Selasa, 15 Juli 2014

Jelajah - Gunung Prau (2565 mdpl)

This is another latepost story ^^
--


Jelajah kali ini adalah pendakian gunung keduaku. Ya, boleh dibilang lebih rendah ketinggiannya, tapi lumayan lah untuk persiapan menuju pendakian-pendakian yang selanjutnya (aamiin). Kali ini tujuannya adalah chasing sunrise di puncak Gunung Prau, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Penasaran dengan kisah perjalannya? Mari, akan saya ceritakan mulai paragraf selanjutnya.
***
Seperti biasa, akan kuceritakan bagaimana awalnya aku bisa ikut serta dalam perjalanan jelajah kali ini. Tanggal (lupa) malam, seperti biasa aku selalu menyimak recent update di sebuah perpesanan instan ponselku. Kulihat tiga teman perjalananku di Merbabu tempo hari, Apen, Denza, dan Dimas, memasang status yang begitu kompak. Ketiganya menuliskan kurang lebih sama seperti ini, “Gunung Prau, 17 Juni 2014, siapa ikut?”. Nah, begitu membaca itu aku langsung bergegas mengomentari status mereka masing-masing. Tanggapan yang berbeda namun seirama, mereka menawariku untuk serta dan kemudian dibuatlah kembali grup percakapan bersama.
Dari percakapan bersama itu, Denza mengusulkan untuk mengajak Adinda. Adinda adalah adik kelas kami sewaktu SMA dulu sekaligus mantan kekasih dari Denza. Wah, ada bau-bau permodusan nih! Hingga akhirnya Apen dan Dimas pun turut mengajak orang lain (lagi) dan sempat terjadi miss communication sana-sini yang sempat juga membuatku ingin batal ikut di malam sebelum hari H jelajah ini. Namun, akhirnya di-fix-kan pesertanya adalah Apen, Denza, Dimas, aku, dan Adinda, dengan meeting point seperti jelajah yang lalu, di kos Dimas.
Keesokan harinya, pukul 9 tepat aku dan Adinda sudah tiba di kos Dimas dan melihat belum ada seorang pun yang tiba di sana, padahal perjanjiannya adalah berkumpul pukul 9 pagi. Dimas pun sedang pergi entah ke mana. Sambil duduk-duduk di teras, aku menghubungi ketiga lelaki itu, sampai akhirnya Dimas datang dengan belum mandi dan bersiap-siap. Seletah menunggu cukup lama, akhirnya semua berkumpul sekitar pukul 11 siang. Apen dan Dimas segera pergi ke persewaan outdoor gear untuk menyewa peralatan yang belum ada. Setelah itu, kami masih bongkar pasang tas dan carier masing-masing.
Kami memutuskan untuk berangkat sekitar pukul 12.30 siang. Meleset jauh dari rencana awal? Memang sudah diperkirakan begitu. Dengan menggunakan kendaraan roda dua, kami berbonceng-boncengan menelusuri jalanan menuju Wonosobo. Kami memilih jalur yang lumayan menantang, bergeronjal, berlubang-lubang, namun itu jalur yang lumayan lebih singkat untuk menjangkau Wonosobo.
Di daerah entah-di-mana kami beristirahat sejenak nyelehke bokong karena terasa pegal sekali setelah menelusuri jalanan tidak begitu baik itu. Kemudian, perjalanan yang tak bengangsur mudah kami lanjutkan hingga kami tiba di Desa Kejajar, Dieng, Wonosobo. Di sana kami terjebak hujan. Seperti perkiraan sebelumnya, karena Wonosobo itu rawan hujan, kami tidak keheranan terkena hujan di sana. Kami berteduh di sebuah teras bangunan (entah itu bangunan apa), sekalian menghangatkan diri dengan teh dan kopi yang kami pesan di warung yang bersebelahan dengan bangunan itu.
Jalan di depan tempat kami berteduh, di Desa Kejajar

Cukup lama kami berteduh, berbincang dengan warga sekitar yang turut berteduh pula di situ, hingga tak terasa hujan sudah reda. Sekitar pukul 15.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Patakbanteng, lokasi di mana basecamp pendakian Prau itu berada. Melihat langit yang kemudian cerah, kami menjadi semakin bersemangat kembali untuk mendaki.
Setibanya di basecamp pendakian Prau, kami mengistirahatkan sejenak badan kami setelah mengurus administrasi pendakian. Tak terasa sudah menginjak waktu Maghrib. Kami memutuskan untuk bersiap naik. Sebelum naik, tak lupa kami makan malam terlebih dahulu di sebuah angkringan yang berada di dekat basecamp Patakbanteng. Setelah itu, kami bersiap naik dan mengawalinya dengan doa bersama dan tos yang sama dengan pendakian  Merbabu, “Godhong mlinjo arane?? SOOOO!!!”

Selfie di dalam basecamp bersama Adinda

Waktu makan di angkringan (makannya di depan rumah orang he he)
Kami berlima melangkah dengan santai sembari bercengkerama. Di awal perjalanan kami melewati jalan cor-coran yang membelah pemukiman warga setempat. Sempat kami salah jalan karena tidak memerhatikan petunjuk arah, dan beruntung kami diingatkan oleh warga setempat yang kebetulan berada di situ. Tak berapa lama kami menelusuri pemukiman warga, kami disuguhi jalanan yang dibuat dari batu-batu yang ditata rapi membentuk sebuah jalan menanjak. Disitulah aku mulai merasa payah. Seperti biasa, beberapa kali aku meminta berhenti untuk mengatur napas. Dan pada akhirnya aku meminta Apen untuk membawakan air mineral milikku dan ditukar dengan gas.
Tak lama kemudian, kami tiba di Pos 1. Di pos 1 terdapat sebuah gubuk yang difungsikan sebagai pos ojek yang menawarkan jasa untuk pengangkutan dari Pos 1 ke basecamp atau sebaliknya. Dari Pos 1, kami tak melihat jalan batu lagi, melainkan kami langsung diperlihatkan tantangan selanjutnya, yaitu tanah menanjak yang berbentuk anak tangga.
Setelah beristirahat sejenak, kami dengan perlahan dan hati-hati menelusuri setapak tanah itu. Ternyata itu adalah jalur yang membelah perkebunan milik warga sekitar. Jalur itu sekaligus jalur perjalanan petani-petani yang hendak berkebun. Sembari menikmati pemandangan perkebunan di malam hari, kami menelusuri setapak demi setapak jalur sempit itu.
Semakin jauh kaki kami melangkah, semakin terjal jalur yang kami lalui. Bahkan kami tidak dapat menemukan bonus yang cukup panjang seperti pendakian Merbabu lalu. Full tracking tanpa bonus, kata seorang teman yang sebelumnya mendaki Prau, memang benar. Kami pun sempat kepayahan menaklukkan tanjakan demi tanjakan yang licin karena basah dan jenis tanah yang liat membuat kami mengalami beberapa kesulitan untuk menapakinnya. Ditambah lagi, kabut yang sangat tebal membuat kami terengah-engah dan kedinginan.
Beberapa kali kami mengistirahatkan diri. Kami duduk enyandarkan diri di pohon atau gundukan tanah, sembari mempersilakan rombongan lain untuk menyalip kami. Dikarenakan jalur yang cukup sempit, kami harus menepi agar pendaki yang akan naik dapat melewati jalur tersebut.
Semakin ke atas semakin terjal, tak jarang Apen dan Dimas mendorong atau menarikku di trek yang sangat terjal, dan Denza sendiri membantu Adinda. Karena kami mendaki bukan di hari weekend, jadi jalur pendakian tidak seramai saat pendakian di hari weekend.
Pukul 23.30 tepat kami menginjakkan kaki di puncak Prau. Pemandangan kabut yang luar biasa mengagumkan menyapa kami disertai hawa dingin yang membuat kami tak bisa diam saja. Para lelaki segera membangun dua buah tenda di tempat yang telah disepakati. Aku dan Adinda menjagai barang-barang lain sebelum tenda itu selesai dibangun. Ternyata lumayan banyak tenda-tenda tetangga di sana, namun tak seramai ketika weekend.
Oke, tenda sudah berdiri semua. Kami bergegas memasukkan semua barang ke tenda. Aku menempati tenda bersama Adinda. Awalnya kami berniat untuk tidur, tapi para laki-laki mengajak untuk sharing-sharing sebentar sebelum tidur. Akhirnya, kami bercengkerama sejenak sambil menikmati mie instan rebus di tengah hembusan kabut dingin puncak Prau.
Malam semakin larut. Hawa yang semakin dingin membuat kami memutuskan untuk tidur agar esok harinya bisa menyambut sunrise yang kami nanti-nanti. Kami pun tidur di dalam sleeping bag masing-masing.
Pukul 4.30 dini hari aku terbangun karena tenda tetangga yang berisik sekali menyalakan radio dengan volume yang cukup keras. Karena sudah terlanjur bangun, yasudah sekalian saja menunggu matahari terbit. Dan ternyata Denza dan Adinda juga tidak bisa tidur dengan nyenyak. Akhirnya kami berbincang-bincang hingga matahari terbit.
Sungguh sangat disayangkan, golden sunrise yang kami nanti-nantikan ternyata muncul tak sesuai harapan. Kabut yang tebal menutupi keindahannya. Namun pemandangan bukit Teletubies dan gunung-gunung lain yang terlihat menjulang seluas mata memandang. Bunga-bunga khas Prau juga memikat hati untuk membidiknya lekat-lekat. Dengan background keindahan-keindahan itu, kami pun berfoto ria di tengah hawa dingin yang sempat membuat Dimas enggan keluar dari sleeping bag hangatnya di dalam tenda.

Sunrise saat kami keluar dari tenda

Sunrise and panorama of Prau Mountain

Foto ini saya beri judul "Grab The Sun", diambil oleh Apen
Suasana sekitar tenda di pagi hari

Waktu sedang asyik berfoto, ternyata ada pendaki lain yang sejak tadi mengamatiku. Tak disangka-sangka dia adalah seorang rekan dari Unit Kegiatan Mahasiswa yang pernah aku ikuti semasa kuliah dulu. Dua orang yang kukenal dari rombongannya, Tejo dan Brian namanya. Dan ternyata letak tenda mereka pun tak jauh dari tenda kami.
Ini dia hasil kami berfoto ria, dari foto selfie sampai minta tolong orang.

Selfie-sukaesih :-P

Ini Dimas

Ini Apen

Ini Adinda

Ini Denza

Ini aku
Di atas bukit teletubies

Ini hasil merayu Tejo untuk menjadi tukang foto :D


Setelah puas berfoto ria, kami lanjut sarapan. Lagi-lagi mie instan, ya hanya itu yang kami bawa, he he he. Kali ini mie goring dan masing-masing membuat minuman hangat. Sembari menunggu matang, kami bercengkerama. Tak ingin melewatkan moment, Apen pun membuat video rekaman gaje untuk dokumentasinya, dari mulai rekaman-rekaman candid sampai video rekaan bakso boraks. Cukup menghibur jika diputar kembali. Sesekali aku berjalan-jalan dengan Adinda untuk melihat-lihat dan memotret bunga-bunga manis yang ada di sana.

Suasana tenda saat memasak

Daisy

Daisy lagi

Daisy juga

Ini kakiku, latar belakangnya Bukit Teletubies

The sky is mine! :D

Sekitar pukul 10 siang kami memutuskan untuk turun. Jalanan yang tadinya terlihat gelap, kini nampak sudah betapa curamnya ketika turun. Tak jarang aku memutuskan untuk perosotan karena takut terpeleset karena tekstur tanahnya memang liat dan licin. Beberapa kali kami juga sedikit terpeleset karena kurang konsentrasi dalam berjalan. Perjalanan turun yang kami perkirakan estimasi waktunya setengah dari perjalanan naik, ternyata sama saja, 4 jam. Kali ini pemandangan terlihat lebih memukau. Telaga Warna, Kawah Sikidang, dan perkebunan warga yang terpetak-petak rapi menjadikan perjalanan turun menjadi semakin menyenangkan.

Karena kaki sakit, Apen memutuskan untuk nyeker

Dimas dan kantong sampahnya

Adinda dan Denza di belakangnya

Pemandangan pada saat turun gunung
Kami tiba kembali di basecamp sekitar pukul 2 siang. Ternyata tempatnya sangat penuh hingga kami kehabisan tempat untuk duduk. Kami hanya bisa nyempil di dekat pintu masuk untuk sekedar menyandarkan badan hingga pada akhirnya mendapat tempat yang agak luas setelah beberapa orang pergi. Setelah kiranya cukup melepas lelah, kami memutuskan untuk pulang. Atas kesepakatan sebelumnya, dalam perjalanan pulang kami berhenti sejenak di gerbang masuk kawasan Dieng Plateau untuk berfoto di depannya. Oh iya, beberapa dari kami juga membeli Carica untuk oleh-oleh.


Mengingat perjalana yang kami tempuh akan cukup jauh, kami memutuskan untuk makan dulu di warung dekat tempat kami berteduh di hari sebelumnya. Setibanya di sana, ternyata hujan pun turun kembali dengan cukup deras. Karena tak ingin membuang-buang waktu dan mengejar waktu agar dapat mengembalikan peralatan tepat waktu, kami memutuskan untuk menerjang hujan dengan menggunakan jas hujan.
 Singkat cerita, kami tiba kembali di Jogja nyaris pukul 9 malam. Kami bergegas menuju tempat persewaan outdoor gear dan berharap masih buka untuk pengembalian barang. Dengan tampang jutek dan nada yang tak enak, kami sedikit lega penjaga persewaan mau menerima pengembalian barang-barang yang kami itu. Setelah beristirahat sejenak di kos Dimas, kami kembali ke kos masing-masing. Seingatku, aku tiba di kos sekitar pukul 11 malam dan langsung memutuskan untuk tidur setelah bersih-bersih badan.
***
Kisah jelajah di atas banyak sekali yang rumpang, karena jika kuceritakan nanti bisa-bisa menghabiskan kertas satu rim, he he he. Walaupun memang perjalanan ini lebih singkat dari sebelumnya, kali ini aku bisa membawa sendiri tas punggungku, walaupun air minum masih diungsikan, sih, hehehe.
Sekian cerita Jelajah Gunung Prau kali ini. Tunggu saja kisah jelajah-jelajah selanjutnya! Dengan kesan yang berbeda, pastinya! :D


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar