAllah sehat walafiat.
Isu-isu tak bertanggung jawab mulai bermunculan, salah satunya adalah isu terjadinya Tsunami. Isu yang tak bertanggung jawab itu pun sedikit banyak sudah membuat warga sekitar rumahku --termasuk keluargaku-- panik dan lebih berwaspada untuk segera beranjak ketika Tsunami itu benar-benar datang. Namun, berita hoax itu tak menunjukkan kebenarannya.
Dua malam keluargaku dan tetangga-tetangga yang lain tidur di teras rumah masing-masing. Kemudian, keluargaku memutuskan untuk kembali ke dalam rumah dengan siaga dan berdoa agar tidak ada gempa susulan lagi. Siaran televisi pun selalu diarahkan ke sumber-sumber update tentang bencana yang terjadi. Dari televisi kami melihat betapa agungnya kekuatan Allah swt untuk memperingatkan umatnya. Getaran 5,9SR dalam waktu 57 detik dapat meluluhlantakkan Yogyakarta.
Trauma, tentu saja. Sampai-sampai suara tikus yang berlarian di atas langit-langit rumah bisa membuat sekeluargaku sekejap menghambur keluar rumah. Hingga saat ini pun, ketakutan yang amat sangat masih menyelimuti ketika tanah Jogja kembali merasakan guncangan gempa, meskipun tak sehebat saat itu.
Selepas kejadian itu, banyak sekali bala bantuan tertuju untuk membangkitkan kembali Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai dari bantuan material maupun spiritual. Wilayah kami pun tak luput dari bantuan-bantuan itu. Ada satu yang agak menggelitik dari ini. Ibuku --mungkin juga yang lain-- selalu menamai bantuan makanan yang datang dengan embel-embel gempa, misalnya roti gempa, mie gempa, susu gempa, dan sebagainya, dikarenakan merk-merk yang diberikan agaknya sedikit asing di mata kami.
***
Mungkin hanya sedikit saja memori yang dapat kuceritakan di laman ini. Tak henti doa untuk para korban jiwa di peristiwa ini, semoga keluarga yang ditinggalkan semakin tabah dan ikhlas, karena ini semua adalah cobaan dari Allah swt. Dari sedikit memori ini, diharapkan pula dapat selalu menjadi pengingat bahwa kekuatan Allah swt adalah mahadahsyat dan tidak ada keraguan di dalamnya. Kita sebagai umat-Nya, haruslah bercermin diri dari peristiwa itu untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan diri kepada Allah swt.
Jumat, 23 Mei 2014
Bolehkah?
Bolehkah kau kusebut mimpi? Aku sudah mempersiapkan jawaban jika nanti kau mengucapkan kata tanya "mengapa".
Jawabannya ada pada kehadiranmu yang aku pun tak bisa menyadari apakah aku sedang terjaga ataukah sedang terbuai dalam pelukan mimpi. Di antara keduanya, mungkin aku lebih memilih jika kau hadir hanya dalam mimpi saja, karena aku akan segera diselamatkan oleh hadirnya pagi dan akan segera melupakanmu sebelum kau hadir kembali dalam mimpi-mimpi selanjutnya.
Aku tak pernah mempertanyakan soal kehadiranmu itu. Aku selalu menganggapnya sebagai salah satu permainan yang dilancarkan oleh pikiranku sendiri. Ya, seperti biasa, karena aku memang suka bermain-main dengan pikiranku sendiri. Aku bisa bahagia bahkan menangis miris karenanya. Jadi akan kubiarkan saja, sampai nanti kau sendiri yang memilih, untuk tinggal atau pergi.
Rabu, 21 Mei 2014
Jelajah: Gunung Merbabu (3145 mdpl)
Tanggal
5 Mei 2014 lalu, aku bertemu dengan teman lamaku waktu SMA dulu di sebuah
tempat jajan di Jogja. Sebelumnya aku mengetahui bahwa ia dan dua orang teman
SMAku yang lain akan melakukan pendakian di Gunung Merbabu di hari Jumatnya,
tanggal 9 Mei 2014, maka dari itu, aku tanyakan saja tentang hal itu sebagai bahan
pembicaraan. Dan seperti yang sudah kuperkirakan, aku diajak serta. Namun,
karena di akhir pekan minggu tersebut aku ada kegiatan lain, jadi aku menolak.
Oke, kuanggap obrolan itu sudah selesai ketika temanku itu pergi.
***
Tanggal
8 Mei 2014, saat itu sudah dapat dikatakan malam hari. Karena beberapa hari
yang lalu aku baru bertemu teman lamaku, yaa untuk mempererat silaturahmi aku
mem-BBM dia sekedar iseng menanyakan pendakian yang akan dilancarkan besoknya,
dan iya aku diajak lagi dan aku menolak lagi karena alasan terlalu mendadak
jika ikut.
Saat
itu aku memasang display picture
sebuah screen capture lirik lagu
legendaries, yaitu I Don’t Wanna Miss A
Thing yang dinyanyikan oleh Aerosmith. Seorang teman tiba-tiba mengomentari
display pictureku dan kemudian
ngobrol tentang film Armageddon
sejenak. Kemudian tiba-tiba ia bilang, “Tanggal 10 badhe nderek Merbabu?” ini
adalah ajakan kedua, dan lagi-lagi harus kembali kutolak dengan alasan terlalu
mendadak.
Dengan
sangat menyesal aku menyiakan kedua ajakan itu, dan akhirnya aku meng-update status di BBM begini, “Dua ajakan melayang sudah *dadah2 ke puncak
Merbabu :’)*”. Beberapa menit setelah aku update status, teman SMAku –bukan yang aku temui di tempat jajan
tadi— yang ikut mendaki juga pada hari Jumat mengompor-ngompori untuk ikut serta. Kali ini alasan-alasan
penolakanku tak berlaku, dan akhirnya aku diundang ke sebuah group chat yang berisi tiga teman SMAku
yang akan mendaki pada hari Jumat itu –pada waktu itu, hari Jumat adalah besok—
dan semuanya sama saja, membujukku supaya ikut dengan alasan jumlah mereka yang
ganjil lah, biar rame lah, dan lain-lain lah pokoknya sehingga pada akhirnya aku memutuskan untuk ikut.
Keputusan “iya” tentunya aku berikan karena aku langsung meminta izin ke kedua
orang tuaku yang mungkin malam itu sudah tidur dan terbangun karena SMSku yang begitu mendadak itu. Walaupun
pada awalnya tidak mengizinkan, namun dengan sedikit rengekan berhasil membuat
ayahku mengiyakan dengan syarat dan ketentuan berlaku. Yak dan saat itu jam menunjukkan
pergantian hari. Keputusan yang agak gila, bukan? Tak ada persiapan yang jauh,
perempuan berparu-paru lemah dan langka olah raga seperti aku bisa mengiyakan
pendakian yang “nggak main-main”. He he he…
Oke.
Setelah mengiyakan ajakan tadi, aku langsung kelabakan menyiapkan segala
keperluan untuk hari Jumat itu. Beruntung adik-adik rumah sewa baru pada pulang
dan bersedia meminjami beberapa kebutuhan untuk mendaki. Agak tenang dan aku
harus segera tidur.
***
Paginya,
aku masih berusaha mencari kebutuhan yang lain, yang utama adalah alas kaki.
Beruntung lagi dan lagi, seorang teman berbaik hati mengantarkan sandal gunung
dari kampong untuk aku pinjam. Kemudian aku segera menghubungi seorang kakak
yang serumah sewa juga denganku –note: dia sudah berpengalaman naik gunung—
untuk menanyakan list bekal yang
harus dipersiapkan. Dengan panjang dia menjelaskan dari A-Z melalui media chat karena sedang berada di kampung
halaman. Setelah itu langsung kubuat check-list
untuk memastikan nantinya tidak ada yang terlupa. Daaaan…jelang waktu
Dzuhur aku sudah siap. Kemudian tiba-tiba hujan turun, sekejap kemudian aku
berekspektasi macam-macam jika waktu pendakian nanti masih saja hujan. Namun,
syukut Alhamdulillah tak lama kemudian hujan pun reda.
Menjelang
jam 2 siang, aku dijemput salah satu temanku untuk menyewa beberapa peralatan
yang belum tersedia di salah satu tempat persewaan outdoor gear di dekat kampus dan kemudian berkumpul dahulu di rumah
sewa temanku itu bersama teman yang lain. Sesampainya di sana, jengjeeeeng..ternyata nambah dua orang
personel lagi, dan ini benar-benar fix
aku adalah satu-satunya personel perempuan di pendakian ini –awalnya sih sudah
mengajak salah satu teman perempuan lagi, tapi batal karena dia akan menjalani
ujian di hari Senin—. Setelah sekitar setengah jam packing, kami berenam berangkat dari Yogyakarta menuju Boyolali,
Jawa Tengah dengan berbonceng-boncengan menggunakan sepeda motor dengan harapan
hujan tak akan menyiram kami di jalan.
Ada
cerita yang menggelitik ketika kami mampir di salah satu mini market waralaba
di daerah Palagan. Salah satu temanku hendak membayar untuk beberapa botol air
mineral, dua kali uangya –selembar seratus ribuan dan lima puluh ribuan— ditolak
oleh kasir karena lecek dan diduga
palsu. Namun, akhirnya diterima –yang lima puluh ribuan— karena temanku bilang
tidak jadi beli kalau uangnya ditolak lagi.
| Narsis dikit di depan mini market daerah Palagan |
Oke,
kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Boyolali. Setelah sekitar 2/3 jam,
kami memasuki kawasan Selo. Oh iya, memang dari awal kami sudah merencanakan
untuk mendaki Merbabu melalui jalur Selo, Boyolali. Daaaaan, ternyata tidak ada
satupun di antara kami yang pernah ke sini. Bermodalkan tanya sana sini dan
sempat agak berdebat juga, akhirnya sekitar pukul 17.00 kami tiba di basecamp pendakian Merbabu milik Pak
Narto. Kemudian kami melakukan isoma
sebelum melakukan pendakian ke Gunung Merbabu.
| Memasuki kawasan Selo, saat bertanya di salah satu rumah warga. |
Hari
sudah gelap, dan kami memutuskan untuk berangkat naik. Kurang lebih jam 6
petang waktu setempat, kami melakukan briefing
dan pemanasan sedikit sebelum berangkat. Dan tak lupa, kami berfoto dulu
sebelum berangkat.
| Narsis dulu di depan basecamp Pak Narto, sebelum pendakian. |
Oh
iya, biar aku perkenalkan dulu personel pendakian ini. Berdasarkan foto di
atas, yang paling tinggi dan botak adalah Denza, sebelahnya dan yang di
belakang adalah personel tambahan yang di awal aku tidak mengenali namanya
namun setelah diperjalanan aku mengetahui namanya adalah Bobby –sebelah kananku—dan
Bayu –yang di belakang—. Sebelah kiriku Dimas, dan yang jongkok memeluk tas
adalah Apen –kedua tambahan personel tadi adalah temannya—. Kunamai tim kami The Godhong Mlinjo Team. Karena yel-yel tos
kami adalah “Godhong mlinjo arane??
SOOOO!!” he he he…agak garing tapi ya itulah.
Kami
berenam berjalan perlahan memasuki gerbang pendakian. Dan seperti ekspektasiku
di awal, tas yang begitu berat karena 3 liter air membuatku sangat payah
padahal baru berjalan beberapa langkah dari gerbang masuk. Kemudian para
laki-laki strong memutuskan untuk
mengambil air di dalam tasku untuk dipindahkan ke tas mereka dan ada satu yang
ditenteng agar mudah saat kehausan nanti. Perjalanan kami lanjutkan kembali.
Seperti cerita-cerita pendakian yang laln, salah satu temanku yang sudah berpengalaman
mendaki gunung mengatakan agar semuanya tidak ragu untuk mengatakan jika merasa
lelah atau butuh menghela nafas. Dan benar saja, di antara mereka aku yang
paling rewel, he he he… Baru beberapa meter dari transaksi botol air tadi, aku
minta break. Nafas memang terasa
berat karena kabut dan kami berebut oksigen dengan pepohonan di sana. Kemudian
dengan inisiatif, Denza menawarkan diri untuk membawakan tasku –yang menurutku
lumayan berat untuk ukuranku—. Dengan sedikit tak enak hati aku memberikan
tasku padanya. “Wah, lha malah dadi
seimbang ki aku nggendong tas ngarep-mburi,” celetuk Denza saat kami kembali
melanjutkan perjalanan. Kami berjalan kembali sambil mencari ranting-ranting
untuk pegangan dan untuk membuat api unggun saat ngecamp nanti.
Karena
sering berhenti, estimasi waktu menuju Pos 1 yang tadinya sekitar satu jam
menjadi sekitar dua jam kami baru mencapai Pos 1. Di Pos 1 kami bertemu dengan
sekelompok pendaki. Setelah sedikit berkenalan –walaupun tidak memperkenalkan
nama, hanya menyebutkan daerah asal kami masing-masing—salah satu dari mereka
bercerita berbagi pengalaman mendaki dan menunjukkan jalur yang nyaman untuk
menuju pos selanjutnya.
Oh
iya, ada istilah keren dalam perjalanan kami. Jalan yang lurus –bukan tanjakan
maupun turunan—kami menyebutnya sebagai ‘bonus’. Dan ketika kami break dan menemukan tempat istirahat yang nyaman,
salah satu teman menyebut-nyebut “Wah,
sofane empuk tenan,” he he he.. lucu, bukan? Dan sangat menyenangkan jika
kami bertemu dengan pendaki lain. Saling menyapa dan menyemangati, itu salah
satu suntikan energi yang cukup berarti, walaupun tak saling mengenal.
Setelah
berjalan cukup jauh, kami tiba di Pos 2. Aku tak ingat lagi waktu menunjukkan
pukul berapa. Mungkin sudah mendekati pukul Sembilan malam. Kami berhenti untuk
break lagi beberapa menit untuk minum
dan sedikit bercengkerama. Kemudian kami lanjut naik lagi dan bertemu dengan beberapa
pendaki yang sedang menghidupkan api unggun untuk menghangatkan diri sejenak.
Sekedar menyapa dan bertanya, para pendaki itu mengatakan bahwa di situ adalah
Pos 3. Tapi kami tidak melihat adanya papan atau tanda yang menunjukkan bahwa
itu Pos 3. Namun, kami memutuskan untuk istirahat sejenak untuk membuka bekal
kami dan menyedu minuman –mumpung sudah ada api yang menyala—. Setelah cukup
menghangatkan diri, melanjutkan perjalanan kembali karena kami yakin itu
bukanlah Pos 3 yang sesungguhnya. Dimas dan Apen memutuskan untuk jalan
mendahului untuk menemukan Pos 3 agar mereka bisa segera mendirikan tenda dan
menyalakan api unggun untuk ngecamp di
sana.
Beberapa
langkah meninggalkan tempat sebelumnya, tiba-tiba aku terserang kedinginan yang
dahsyat. Sampai-sampai ujung jari tangan dan kakiku tak terasa lagi. Kemudian,
Bobby menyuruhku untuk menggunakan melapisi lagi kaos kakiku dan memakai jaket double. Karena jaket cadangan yang
kubawa sangat ribet untuk dipakai, Bobby meminjamiku jaket miliknya beserta
syal untuk leher agar lebih hangat lagi. Setelah berjalan dengan kepayahan dan
kedinginan, kami akhirnya menemukan lokasi untuk mendirikan tenda. Namun, kami
tidak menemukan adanya tanda-tanda yang menunjukkan bahwa itu adalah Pos 3.
Tapi, karena sudah merasa kelelahan dan kelaparan, kami memutuskan untuk
mendirikan tenda di situ.
Setelah
dua tenda berdiri, kami berenam menghangatkan diri di dekat api unggun sembari
menyedu minuman hangat, memasak mie instan, dan berbagi bekal masing-masing.
Jelang tengah malam, kami memutuskan untuk tidur untuk menimbun energi agar
bisa melanjutkan perjalanan kembali.
Ada
cerita menggelitik lagi. Karena baru ingat kalau melewatkan sholat Maghrib dan
Isya’, sebelum tidur aku melaksanakan sholat jamak takhir terlebih dahulu. Setelah
melakukan tayamum, aku memulai sholat di atas matras yang sudah digelar dan
digunakan sholat terlebih dahulu oleh Dimas. Setelah selesai melakukan sholat
Maghrib, tiba-tiba Dimas menyeletuk bahwa arah sholatku salah. Sontak aku
membalik arah sholatku dan menyelesaikan ibadah dengan agak tidak khusyuk
karena kagol arah sholat dan hawa
dingin yang dahsyat. Nah, baru setelah meninggalkan tempat ngecamp itu aku menyadari bahwa setelah berbalik arah pun, arah
sholatku pada waktu malam harinya masih saja melenceng. Yah, namanya juga
manusia, serba tidak tahu. He he he…
Pukul
03.00, tenda milik Bobby dan Bayu sudah ringkas dan dimasukkan ke dalam tas.
Setelah berunding beberapa saat, daripada menunggu tenda satunya dirapikan,
Bobby dan Bayu memutuskan untuk naik terlebih dahulu dan menunggu kami –sisanya—di
puncak Merbabu. Setelah kepergian Bobby dan Bayu, kami memutuskan untuk menyedu
minuman terlebih dahulu. Namun, aku hanya tiduran di matras sambil menikmati
bintang-bintang yang terlihat lebih dekat dari biasanya. Beberapa kali aku
melihat bintang beralih di sana. Amazing!
Seperti sedang berada di dalam planetarium.
Setelah
mengemasi barang, tepat pukul 05.00 kami memutuskan untuk naik. Namun, beberapa
langkah dari tempat mendirikan tenda tadi, aku merasa sangat payah dan sekejap
kemudian merasa desperate bisa
melanjutkan perjalanan lagi atau tidak. Akhirnya, kami berempat memutuskan
untuk menanti sunrise di situ sembari
memakan bekal karena mereka tahu aku sama sekali belum makan setelah bangun
tidur tadi, makanya tidak kuat naik.
Sunrise pun datang. Kami keranjingan
foto-foto ria bersama sang mentari 10 Mei 2014. Berikut beberapa hasil jepretan
kami. Indah, bukan?
| Matahari 10 Mei 2014 |
Setelah
matahari cukup terang, kami berkemas dan melanjutkan perjalanan naik lagi. Tiga
laki-laki yang bersamaku menyemangatiku tiada henti. Mereka menyuruhku untuk
naik duluan agar bisa istirahat lebih lama jika kami break. Setelah beberapa lama melangkah melalui medan yang makin
sulit, kami tiba di tempat yang kami duga sebelumnya adalah Sabana 1 (Pos 4).
Ternyata tempat itu adalah Pos yang pada rencana awal akan menjadi tempat ngecamp kami, Pos 3! Tapi kami bersyukur
tidak jadi mendirikan tenda di situ, karena tempatnya sangat terbuka dan
anginnya begitu kencang.
Sekejap
kemudian, Dimas menunjukkan jalur menuju Pos 4 yang sebenarnya. Aku hanya bisa
mengangakan mulut. Di depan mata terpampang track
yang amat menanjak dari sebelumnya. Lagi-lagi aku merasa desperate, dan ketiga laki-laki ini
kembali menyemangatiku. Dengan tak henti-hentinya berdoa, aku meyakinkan diri
untuk melaluinya. Dan kami berangkat dengan penuh semangat melalui track tersebut.
Semakin
ke atas, jalan yang dilalui semakin terjal. Bahkan kemiringannya mencapai 450,
mungkin bisa lebih. Takut ketinggian, ya itu aku. Ketiga laki-laki ini
melarangku untuk menoleh ke bawah hingga kami menemukan lokasi yang nyaman
untuk duduk beristirahat dan sedikit bernarsis ria.
| Belum terlalu nanjak nih, jadi bisa narsis berempat dengan modus timer. |
| Dimas (kiri) dan Denza (kanan) |
| Selfie bersama Apen. Gagal paham lah sama senyum kami ini. He he.. |
![]() |
| Gunung Merapi yang tampak amazing dalam perjalanan menuju Sabana 1. |
| My Heroes! :D |
| Ini kakiku. Lihat, tenda-tenda di Pos 3 itu tampak seperti miniatur hotel monopoli. |
| Cukup miring, bukan? |
Setelah
tanjakan yang terjal, kami menemukan tanah lapang yang agak luas, ada dua tenda
berdiri di situ. Kami beristirahat dan berfoto-foto di lokasi tersebut. Namun,
perjuangan kami belumlah usai. Pos 4 masih berlokasi di setelah-satu-tanjakan-panjang-dan-terjal
lagi.
| Panorama: Gunung Merapi (kiri) dan Gunung Sumbing (tampak kecil di kanan) |
| Timer mode lagi! Pantatnya dekil-dekil, ha ha ha... |
| Ketemu sama Dandelion! Ini hasil memotret dengan very-low-angel dengan posisi tiduran sampai-sampai dikira pingsan. |
| Seorang teman berkomentar pada foto ini: "Dandelion: di mana aku jatuh, di situ aku tumbuh," |
| Bunga Edelweis! Pertama kalinya lihat bunga ini versi seger! |
Di tanjakan terakhir menuju Sabana 1, aku bertemu bule –memang ada banyak
pendaki asing yang melakukan pendakian di gunung Merbabu— yang seolah-olah
berkata “Welcome to Sabana 1!”.
Setelah meletakkan tas dan mengatur napas, aku melihat-lihat pemandangan indah
di sekitar Sabana 1, banyak yang ngecamp
di situ.
Sangat
disayangkan, perjalananku berakhir di Sabana 1. Kenapa? Di situ aku sudah merasakan
paru-paruku yang kembali kambuh infeksinya. Akhirnya, ketiga laki-laki yang
bersamaku memutuskan untuk mendirikan tenda untukku agar aku bisa tidur sembari
menunggu mereka muncak. Dengan berat
hati aku menerima keputusan itu. Yah, daripada aku pingsan di jalan dan
merepotkan yang lainnya.
Setelah
memasak dan makan mie instan serta menyeduh minuman, Dimas, Denza, dan Apen
bersiap untuk berangkat. Mereka meninggalkan carrier-carrier besar mereka di dalam tenda dan membawa perbekalan
secukupnya dengan tas slempang kecil milik Dimas, dan tak lupa kamera untuk
berfoto di puncak nanti. Tepat pukul 09.00 mereka berangkat, dan aku beranjak
ke peraduan di dalam tenda, he he he…
Lima
jam mereka meninggalkan aku sendirian di tenda, dan aku hanya bisa menyimak
cerita-cerita pendaki lain yang ngecamp di
situ juga yang sedang bercerita satu sama lain. Sekitar jam 2 lebih, aku
mendengar suara Denza memanggilku. Mereka sudah kembali dan segera saja
mengatakan bahwa memang seharusnya aku tidak serta mendaki ke puncak. Mereka
yang laki-laki saja sudah hampir pingsan kepayahan, apalagi jika aku ikut.
| Puncak Merbabu, 3145 mdpl. Semoga suatu saat aku mencapaimu. |
Setelah
makan mie instan yang tersisa dan beristirahat sejenak, kami berkemas dan pukul
15.00 tepat kami memutuskan untuk turun. Jalur yang tadinya menanjak terjal,
kiri menjadi turunan yang sangat curam. Aku tak lagi berani menegakkan kakiku
dan memutuskan untuk perosotan menuruni jalur yang curam menuju Pos 3. Kali ini,
tas yang tadinya dibawakan oleh Denza kubawa sendiri karena sudah terasa lebih ringan
saat kami turun. Setelah berperosotan ria –sampai-sampai menghambat pendaki
yang akan naik, he he he..— kami sampai di Pos 3. Kami sudah kehabisan
perbekalan, hanya tinggal air mineral yang tersisa. Kami mengejar waktu agar
sampai di basecamp tidak terlalu
malam, jadi kami tidak terlalu banyak break
pada saat turun.
Saat
turun, kami melihat pemandangan yang berbeda dengan segala kegelapan yang kami
lihat pada saat naik. Lelahnya pun berbeda. Pada saat naik, napaslah yang
membuat kewalahan, namun pada saat turun, betis yang terasa sakitnya karena
menahan beban pada saat melangkah turun.
Memang
benar, estimasi waktu untuk turun gunung diperkirakan hanya setengah waktu
naik. Benar saja, kami tiba kembali di basecamp
Pak Narto pukul 19.30. Bahkan hanya seperempat dari lama waktu naik. Di basecamp kami berkumpul kembali bersama
Bobby dan Bayu yang menunggu kami di basecamp
karena tidak berhasil menemukan tenda di mana aku tidur pada saat di Sabana
1.
| Nasi telur dan teh hangat ala basecamp Pak Narto, yang paling ditunggu saat perjalanan menuruni Gunung Merbabu. |
Kami
beristirahat, makan, bercengkerama, dan tidur sejenak. Ketika terbangun, aku
menyusul Dimas, Bobby, dan Bayu yang ternyata sedang menghangatkan diri di
sekitar tungku di dapur istri Pak Narto. Setelah duduk di dipan dekat tungku, ada kejadian unik di tengah dinginnya hawa Selo.
Aku dan Dimas takjub melihat istri Pak Narto mencuci piring menggunakan air
mendidih di atas tungku yang menyala. “Mboten
panas nopo, Bu?” Celetuk Dimas. “Mboten
mas, anget kok,” Ibu itu menjawab dengan ceria.
Setelah
semuanya terbangun, kami memutuskan untuk pulang setelah sebelumnya Pak Narto
menyarankan kami untuk pulang keesokan harinya saja. Setelah motor dipanaskan,
kami berenam pulang melalui jalur yang kami anggap cepat. Di tengah perjalanan,
masih di kawasan Selo, persediaan bensin kami menipis, sedangkan semua warung
penjual bensin sudah terlelap dalam gelap dan dinginnya Selo. Willy nilly, Bobby dengan inisiatifnya
mengetuk warung-warung, berharap ada yang masih terjaga pada jam itu. Setelah
kurang lebih mengetuk lima warung, akhirnya ada satu warung yang bersedia
membukakan pintu untuk dilarisi bensinnya.
Akhirnya,
kami tiba kembali di rumah sewa Dimas tepat tengah malam. Setelah beristirahat
sejenak sambil menyeduh minuman hangat dan bercengekrama sejenak, kami pulang
ke rumah sewa masing-masing, mengingat semua dari kami masih punya agenda di
hari Minggu terang, walaupun pada akhirnya semuanya batal. He he he…
***
Ternyata cerita 09-10 Mei 2014 menyita cukup banyak tempat di blog ini. He he he... Oke,
setelah sekian lama akhirnya aku merasakan dahsyatnya pendakian gunung yang
sesungguhnya. Tanpa persiapan pula! Namun, kata ketiga teman laki-lakiku itu,
sudah hebat aku yang tanpa persiapan fisik apapun bisa mendaki Gunung Merbabu
walaupun tidak sampai ke puncak.
Kapok?
Tentu saja tidak. Malahan aku menunggu ajakan lain setelah kesakitan di kakiku
ini sudah hilang. Tentunya dengan persiapan yang sungguh-sungguh.
Langganan:
Komentar (Atom)

