This is another latepost story ^^
--
Jelajah kali
ini adalah pendakian gunung keduaku. Ya, boleh dibilang lebih rendah
ketinggiannya, tapi lumayan lah untuk persiapan menuju pendakian-pendakian yang
selanjutnya (aamiin). Kali ini tujuannya adalah chasing sunrise di puncak Gunung Prau, Dieng, Wonosobo, Jawa
Tengah. Penasaran dengan kisah perjalannya? Mari, akan saya ceritakan mulai
paragraf selanjutnya.
***
Seperti biasa,
akan kuceritakan bagaimana awalnya aku bisa ikut serta dalam perjalanan jelajah
kali ini. Tanggal (lupa) malam, seperti biasa aku selalu menyimak recent update di sebuah perpesanan
instan ponselku. Kulihat tiga teman perjalananku di Merbabu tempo hari, Apen,
Denza, dan Dimas, memasang status yang begitu kompak. Ketiganya menuliskan
kurang lebih sama seperti ini, “Gunung Prau, 17 Juni 2014, siapa ikut?”. Nah,
begitu membaca itu aku langsung bergegas mengomentari status mereka
masing-masing. Tanggapan yang berbeda namun seirama, mereka menawariku untuk
serta dan kemudian dibuatlah kembali grup percakapan bersama.
Dari
percakapan bersama itu, Denza mengusulkan untuk mengajak Adinda. Adinda adalah
adik kelas kami sewaktu SMA dulu sekaligus mantan kekasih dari Denza. Wah, ada
bau-bau permodusan nih! Hingga akhirnya Apen dan Dimas pun turut mengajak orang
lain (lagi) dan sempat terjadi miss
communication sana-sini yang sempat juga membuatku ingin batal ikut di
malam sebelum hari H jelajah ini. Namun, akhirnya di-fix-kan pesertanya adalah Apen, Denza, Dimas, aku, dan Adinda,
dengan meeting point seperti jelajah
yang lalu, di kos Dimas.
Keesokan
harinya, pukul 9 tepat aku dan Adinda sudah tiba di kos Dimas dan melihat belum
ada seorang pun yang tiba di sana, padahal perjanjiannya adalah berkumpul pukul
9 pagi. Dimas pun sedang pergi entah ke mana. Sambil duduk-duduk di teras, aku
menghubungi ketiga lelaki itu, sampai akhirnya Dimas datang dengan belum mandi
dan bersiap-siap. Seletah menunggu cukup lama, akhirnya semua berkumpul sekitar
pukul 11 siang. Apen dan Dimas segera pergi ke persewaan outdoor gear untuk menyewa peralatan yang belum ada. Setelah itu,
kami masih bongkar pasang tas dan carier masing-masing.
Kami
memutuskan untuk berangkat sekitar pukul 12.30 siang. Meleset jauh dari rencana
awal? Memang sudah diperkirakan begitu. Dengan menggunakan kendaraan roda dua,
kami berbonceng-boncengan menelusuri jalanan menuju Wonosobo. Kami memilih
jalur yang lumayan menantang, bergeronjal, berlubang-lubang, namun itu jalur
yang lumayan lebih singkat untuk menjangkau Wonosobo.
Di daerah
entah-di-mana kami beristirahat sejenak nyelehke
bokong karena terasa pegal sekali setelah menelusuri jalanan tidak begitu
baik itu. Kemudian, perjalanan yang tak bengangsur mudah kami lanjutkan hingga
kami tiba di Desa Kejajar, Dieng, Wonosobo. Di sana kami terjebak hujan.
Seperti perkiraan sebelumnya, karena Wonosobo itu rawan hujan, kami tidak
keheranan terkena hujan di sana. Kami berteduh di sebuah teras bangunan (entah
itu bangunan apa), sekalian menghangatkan diri dengan teh dan kopi yang kami
pesan di warung yang bersebelahan dengan bangunan itu.
 |
| Jalan di depan tempat kami berteduh, di Desa Kejajar |
Cukup lama
kami berteduh, berbincang dengan warga sekitar yang turut berteduh pula di
situ, hingga tak terasa hujan sudah reda. Sekitar pukul 15.30 kami melanjutkan
perjalanan menuju Patakbanteng, lokasi di mana
basecamp pendakian Prau itu berada. Melihat langit yang kemudian
cerah, kami menjadi semakin bersemangat kembali untuk mendaki.
Setibanya di
basecamp pendakian Prau, kami
mengistirahatkan sejenak badan kami setelah mengurus administrasi pendakian.
Tak terasa sudah menginjak waktu Maghrib. Kami memutuskan untuk bersiap naik.
Sebelum naik, tak lupa kami makan malam terlebih dahulu di sebuah angkringan
yang berada di dekat
basecamp
Patakbanteng. Setelah itu, kami bersiap naik dan mengawalinya dengan doa
bersama dan tos yang sama dengan pendakian
Merbabu, “Godhong mlinjo arane?? SOOOO!!!”
 |
| Selfie di dalam basecamp bersama Adinda |
 |
| Waktu makan di angkringan (makannya di depan rumah orang he he) |
Kami berlima
melangkah dengan santai sembari bercengkerama. Di awal perjalanan kami melewati
jalan cor-coran yang membelah
pemukiman warga setempat. Sempat kami salah jalan karena tidak memerhatikan petunjuk
arah, dan beruntung kami diingatkan oleh warga setempat yang kebetulan berada
di situ. Tak berapa lama kami menelusuri pemukiman warga, kami disuguhi jalanan
yang dibuat dari batu-batu yang ditata rapi membentuk sebuah jalan menanjak.
Disitulah aku mulai merasa payah. Seperti biasa, beberapa kali aku meminta
berhenti untuk mengatur napas. Dan pada akhirnya aku meminta Apen untuk
membawakan air mineral milikku dan ditukar dengan gas.
Tak lama
kemudian, kami tiba di Pos 1. Di pos 1 terdapat sebuah gubuk yang difungsikan
sebagai pos ojek yang menawarkan jasa untuk pengangkutan dari Pos 1 ke basecamp atau sebaliknya. Dari Pos 1,
kami tak melihat jalan batu lagi, melainkan kami langsung diperlihatkan
tantangan selanjutnya, yaitu tanah menanjak yang berbentuk anak tangga.
Setelah
beristirahat sejenak, kami dengan perlahan dan hati-hati menelusuri setapak
tanah itu. Ternyata itu adalah jalur yang membelah perkebunan milik warga
sekitar. Jalur itu sekaligus jalur perjalanan petani-petani yang hendak berkebun.
Sembari menikmati pemandangan perkebunan di malam hari, kami menelusuri setapak
demi setapak jalur sempit itu.
Semakin jauh
kaki kami melangkah, semakin terjal jalur yang kami lalui. Bahkan kami tidak
dapat menemukan bonus yang cukup panjang seperti pendakian Merbabu lalu. Full tracking tanpa bonus, kata seorang
teman yang sebelumnya mendaki Prau, memang benar. Kami pun sempat kepayahan
menaklukkan tanjakan demi tanjakan yang licin karena basah dan jenis tanah yang
liat membuat kami mengalami beberapa kesulitan untuk menapakinnya. Ditambah
lagi, kabut yang sangat tebal membuat kami terengah-engah dan kedinginan.
Beberapa kali
kami mengistirahatkan diri. Kami duduk enyandarkan diri di pohon atau gundukan
tanah, sembari mempersilakan rombongan lain untuk menyalip kami. Dikarenakan
jalur yang cukup sempit, kami harus menepi agar pendaki yang akan naik dapat
melewati jalur tersebut.
Semakin ke
atas semakin terjal, tak jarang Apen dan Dimas mendorong atau menarikku di trek
yang sangat terjal, dan Denza sendiri membantu Adinda. Karena kami mendaki
bukan di hari weekend, jadi jalur
pendakian tidak seramai saat pendakian di hari weekend.
Pukul 23.30
tepat kami menginjakkan kaki di puncak Prau. Pemandangan kabut yang luar biasa
mengagumkan menyapa kami disertai hawa dingin yang membuat kami tak bisa diam
saja. Para lelaki segera membangun dua buah tenda di tempat yang telah
disepakati. Aku dan Adinda menjagai barang-barang lain sebelum tenda itu
selesai dibangun. Ternyata lumayan banyak tenda-tenda tetangga di sana, namun
tak seramai ketika weekend.
Oke, tenda
sudah berdiri semua. Kami bergegas memasukkan semua barang ke tenda. Aku
menempati tenda bersama Adinda. Awalnya kami berniat untuk tidur, tapi para
laki-laki mengajak untuk sharing-sharing sebentar
sebelum tidur. Akhirnya, kami bercengkerama sejenak sambil menikmati mie instan
rebus di tengah hembusan kabut dingin puncak Prau.
Malam semakin
larut. Hawa yang semakin dingin membuat kami memutuskan untuk tidur agar esok
harinya bisa menyambut sunrise yang
kami nanti-nanti. Kami pun tidur di dalam sleeping
bag masing-masing.
Pukul 4.30
dini hari aku terbangun karena tenda tetangga yang berisik sekali menyalakan
radio dengan volume yang cukup keras. Karena sudah terlanjur bangun, yasudah
sekalian saja menunggu matahari terbit. Dan ternyata Denza dan Adinda juga
tidak bisa tidur dengan nyenyak. Akhirnya kami berbincang-bincang hingga
matahari terbit.
Sungguh sangat
disayangkan, golden sunrise yang kami
nanti-nantikan ternyata muncul tak sesuai harapan. Kabut yang tebal menutupi
keindahannya. Namun pemandangan bukit Teletubies dan gunung-gunung lain yang
terlihat menjulang seluas mata memandang. Bunga-bunga khas Prau juga memikat
hati untuk membidiknya lekat-lekat. Dengan background
keindahan-keindahan itu, kami pun berfoto ria di tengah hawa dingin yang
sempat membuat Dimas enggan keluar dari sleeping
bag hangatnya di dalam tenda.
 |
| Sunrise saat kami keluar dari tenda |
 |
| Sunrise and panorama of Prau Mountain |
 |
| Foto ini saya beri judul "Grab The Sun", diambil oleh Apen |
 |
| Suasana sekitar tenda di pagi hari |
Kami tiba
kembali di basecamp sekitar pukul 2
siang. Ternyata tempatnya sangat penuh hingga kami kehabisan tempat untuk
duduk. Kami hanya bisa nyempil di
dekat pintu masuk untuk sekedar menyandarkan badan hingga pada akhirnya
mendapat tempat yang agak luas setelah beberapa orang pergi. Setelah kiranya
cukup melepas lelah, kami memutuskan untuk pulang. Atas kesepakatan sebelumnya,
dalam perjalanan pulang kami berhenti sejenak di gerbang masuk kawasan Dieng
Plateau untuk berfoto di depannya. Oh iya, beberapa dari kami juga membeli
Carica untuk oleh-oleh.
Mengingat
perjalana yang kami tempuh akan cukup jauh, kami memutuskan untuk makan dulu di
warung dekat tempat kami berteduh di hari sebelumnya. Setibanya di sana,
ternyata hujan pun turun kembali dengan cukup deras. Karena tak ingin
membuang-buang waktu dan mengejar waktu agar dapat mengembalikan peralatan
tepat waktu, kami memutuskan untuk menerjang hujan dengan menggunakan jas
hujan.
Singkat cerita, kami tiba kembali di Jogja
nyaris pukul 9 malam. Kami bergegas menuju tempat persewaan outdoor gear dan berharap masih buka
untuk pengembalian barang. Dengan tampang jutek dan nada yang tak enak, kami
sedikit lega penjaga persewaan mau menerima pengembalian barang-barang yang
kami itu. Setelah beristirahat sejenak di kos Dimas, kami kembali ke kos
masing-masing. Seingatku, aku tiba di kos sekitar pukul 11 malam dan langsung
memutuskan untuk tidur setelah bersih-bersih badan.
***
Kisah jelajah
di atas banyak sekali yang rumpang, karena jika kuceritakan nanti bisa-bisa
menghabiskan kertas satu rim, he he he. Walaupun memang perjalanan ini lebih
singkat dari sebelumnya, kali ini aku bisa membawa sendiri tas punggungku,
walaupun air minum masih diungsikan, sih, hehehe.
Sekian cerita
Jelajah Gunung Prau kali ini. Tunggu saja kisah jelajah-jelajah selanjutnya! Dengan
kesan yang berbeda, pastinya! :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar